FTISLAND & MBLAQ I News Update I Twitter Update I Pictures Update

[HongYe’s Fanfic] “Bonjour! Madame Croissan” (ENDING PART)!

.:: Final Part ::.

  • Title: Bonjour! Miss Croissant
  • The Author: TanMayang (FB: Intan Mayang Hamidi, twitter: @tan_mayan931210)
  • The Casts: Lee Hongki, Park Shin Hye, FT Island, Ham Eunjung.
  • Genre: Romance
  • Theme Songs: -FT Island : Sunshine Girl, Baby Love, Marry me & I Confess, -Shania Twain: Still The one, -D’ Cinnamons: Loving   You, -Jonas Brother: Gotta Find You, and the last -Justin Derulo: It Girl.

“kringg!!!!!” alarm kamar Hongki berdering memenuhi ruang kamar tersebut, ia sengaja memasang alarm dikamarnya karena ingin rasanya ia bangun pagi dan jalan-jalan pagi menggunakan mobil. Baru saja kemarin ia tiba di Seoul, semua kegiatan nya sudah berakhir dan sekarang ia dan teman-temannya siap untuk menentukan tempat untuk berlibur.

Ia terbangun dan duduk sejenak diranjangnya, melihat lampu ponselnya berkedip sedari tadi yang menandakan ada panggilan masuk atau pesan. Ternyata pesan-pesan tersebut dari Chocoball yang mengundangnya untuk jalan-jalan hari ini.

Setelah membereskan tubuhnya, ia langsung turun ke lantai bawah dan melihat temannya yang lain sedang sarapan bersama. Jonghun tersenyum sambil menawarkan kursi untuknya, ia rasanya ingin tapi ia sudah berencana untuk sarapan pagi diluar. “maaf aku tidak bisa sarapan bersama kalian, aku mau sarapan diluar hari ini” ucapnya dengan sedikit berat, jarang mereka bisa seperti ini. Orang-orang dimeja makan saling bertukar pandang dan memasang wajah bingung. Tanpa banyak menunggu ia langsung meninggalkan mereka.

Ia langsung menepikan mobil setiba ditempat tujuan, matanya memandang aneh pada bangunan itu, sepi berbeda dari biasanya, ya walaupun restoran itu jarang sekali ramai tapi tidak pernah se-sepi ini. Ia keluar dari mobil dan berjalan menuju pintu masuk, ia begitu terkejut melihat ada tulisan “disewakan”, keningnya mengernyit membaca tulisan itu. “whae iraeo?” gumamnya kecil. Begitu banyak kenangan yang dialaminya bersama restoran ini.

Tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya dari belakang, spontan ia menoleh kebelakang dan berdiri dihadapannya seorang lelaki bertubuh jangkung yang sudah familiar dimatanya yang biasa menyambutnya dengan ramah setiap datang ke restoran ini, benar itu pelayan favoritnya itu, Jack, lelaki itu tersenyum menatapnya. Penampilannya berbeda dari dia sebagai pelayan, ia terlihat lebih cool dengan pakaian santai seperti ini, walaupun wajah kepala- empatnya jelas terlihat. “Bonjour sir…” sapanya.

Hongki belum membalas salam lelaki itu, tiba-tiba ia tergerak untuk memeluk orang tersebut. Begitulah cara ia memperlakukan orang yang dikenalnya, terlihat berlebihan tapi inilah asli diri nya. “ Bonjour! ” balasnya sambil melepas pelukannya.  “apa yang terjadi dengan restoran ini ? ” tanyanya.

“ehm, apa kau kemari mau sarapan?” lelaki itu balas bertanya.

Ia hanya merespon sambil mengangguk, memang benar perutnya begitu keroncongan sekarang. “aku sudah dua bulan tidak kemari, aku rindu ingin makan disini” tambahnya.

“kau mau ikut aku?”

“kemana?”

“ikut saja!” ucap pelayan itu sambil memimpin Hongki berjalan.

“kita pakai mobil saja” ajak Hongki dan pelayan itu setuju.

Mereka menepi didepan sebuah gedung apartemen kecil yang sudah tua. Pelayan itu mengajak Hongki untuk datang kerumahnya. Mereka masuk kedalam ruang apartemen dilantai tiga. Tidak begitu banyak perabotan diruangan kecil tersebut, hanya sofa lusuh berselimut kain wol bermotif zebra, dan perabotan dapur yang tampak menempel memenuhi dinding dapurnya. Ia langsung duduk disofa tersebut, “kau tinggal sendirian?” tanya nya sambil menyapu pandangannya keseluruh ruangan.

“ya, kau mau sarapan apa sir?”

“jujur aku tidak begitu tahu nama makanan Perancis, kau juga tidak perlu repot-repot” balasnya. “boleh aku tahu kenapa restoran kalian bisa tutup?” tanyanya.

“ehm, masalah biasa, bos kami tidak sanggup lagi untuk membayar biaya sewa tempat dan segala pajak restoran tersebut. Bosku memilih menutup restoran tersebut dan memilih kembali pulang ke Paris, ia juga memberi kami ongkos pulang ke Paris”

Hongki hanya mengangguk mengerti. Matanya seketika tertarik pada foto-foto yang tertempel dipintu kamar, tampak difoto tersebut pelayan itu dengan seorang gadis muda cantik, dirangkulnya sangat hangat sehangat cahaya lampu yang dipancarkan menara Eiffel. Tidak mungkin ini pacarnya, ia mencoba bertanya pada lelaki itu langsung “siapa gadis difoto ini sir?” tanya nya.

Lelaki itu mendongak melihat Hongki, “itu gadisku” jawabnya sambil tersenyum. “bagaimana menurutmu? Cantik bukan?” tanya nya dengan sedikit terkekeh.

Mata Hongki melebar mendengar jawaban lelaki itu. ia masih menatap tidak percaya kepada pelayan itu, mengencani gadis yang dibawah umur, begitu diharamkan bagi dirinya sendiri.

Pelayan itu tertawa melihat Hongki yang tertegun, “maksudku gadis itu putriku” terang pelayan itu.

Hongki kesal begitu tahu dirinya hanya dikerjai, ia berjalan mendekati lelaki itu dan duduk dikursi dapur yang berhadapan dengan meja dapur. “apa dia tinggal di Paris?” tanyanya hati-hati.

“ya, foto itu diambil sewaktu usianya sebelas tahun, dan sekarang usianya sudah masuk dua puluhan, berarti hampir sepuluh tahun aku tidak bertemu dengan gadisku itu” ucapnya dengan sedikit melengkungkan senyum  tegar.

Hongki tercekat mendengar angka sepuluh tahun tersebut, tidak bertemu dua bulan dengan Shin Hye saja sudah membuatnya rindu setengah mati. Bagaimana bisa setegar itu seorang bapak tidak bertemu dengan putrinya selama bertahun-tahun, ia rasanya ingin tahu apa rahasia orang ini bisa santai dan seperti tidak ada beban dalam hidupnya.

“dia tinggal bersama istrimu? Selama sepuluh tahun kau tidak bertemu mereka, bagaimana mungkin” ungkapnya sedikit kurang percaya.

“ya dia tinggal bersama mantan isteriku, kalau ia ikut aku, aku yakin aku tidak akan bisa mewujudkan cita-citanya menjadi desainer” jawabnya sambil menyodorkan secangkir kopi latte dengan ditemani sandwich keju yang aromanya begitu menggoda.

Tanpa menunggu lagi Hongki langsung menyesap kopi lezat tersebut dan melahap sandwich yang rasanya selangit itu. tidak ada bedanya dengan makanan direstoran, pikirnya. “lalu kenapa kau bisa menetap di Korea seperti ini?” tanyanya dengan mulut terus mengunyah sisa sandwich dimulutnya.

“karena uang. Aku mau saat pulang dari sini aku sudah membawa banyak uang dan bisa mengajak putriku jalan-jalan ke Swiss dan sepertinya keinginanku ini akan segera terwujud, minggu depan aku sudah akan pulang ke Paris” ungkapnya bahagia.

“mwo? Kau mau ke Paris? Apa kau akan kembali ke Korea?” tanyanya.

Pelayan itu tertunduk menatap meja dapur sambil menggeleng, “tempatku adalah disana, sejauh apapun merantau aku pasti akan merindukan kampung halamanku. Aku akan menetap disana dan menghabiskan sisa tenagaku yang sedikit ini untuk membahagiakan putriku” ucapnya bangga.

Ia sangat setuju dengan pendirian orang itu, memang begitulah seharusnya. Ia terus melanjutkan kegiatan makan nya dan kali ini sudah sandwich yang ketiga ia masukan kedalam mulut.  saat sedang asyik dengan mengunyah, tiba-tiba ia terpikir suatu ide cemerlang, “apa aku boleh ikut kau? Ke Paris?” tanyanya.

**

“Shin Hye!! Aku sudah kirimi kau banyak pesan di twitter tapi tidak kau balas!! Kemana saja kau, kenapa kau tidak pernah muncul lagi di twitter?! Padahal aku mau curhat dengan mu semalam” gerutu Philip yang baru saja duduk disampingnya.

Shin Hye masih sibuk dengan kegiatan menjahit nya, Ia tidak mau menyiakan waktu nya dengan bersenang-senang dengan hal seperti itu, tujuannya kemari untuk belajar dan jarang sekali ia mendapat model pembelajaran yang lebih menekankan praktik selama ia kuliah di Korea.

Paris menyegarkan dahaganya selama ini, ia bosan dengan model belajar Korea yang lebih banyak teorinya dibanding praktik. Alasannya meninggalkan twitter juga karena Hongki, entah ia marah atau cemburu pada pacar nya itu. Ia sudah mengirimi banyak pesan yang menekankan kalau ia adalah Park Shin Hye tapi tetap saja tidak mendapat respon dari orang itu, dan alasan lainnya adalah foto waktu itu yang masih sering membuatnya perih setiap terbayang foto tersebut,  jadi ia memutuskan untuk lebih baik tidak mau tahu di banding ia tahu tapi malah membuatnya tambah sakit hati.

Ia menghentikan mesin jahitnya dan memandang wajah Philip yang sudah berlipat kesal. “maaf Philip…, kau mau curhat apa? Aku sedang malas membuka twitter saat ini” ungkapnya sambil bersandar santai dikursi jahit tersebut.

“ah sudahlah lupakan! Aku sudah curhat dengan Aubrey semalam lagipula tidak terlalu penting masalahnya. Oh ya, kata Aubrey pacarmu itu artis di Korea ya?” tanya nya dengan sedikit berbisik, takut didengar teman disamping kiri kanan mereka.

Shin Hye mengangguk beberapa kali dengan sedikit tersenyum malu. “tapi aku sekarang sedang tidak mood membahasnya” desahnya, napasnya meniupkan poninya yang baru saja dipotong lurus beberapa hari yang lalu.

Philip mengangkat sebelah alisnya dengan mulut bergumam penasaran.

“aku kesal dengannya, aku sudah mengiriminya pesan di twitter tapi tidak pernah dibalasnya, itulah kenapa aku malas membuka twitterku” gerutunya.

Philip mengangguk menanggapi keadaan temannya itu, “tapi tidak perlu sampai malas membuka twittermu dong, kami kan komunikasi denganmu hanya lewat twitter” decaknya. “lagipula kau harus pahami kalau pacarmu itu artis dan sangat terkenal sudah pasti ada begitu banyak orang mencintainya dan mengiriminya banyak pesan dalam selang detik, kau harus bersabar Shin Hye” tegas Philip yang mulai berlagak seperti sudah banyak pengalaman hidup. “jangan turuti emosimu, tapi turutilah kata hatimu! Hati juga bisa kecewa kalau terus dibantah omongannya” tambah Philip sambil menepuk pundak Shin Hye.

Shin Hye tersenyum mendengar ungkapan barusan, ia pernah mendengarnya sebelumnya dari Eunjung. “aku sangat rindu padanya Philip, kau tahu, belum pernah aku menyukai orang lain seperti ini, begitu stress, kadang histeris dan menangis sendiri. Dia begitu hebat bagiku” ucapnya sambil menatap langit-langit.

**

“apa alasanmu ini ke Paris karena ingin bertemu Park Shin Hye saja?” tanya Jonghun. Mereka (FT Island) ikut mengantar Hongki ke bandara.

“entahlah Jonghuni..” desahnya panjang. “tempatnya saja aku tidak tahu! Mau menelponnya tapi ponselnya tidak pernah aktif” gerutunya kesal. “aku Cuma mau berlibur beberapa hari disana” ucapnya cepat. Ia sempat merangkul teman terdekatnya itu lalu pergi meninggalkan mereka.

Hongki melambaikan tangannya begitu juga Jack yang akan menjadi penunjuk jalannya saat di Paris. Pelayan itu bilang mereka akan segera tiba di Paris besok subuh, entah yang diingatannya hanya wajah Shin Hye setiap membayangkan Paris. Mungkin karena gadis itu sering mengelu-elukan ingin jalan-jalan ke Paris

***

Keesokan paginya di Paris…

Shin Hye benar-benar merasa senang pagi ini, rasanya sudah lama sekali Ia tidak lari-pagi seperti ini, terakhir kali adalah waktu duduk dibangku SMA dan baru sekarang ia mencobanya lagi. Kakinya terasa sangat berat sekali mungkin karena ia memang jarang sekali berolahraga. Setelah berputar selama tiga puluh menit mengelilingi taman yang luas tersebut, ia mendapat delapan kelilingan, ya walaupun tidak sepenuhnya berlari mereka banyak tertawanya saja sepanjang berlari. Mereka memutuskan untuk istirahat dibangku taman panjang yang menghadap ke sebuah danau kecil yang cantik. Suara nafas mereka terdengar sangat jelas.

Philip melepaskan earphone dari telinganya dan mengeluarkan Ipad dari dalam hoodienya. Shin Hye berjalan mendekati lelaki itu berniat ingin meminjamnya. “kau sedang main apa?” tanyanya terlebih dahulu lalu mengintip, ternyata Philip sedang membuka twitter. Ia jadi tertarik untuk membuka twitternya juga, sudah lama sekali ia tidak membuka twitternya itu dan ingin tahu apakah ada perubahan didaftar followernya. “Philip aku boleh pinjam Ipadmu tidak? Aku penasaran ingin membuka twitterku” bujuknya.

“ya tentu saja boleh, ini” Philip menyodorkan  benda persegi tersebut pada Shin Hye.

Twitternya langsung terbuka seketika setelah ia memasukan nama akun beserta sandinya. Ia langsung memeriksa balasan pesan yang masuk,  seperti biasa tidak ada balasan dari namjah itu. Entah kenapa ia jadi ingin melihat twitter Hongki hanya untuk sekedar melihat kabar terbarunya.  Ia sekarang juga lebih menerima jika ada nama Im Gyuri didaftar twitt terbaru namjahnya itu.

Telunjuknya menggeserkan naik layar Ipad tersebut dan muncullah beberapa twit terbaru Hongki.

15 menit yang lalu:

Siene neomu yeppeota…^^

30 menit yang lalu:

Pantas saja yeojah-chinguku bersihkeras ingin kemari! Paris daebak!

Jarinya berhenti membaca deretan hangul dilayar itu, jantungnya berpacu cepat berlomba dengan aliran darah dan nafas nya yang masih tersengal. Ia membuka foto yang baru saja diunggah Hongki beberapa menit yang lalu. Seperti sedang menunggu pengumuman masuk universitas, ia menunggu dengan jantungnya yang berdebar kuat. Mulutnya menganga ketika melihat foto tersebut terbuka yang menunjukan Hongki sedang berdiri dipuncak menara Eiffel dengan latar belakang pemandangan Siene dari atas menara Eiffel.

“Hongkia…kau disini sekarang” ratapnya kecil lalu mengembalikan Ipad itu kembali ke Philip dan dengan secepatnya ia berlari meninggalkan teman-temannya menuju menara Eiffel yang jaraknya tidak terlalu jauh dari gedung Universitas. Ia tidak tahu kenapa kakinya bisa lari sekencang ini padahal tadi ia benar-benar merasa kelelahan, rasa ingin bertemu Hongki mengalahkan rasa kejang yang menjalari kakinya itu.

Ia berlari terus menerobos jalanan trotoar yang lumayan ramai tersebut, sekarang menara itu sudah terlihat jelas didepan matanya. Tanpa disadarinya ia sudah tiba dibawah menara tersebut, matanya menerawang mencari sosok namjah berjas dengan motif leopard, Ia melihat Hongki mengenakan jas seperti itu difoto yang baru saja diunggah namjah tersebut. Ia berkeliling mencari tapi belum juga menemukannya.

Perasaan penasarannya itu terus menggiringnya berlari menuju tepi sungai Siene yang tidak terlalu jauh dari Eiffel. Akhirnya ia sampai ditepi sungai nan indah tersebut, matanya terpaku pada sosok namjah yang sedang menghirup kopi dari gelas plastic dan tampak wujud Hongki dari sisi samping, ia bisa melihat dengan jelas alis tebal Hongki dan garis wajah yang sangat hapal dimatanya itu. Ia tersenyum puas melihat orang yang dicari-carinya tersebut sudah berada didepan matanya. Ia menahan matanya untuk tidak mengeluarkan airmatanya sekarang dan tanpa menunggu lama ia berlari menghampiri namjah itu.

“Ketemu” seru nya histeris. Sekarang ia sudah berdiri dibelakang namjah itu, rasanya melihat pundak Hongki saja ia sudah lega setengah mati. Perasaan ingin memeluk Hongki dari belakang terus bergejolak.

**

Hongki berdiri ditepian sungai Siene yang memukau tersebut sambil menyesap kopi hangat yang asapnya sedari tadi mengepul menerjang hidungnya. “Ssinz-ah..neo eodiga?” bisiknya kecil, ia sekarang sudah berada ditempat yang sama dengan Shin Hye tapi malangnya, ia tidak tahu dimana persis yeojahnya itu berada. Ia meminta Jack untuk mengantarnya dulu kemari sebelum menuju rumah Jack yang katanya lumayan jauh dari kota ini.

Berdiri dibawah menara Eiffel tadi benar-benar membuatnya seolah sudah sangat dekat dengan Shin Hye. Sewaktu di Korea yeojahnya tersebut terus mengeluh-eluhkan menara itu, ia patut berterima kasih dengan orang yang membangun menara cantik ini, berkat ini ia bisa menjalin hubungan dengan yeojah cantik yang mencuri hatinya sejak pertama kali bertemu itu.

“KETEMU!” terdengar suara pekikan yeojah dari belakang pundaknya yang membuatnya tersentak dari lamunannya.

Dengan cepat ia berpaling menoleh ke belakang kearah sumber suara itu dan ternyata itu Park Shin Hye yang sedang berjongkok memegang lutut menatapnya dengan nafas tersengal-sengal, yeojah itu tersenyum tipis padanya. Keringat jatuh dari ujung poni Shin Hye.

Ia menempelkan kopi panas tersebut ke pipinya, memastikan apakah yang dihadapannya ini hanya ilusinya semata atau benar-benar nyata, “anieo! Ini nyata” gumamnya kecil dengan mata terus terpaku menatap wajah Shin Hye.

“Ssinz-ah” hanya gumaman panjang itu yang keluar dari mulutnya. Ia masih belum percaya, darimana yeojahnya itu tahu ia berada disini sekarang.

Shin Hye berdiri tegap dengan sedikit mendongakan kepala menatap wajah Hongki. Yeojah itu terus tersenyum dan mata yeojahnya ini juga berkaca-kaca saat mata mereka bertemu. “Neo! Kenapa kau tidak bilang padaku, kalau kau sekarang berada di Paris!”ia menunjuk hidung Hongki dengan telunjuk mungilnya, suara gadis itu terputus-putus seperti habis berlari keliling lapangan seratus kali.

Ia tidak memperdulikan pertanyaan Shin Hye barusan,  ia hanya melangkahkan kakinya selangkah ke depan membuatnya hanya berjarak beberapa centi dari yeojah itu. Tangannya bergerak melingkar hendak memeluk yeojah tersebut tapi, “BUK!!!” gadis itu malah menepis tangannya dan melayangkan tinjunya kewajah Hongki.

“whaeo? Kenapa kau memukulku Shin Hye ah..” jeritnya kearah yeojah yang sedang menatapnya kesal. Ia bingung kesalahan apa yang diperbuatnya sehingga membuat gadis ini begitu marah.

Shin Hye berjongkok mendekatkan wajahnya ke wajah Hongki yang terjatuh ketanah, tampak kemerahan dibagian hidung namjah itu dampak dari pukulan kerasnya tadi. Ia menjulurkan tangannya pada Hongki, dengan cepat namjah itu menerimanya lalu berdiri kembali, sekali lagi ia berniat melayangkan tinjunya diperut Hongki tapi gagal karena namjah itu berhasil menggenggam pergelangan tangannya. Alasan ia memukul namjah itu hanya untuk menumpahkan kekesalannya yang tertahan selama ini terhadap Hongki.

“Hya!!!! Kau ini kenapa?, baru bertemu sudah memukulku seperti ini!” protesnya pada Shin Hye sambil terus memegang pergelangan tangan kanan Shin Hye.

Shin Hye menarik paksa tangannya itu dengat tatapan mata yang masih kesal, “Im Gyuri! Nugu?” tanyanya dengan nafas memburu dan sekujur tubuhnya bergetar karena menahan tangisan yang sedari tadi ingin diledakannya

Hongki bisa merasakan emosi tertahan Shin Hye, ia berdecak senang, Shin Hye marah seperti ini karena Gyuri! Baru kali ini ia benar-benar merasa seperti namjah-chingunya Shin Hye yang sebenarnya. “kau cemburu ya?” godanya dengan sambil tertawa terkekeh yang membuat matanya melengkung seperti pelangi.

“ani!” kilah Yeojah itu dengan sambil melengoskan wajah.

“lalu? Apa alasan kau memukulku seperti tadi dan bertanya siapa Gyuri?” Hongki mengangkat sebelah alisnya dan membungkuk mendekatkan wajahnya pada Shin Hye yang sudah bersemu merah.

“ya, aku benar-benar kesal karenamu. Kau tidak pernah merespon pesanku selama ini, kau neomu nappeun namjah!” ucapnya geram.

“pesan?” Ia benar-benar bingung maksud ucapan yeojah ini barusan. “kapan kau mengirimiku pesan? setahuku, yang ada aku terus mencoba menghubungimu tapi ponselmu tidak pernah aktif!” gerutunya.

“ponselku disita! Kami dilarang menggunakan telpon selama sekolah disana” ucapnya geram, lalu “Aku mengirimimu banyak pesan lewat twitter tapi tidak ada satu pun yang kau balas, sedangkan Gyuri, kau terus membalas pesan darinya” cerocosnya tanpa memberi kesempatan Hongki untuk menyela.

“twitter? Kau memfollow twitterku?” ia terkejut mendengar pernyataan Shin Hye barusan.

“iya!” jawab Shin Hye ketus.

“mianhae Ssinz ah.. kau tahu kan yang mengirimiku pesan itu sangat banyak. Bahkan pesan dari temanku saja kadang tidak terbalas karena saking banyaknya, aku tidak bisa membaca dan membalasnya satu per satu, aku harap kau mengerti” jelasnya sambil menggenggam tangan yeojah-chingunya itu erat.

Respon dari Shin Hye mendengar penjelasannya barusan hanya anggukan singkat semata, ada sinar ketidak puasan yang dipancarkan dari tatapan yeojah itu. Ia tahu yang membuat yeojah-nya begitu marah bukan soal twitter yang tidak dibalas tapi Im Gyuri. Ia juga yakin Shin Hye tahu mengenai Im Gyuri juga lewat twitter, ia menyadari memang akhir-akhir ini sering ngobrol dengan mantan pacarnya itu ditwitter dan juga beberapa fotonya bersama Gyuri itu juga diunggah bersamaan.

“mengenai Gyuri…” Ia berhenti sejenak sambil membasahi bibirnya dan mata Shin Hye  menatapnya antusias menunggu lanjutan omongannya barusan, “dia memang mantan pacarku tapi aku berani bersumpah bahwa tidak ada apa-apa lagi diantara kami sekarang dan hubungan kami murni teman” tambahnya.

Shin Hye terlihat masih meragukan pernyataannya barusan, gadis itu hanya menunduk sambil menggigit bibir bawahnya.

“kau masih belum mempercayai perkataanku barusan?” tanyanya sambil menangkupkan kedua telapak tangannya  dikedua sisi pipi tembam Shin Hye yang terasa hangat ditelapaknya yang dingin sembari mengangkat sedikit wajah gadis itu agar melihat matanya.

Ia mendesah panjang, “Gyuri-nuna dan aku hanya berteman, dia sudah kuanggap seperti nuna-ku sendiri, dia juga tahu mengenai kau dan ingin sekali aku mengenalkanmu padanya” jelasnya didepan wajah gadis itu yang mungkin hanya berjarak sekitar tiga senti dari wajahnya.

Shin Hye menatap lekat matanya, butiran air kecil mengalir dari sudut matanya yang bulat, membasahi telapak tangan Hongki, dan seulas senyum puas terpancar dari wajah gadis itu. “arasoyo, aku percaya padamu” ucapnya dengan sambil menaruh kedua tangannya diatas tangan Hongki yang masih menangkup dipipinya. “mian Hongkia..aku sudah tidak mempercayaimu” isaknya.

Perasaannya begitu puas melihat Shin Hye yang akhirnya mengerti dan kembali tersenyum, dengan satu gerakan cepat ia menarik Shin Hye kedalam pelukannya, pelukan yang erat dan hangat yang selama ini selalu hanya ada dikhayalannya saat membayangkan kalau bertemu Shin Hye. Terdengar suara tangisan gadis itu dari dalam pelukannya, dan itu semakin membuatnya mendekap gadisnya itu lebih erat lagi tanpa memperdulikan gadis itu bisa bernafas atau tidak saking kuatnya.

Hongki melepaskan pelukannya dan mencengkram kedua sisi pundak Shin Hye sambil tersenyum angkuh. “Mwo ya? Park Shin Hye yang kukenal tidak cengeng seperti ini, dia keras kepala, ceria, berani dan sedikit angkuh, itulah yang membuatku jatuh hati padanya” ucapnya, “Jagia… ayo tersenyum” Ia mengeluarkan aegyo terbaiknya untuk membuat Shin Hye tertawa kembali dan ternyata itu berhasil. Ia mendekatkan wajah Shin Hye lebih dekat dengannya lalu mengecup lama puncak kepala yeojah cantik itu.

“Oh my God! Kali ini aku benar-benar terharu melihat adegan ini” Jack datang tiba-tiba didepan mereka dengan sambil mulut menganga. “wah, kau benar-benar beruntung Sir bisa bertemu Madame bermata cantik ini, kalian memang ditakdirkan untuk bersama selamanya” ungkapnya berlebihan.

Mereka berdua spontan melepaskan pelukannya begitu Jack muncul dihadapan mereka. Shin Hye mengaitkan lengannya dilengan Hongki dengan sambil tersenyum malu kepada pelayan itu.

“Papi…” tiba-tiba terdengar suara seorang gadis berteriak kearah mereka.

Shin Hye  menerawang jauh dan tiba-tiba matanya melebar, “Aubrey…” gumamnya panjang.

“kau mengenal gadis itu Ssinz-ah?” tanya Hongki yang lalu terkejut melihat Jack tiba-tiba berlari menuju gadis bernama Aubrey itu. Dari kejauhan ia bisa melihat Jack memeluk gadis itu erat hingga membuat gadis itu terangkat dan memutar tubuh gadis itu seperti sedang menggendong seorang bayi. Ia tahu itu pasti putri Jack yang sudah sepuluh tahun tidak bertemu dengannya.

“itu pasti putrinya yang sudah hampir sepuluh tahun tidak bertemu dengannya” ucapnya pada Shin Hye yang masih mendongak bingung mendengar ucapan Hongki barusan.

“Aubrey?…putri pelayan itu?” tanya Shin Hye dengan nada gagap.

Ia hanya mengangguk semangat menjawab pertanyaan Shin Hye. Ia benar-benar tidak menyangka ada begitu banyak peristiwa mengejutkan yang dialaminya setiba di Paris, wajar banyak orang mengatakan Paris itu kota cinta, karena memang orang yang tidak saling kenal pun bisa saling jatuh cinta jika bertemu ditempat seindah ini.

**

Luar biasa. Hanya kata itu yang bisa dideskripsikannya untuk hari ini. Hongki sedang berdiri disampingnya dengan lengan mereka saling bertaut, ia rasanya  tidak mau melepaskan lagi gandengan itu. Perasaan kangennya selama ini sudah terobati dengan kedatangannya.

Shin Hye menyandarkan kepalanya dilengan Hongki dengan terus mendekap lengan namjah itu sambil menikmati pemandangan Siene dihadapan mereka. Ia sudah biasa jalan-jalan dengan teman-temannya menyusuri sungai cantik ini tapi hari ini berbeda, ini lebih spesial menurutnya dan ia tidak akan pernah melupakan momen ini.

Hongki sengaja mengajak Shin Hye untuk berjalan-jalan sendiri meninggalkan Jack yang sedang bernostalgia dengan putrinya. “ngomong-ngomong, aku suka dengan ponimu itu” ungkap Hongki sambil mengacak poni Shin Hye yang lurus menutupi dahi.

“ah ini. Aku baru saja memotongnya beberapa hari yang lalu. Aku senang kau menyukainya, aku kira kau akan mengejekku karena menurutku aku terlihat seperti ‘Dora The Explorer’ dengan poni ini” jawabnya sambil tertawa kecil.

“anieo…neo neomu yeppeo jagia” puji Hongki, ia tidak pernah berbohong sedikit pun mengenai kecantikan yeojahnya itu. Ia merasa begitu beruntung bisa memiliki yeojah secantik itu, sikap gadis itu yang berani dan tegas juga yang membuatnya begitu tertarik untuk menyelami lebih dalam lagi sisi lain Shin Hye.

“oh ya kau juga tampak lebih kurusan, apa kau sering melupakan makan selama disini?” tanyanya yang memang merasa gadis itu agak kurusan dari terakhir kali ia bertemu.

Shin Hye mendongak menatapnya tersenyum sambil menggelengkan kepala, “aku selalu mengingat perkataanmu yang memintaku untuk tidak pernah melupakan sarapan pagi! Mungkin karena akhir-akhir ini aku agak banyak mengeluarkan tenaga karena jadwal kami begitu padat Hongki” jelasnya. “tapi aku senang karena disini benar-benar menyediakan apa yang selama ini kuidam-idamkan, praktik! Semua teori yang kupelajari di Korea selama ini bisa kuwujudkan dalam bentuk nyata” ucapnya takjub.

“ya baguslah kalau kau senang, tapi sesibuk apapun kau jangan sampai lupa untuk istirahat dan makan” ingatnya lagi. Shin Hye mengangguk sambil mengedipkan sebelah mata pertanda setuju.

**

Dengan semangat ia membuka pintu kamarnya tidak sabar untuk memainkan Ipadnya. Hongki berjanji akan memfollow twitternya. Begitu pintu terbuka ia terkejut melihat Resha dan Liliana sedang duduk diranjangnya dengan wajah cemas. “Hey kau dari mana saja Shin Hye? Kami benar-benar khawatir melihatmu tiba-tiba berlari seperti tadi, kami mencarimu kemana-mana dan Philip nyaris saja menghubungi polisi untuk mencarimu” kicau Resha dengan bahasa Perancis yang masih berantakan.

Mendengar ungkapan cemas dari teman nya itu ia jadi merasa bersalah karena membuat mereka khawatir dan repot mencari nya. “maaf teman-teman, tadi aku pergi menemui Hongki di Siene.  Mungkin saking kaget nya aku jadi tidak sempat pamit dengan kalian” ucap nya sambil menundukan wajah.

Liliana tiba-tiba datang menghampirinya dan merangkulnya, “oh, aku mengerti perasaanmu Shin Hye, mungkin kalau aku diposisimu juga melakukan hal yang sama” ucap gadis itu sambil menepuk-nepuk pelan pundak Shin Hye.

“alright,  kurasa itu memang wajar” gumam Resha sambil tersenyum kembali. “tapi, ngomong-ngomong aku tidak melihat Aubrey, Shin Hye apa kau tidak bertemu dengannya? Dia tadi mencarimu” tanya Resha dengan nada cemas.

“ah, iya, dia sedang bersama ayahnya sekarang” jawabnya. Resha dan Liliana saling bertukar pandang mencerna jawabannya barusan. “Nostalgia!” tambahnya sambil tersenyum lalu berjalan menuju ranjang untuk mengambil handuk yang menggantung di sandaran ranjangnya.

“aku mau mandi dulu” Ujarnya kepada kedua temannya yang masih terdiam diruang kamar itu.

“baiklah, kami juga mau kembali kekamar untuk istirahat” ucap Liliana.

“oh ya, nanti malam kami mau jalan-jalan ke Notre Dame, kau mau ikut? Philip baru saja membeli kamera dan ingin membawanya nanti malam” ucap Resha semangat.

Ia berpikir sejenak mendengar tawaran tersebut, “great! Baiklah, aku ikut!” ungkapnya sambil mengangguk tersenyum. Resha dan Liliana langsung tertawa girang dan kemudian pergi meninggalkan kamar.

**

“Shin Hye” Aubrey mendobrak pintu kamar dan berlari menuju Shin Hye yang sedang duduk bersantai sambil bermain Ipad. Ia menyerbu ranjang bersprei ungu itu.

“hari ini benar-benar Daebak!!!” histeris nya dengan bahasa Korea yang terdengar aneh –ia belajar bahasa Korea dari Shin Hye. “Ah aku senang sekali Shin Hye” ucapnya dengan mata berbinar-binar. Terlihat jelas aura bahagia yang dirasakan gadis itu sekarang.

“aku juga senang melihatmu bisa bertemu lagi dengan ayahmu, aku baru tahu kalau dia ayahmu dari Hongki. Aku terkejut juga mendengar kalau hampir 10 tahun kalian tidak bertemu. Selamat ya Aubrey” ungkapnya sambil memeluk sekilas teman sekamarnya itu.

Aubrey menjentikan telunjuknya di ujung hidung Shin Hye dengan wajah sedikit menggodanya, “kau juga, aku senang sekali melihatmu bisa bertemu pacarmu Hongki, bagaimana kalian tadi?” tanyanya antusias.

Shin Hye mengendurkan posisi duduknya dan menaruh bantal diatas pahanya dan kemudian menaruh Ipad diatas bantalnya itu. Ia tersenyum malu sendiri sebelum memulai bercerita mengenai kejadian hebat hari ini. “kami tadi Cuma berjalan-jalan di tepi Siene, tapi tidak banyak yang kami lakukan, itu semua sudah cukup istimewa bagiku”.

Aubrey memanggut singkat dan alis sebelah kanannya terangkat, “hanya itu?” tekan nya.

Shin Hye mengangguk, “hanya itu!” tegas nya. “memang nya mau bagaimana lagi Aubrey?” gumamnya kesal bercampur malu.

Aubrey menaruh telapak tangan kirinya di dahi sembari memasang wajah payah, “come on Shin Hye! Ini Paris! Kau sekarang berada di kota cinta” gerutu nya.

Ia hanya memutar bola mata nya dengan bibir mencibir ke depan. Tiba-tiba terdengar suara kicauan burung  dari Ipad nya yang berarti ada pesan masuk di twitter nya. Dengan semangat ia mengangkat Ipad tersebut dan melihat isi pesan itu, yang ternyata dari namjah yang barusan mereka bicarakan, Hongki. Pesan tersebut berupa pesan langsung yang hanya kami berdua yang bisa membaca nya.

@skullhong:

“Ssinz-ah… ayo kita naik Eiffel Tower malam ini!! Itu kalau kau tidak sibuk, aku tunggu kau dilantai dua Eiffel malam ini pukul 7. Aku akan mentraktirmu makan malam di restoran ”

Shin Hye kegirangan sendiri sehabis membaca pesan itu. Aubrey tersentak terkejut melihat nya seperti ini, “boleh aku lihat isi pesan nya? Kau tampak nya senang sekali” ia mengambil Ipad itu dari tangan Shin Hye. Bola mata nya bergerak dari kiri ke kanan membaca deretan hangul di layar digital itu dengan alis bertaut. “aku tidak tahu sama sekali tulisan ini” ungkap nya.

“dia mengundangku makan malam Aubrey” ucap nya dengan pengucapan sedikit tertahan.

“hua itu bagus sekali Shin Hye… aku turut senang mendengar nya” Aubrey menggenggam tangan Shin Hye. “ dia mengundangmu makan malam, ehm..berarti kau harus berdandan yang spesial untuk nya” usul Aubrey dengan wajah yang berpikir keras.

“kau benar, tapi aku ke Paris tanpa membawa gaun. Menurut mu apa aku harus membeli gaun untuk pergi malam ini?” tanya nya, sekarang ia sangat membutuhkan ide dari seseorang.

“ah kau mengapa begitu memikirkan hal ini sih, selama kau disini ada banyak sekali karya yang kau hasilkan. Kapan lagi kau mencoba memakai pakaian buatanmu sendiri?”

Shin Hye pun menyetujui usul Aubrey dan mereka segera menuju ruang wardrobe yang letak nya di lantai dasar paling ujung.

Aubrey membuka pintu ruangan itu dan mempresilahkan Shin Hye untuk masuk, ruangan ini tempat disimpannya karya para siswa termasuk juga karya mereka. Ruangan yang sangat luas itu terang benderang menayangkan beberapa pakaian di dalam lemari etalase yang  berjajar mengelilingi ruangan itu.

Shin Hye langsung berjalan menuju lemari  dengan label nama nya. Ia membuka pintu lemari  yang kunci nya di pinta nya sendiri kepada bagian kemahasiswaan.  Ia langsung memilih beberapa pakaian yang pernah dibuat nya, Aubrey ikut membantu memilih.

“ini, bagaimana menurutmu?” tanya nya sambil menunjukan gaun berwarna putih tanpa lengan dengan lemas jatuh hingga selutut.

“bagus, tapi menurutku ini terlalu feminin dan kalian tidak mungkin hanya menghabiskan malam diatas Eiffel bukan? Kau butuh sesuatu yang elegan tapi leluasa untuk membawamu kemana-mana” saran Aubrey.

“kemari, ikuti aku. Aku punya sesuatu dan siapa tahu kau suka” Aubrey menuntun nya menuju suatu lemari, ya itu lemari dengan nama gadis itu dan sudah pasti isi di dalam nya juga karya Aubrey. Aubrey membuka lemari nya dan memilih beberapa pakaian yang menurut nya pas untuk teman nya itu.

“ah stop! Aku mau lihat yang ini” ia mengambil salah satu dress berwarna berwarna coklat muda. Simple tampi cantik, itu lah yang membuat nya tertarik.

“waw, aku sepemikiran dengan mu” ungkap Aubrey dengan senyum tidak percaya. Mereka kembali ke ruang kamar mereka dan bersiap untuk acara malam ini.

**

“Hey tolong ambilkan foto kami berdua” perintah Philip sambil menyodorkan kamera baru nya kepada Resha. Shin Hye hanya mendongak kaget melihat Philip menarik lengan nya untuk berdiri di samping lelaki itu. Philip memandang nya balik sambil tersenyum, “kau sangat cantik hari ini, aku mau mengabadikan nya, bolehkah?” pinta nya.

Shin Hye hanya mengangguk sambil tersenyum, setidak nya itu tanda terima kasih nya pada Philip yang juga sedikit membantu nya berdandan.

Mereka langsung masuk ke dalam sedan berwarna putih milik Philip –yang hanya bisa digunakan di tiap akhir pekan saja. Teman-teman nya berniat mengantar Shin Hye menuju tempat yang ia janjikan dengan Hongki.

“disini, kita sudah sampai” seru Philip sambil mendongak ke cermin yang berada di atas nya. “dimana dia Shin Hye? Aku penasaran ingin melihat pacarmu itu” Ungkap Philip dengan bola mata yang berputar menelusuri pemandangan di luar mobil.

Shin Hye membuka jendela nya dan memandang ke arah dermaga “itu dia” ucapnya sambil tersenyum menggigit bibir, ia tidak sabar ingin menghampiri  Hongki yang sedang berdiri di dermaga menerawang pemandangan Sungai Siene dengan tangan kanan yang tersembunyi di dalam saku. Hongki mengenakan jas yang pernah dibuatkan Shin Hye untuk nya dan mengenakan topi berwarna putih yang membuat nya jadi bertambah menarik.

“wah, kelihatan nya lumayan tampan, tapi masih tampanan aku deh” canda Philip.

“oh my god” desah Aubrey menanggapi perkataan Philip barusan. “ya sudah, lekas turun, kasihan dia tampak nya sudah menunggu lama, Fighting!!!!” ucap Aubrey sambil mengudarakan tangan yang terkepal kuat.

“merci” ungkap nya lalu turun dari sedan putih itu. Ia melambaikan tangan kepada teman-teman nya sebelum ia berjalan menuju Hongki.

Ia berjalan di sepanjang dermaga yang di hadapannya berjajar kapal-kapal kecil yang berisikan orang yang sedang makan malam.

**

“ehem, apa kau sudah lama menunggu?”

Tiba-tiba ia mendengar suara dehaman dari belakang punggung nya. Ia seketika menoleh dan ternyata Shin Hye sedang berdiri di belakang nya dengan wajah yang tersipu malu.

“anieo” jawab nya cepat, “neo neomu yeppeo Ssinz-ah” ungkap nya yang memang terpesona dengan dandanan Shin Hye malam ini.

“gumawo” jawab Shin Hye sambil menunduk dan lagi-lagi pipi nya memerah.

Hongki langsung menarik lengan Shin Hye dan menggandengnya menuju sebuah kapal kecil yang sudah di sewa nya untuk makan malam sambil berkeliling menikmati pemandangan Siene di malam hari. Paris terlihat sangat eksotis di malam hari.

Ia sudah menyiapkan semua nya, mulai dari makanan, pelayan dan suasana makan malam yang romantis tentu nya, ini berkat Jack yang juga ikut membantu makan malam ini. Ia menuntun Shin Hye dan mempersilahkan yeojah nya itu duduk dikursi yang disiapkan untuk mereka berdua.

Suara instrument musik jazz mengalun mengisi ruang kapal yang kecil, mewah dan terbuka itu. mereka bisa merasakan sepoian Siene dari dalam kapal mereka.

“wah, kau yang menyiapkan semua ini Hongki?” decak Shin Hye yang pandangan nya sedari tadi terperangah dengan keadaan didalam kapal.

“tidak juga, ada Jack yang membantuku menyiapkan makan malam ini” jawab nya sambil tersenyum.

“ini pasti mahal, aku tidak mengira kau akan mengajakku kemari” takjub nya.

Hongki cemberut mendengar ungkapan Shin Hye barusan, “Hya, ini belum seberapa!! Aku bisa mengajakmu ke tempat yang lebih dari ini” ucapnya kesal.

“araso…araso, kau ini berlebihan sekali” gerutu Shin Hye. Shin Hye mendekatkan wajah kearah Hongki, “kau lumayan tampan mengenakan jas buatan ku” bisik nya sambil tersenyum bangga.

“lumayan katamu?” protes nya,  “Aku ini selalu terlihat tampan mengenakan pakaian apapun” jawab nya angkuh, “itu kata omma ku” tambah nya sambil tersenyum khas yang membuat mata nya melengkung seperti pelangi, membuat Shin Hye tertawa dan tiba-tiba mencubit pipi Hongki dengan gemas.

Tiba-tiba datanglah pelayan sambil membawakan hidangan makan malam untuk mereka, dan diantara pelayan itu ada Jack juga yang ikut menghidangkan makanan ke meja mereka. “oh, kalian pasangan yang sungguh menggemaskan” ungkap Jack dengan raut wajah berlebihan.

“merci” ungkap Hongki sambil tersenyum pada Jack, sambil mengedipkan sebelah mata nya dan mengacungkan jempol kearah Jack.

Shin Hye bingung melihat tingkah dua orang itu dan menautkan alisnya dengan wajah bingung. Hongki memandang wajahnya lama dan lalu tersenyum. “jagia, ayo nikmati makan malam ini, ini spesial ku siapkan untukmu” ucap Hongki sambil memotongkan kecil lobster yang dari tadi tersaji di meja belum di sentuh, lalu menyuapkan nya kepada Shin Hye.

“gumawo” gumam Shin Hye dengan mulut terus mengunyah.

Mereka menghabiskan sajian makan malam tersebut dengan penuh gelak tawa, maklum Hongki tidak pernah bisa berbicara tanpa dibumbui dengan lawakan kecil yang kadang membuat orang di sekitarnya terpingkal olehnya.

Akhir nya hidangan penutup pun datang, semangkuk ice cream vanilla dengan topping stramberry dan coklat yang melumuri gundukan es putih itu. Hongki berjalan mendekati Shin Hye dan mata nya menatap lurus ke mata Shin Hye yang sudah deg-degan bukan main oleh nya.

Hongki berlutut disamping kursi Shin Hye, Hongki mengeluarkan kotak kecil berbentuk hati berwarna hitam, lalu membuka nya dan menyodorkannya di depan Shin Hye « Voulez-vous m’épouser ? (would you marry me?) » ucap Hongki. Ia menghapal ungkapan itu selama berhari-hari.

Shin Hye mengerjap beberapa kali memandang cincin berlian yang  bertahtahkan sapir biru diatasnya itu, jantung nya berdetak cepat tidak kalah cepat dengan laju kapal yang sedang mereka tumpangi.  “Hongkia, berhentilah melawak didepan ku!! Kau tidak mau kan makanan yang baru saja masuk ini keluar kembali” ucap nya sambil sedikit menahan tawa.

Hongki mengernyit melihat respon dari Shin Hye, “aku serius! Marry me Ssinz-ah…barae” ungkap Hongki dengan wajah nya yang serius.

Shin Hye bangkit dari kursi nya dan berdiri dengan sedikit membungkuk mengambil cincin tersebut, Hongki berdiri dan wajah nya nyaris pucat karena perasaan campur aduk yang dirasakan nya sekarang. Ia tidak takut kalau seandainya Shin Hye menolak tawarannya ini karena memang ini terlalu cepat baginya.

Shin Hye tertegun lama memandang cincin itu, “aku mau kau memasangkannya sendiri ke jariku” pinta Shin Hye sambil mengambil telapak tangan Hongki dan menaruh cincin tersebut diatasnya. Shin Hye merasakan telapak tangan itu basah dan dingin. Ia tahu yang dirasakan namjah nya itu.

Hongki menarik tangan Shin Hye dan memandang lama kearah jari manis yeojah itu. Ia menghembuskan nafasnya panjang dan memasukan cincin itu dijari manis Shin Hye, pas dan benar-benar indah ditangan yeojahnya itu. Ia mendongak menatap lurus mata Shin Hye, “jadi? Apakah kau mau menerima lamaranku  Park Shin Hye?” tanya nya sekali lagi dengan tegas.

Shin Hye tersenyum menatap Hongki yang sudah gugup setengah mati, ia memandang cincin yang sudah terlingkar dijari manisnya itu “cincinnya cantik sekali Hongki” pujinya dengan mata masih menunduk memandangi benda itu, “na coah, neomu coah, dan tampaknya aku tidak mau lagi melepaskannya” ucapnya sambil mendongak tersenyum memandang Hongki.

Hongki langsung menyeringai mendengar perkataan Shin Hye barusan dan menarik yeojahnya itu ke pelukannya. “merci…Miss Shin hye” bisiknya ditelinga Shin Hye. Ia melepaskan pelukannya dan masih melingkarkan tangannya dipinggang Shin Hye, yeojah-chingunya itu tertunduk dengan pipi memerah.

“kau tahu bagaimana perasaanku sekarang?” tanya Shin Hye yang mata nya sudah mulai berkaca-kaca.

Hongki menggeleng tidak tahu sambil tangan kirinya mengelus pipi tembam Shin Hye. Ia ingin tahu lanjutan omongan Shin Hye barusan.

“aku baru merasakan memilikimu seutuhnya, yeah, terlalu berlebihan dan terlalu cepat juga tapi, inilah perasaanku sekarang” jawab Shin Hye sambil membasahi bibirnya dan setitik air menetes dari sudut mata nya.

“hya kenapa kau nangis? Kau sudah sangat cantik malam ini dan jangan biarkan airmata ini merusaknya” ucap Hongki sambil menghapus airmata Shin Hye dengan telunjuknya. Ia mengangkat dagu Shin Hye untuk memandang kearahnya, ia tersenyum pada yeojahnya itu, dengan gerakan cepat ia merapatkan bibirnya di bibir Shin Hye. Ini ciuman pertama mereka, begitu indah ditengah-tengah Siene, ciuman yang lama dan hangat itu tidak kalah hangat dengan cahaya yang dipancarkan Eiffel malam ini.

**

Setelah selesai dengan kegiatan makan malam tersebut. Hongki mengajak Shin Hye untuk naik ke puncak menara Eiffel dan melihat pemandangan seluruh penjuru kota Paris dari atas sana.

“terimakasih Aubrey, saranmu benar-benar berguna” ucap Shin Hye dalam hati sambil melihat pakaian yang dikenakannya itu. Anggun tapi masih bisa membuatnya bergerak leluasa.

“neomu yeppeota” decak Hongki dengan matanya masih meneropong pemandangan dibawah sana. Hongki menjauhkan matanya dari teropong dan menggenggam tangan Shin Hye. “ayo kita jalan-jalan lagi” ajak Hongki dengan semangat.

“memangnya kita mau kemana Hongki? Kau tahu taksi disini benar-benar memeras” yakin Shin Hye.

Hongki mengerucutkan bibirnya cemberut, “hya!!!! Aku kan tidak bilang kita jalan-jalan pakai taksi, lagipula apa enaknya jalan-jalan pakai mobil!” gerutu Hongki dengan wajah jengkel.

“lalu kau mau jalan-jalan pakai apa?” tanya Shin Hye pasrah, ia selalu mengalah daripada mengecewakan Hongki yang sudah jauh-jauh datang kemari untuk melihatnya.

“kemari” Hongki menarik Shin Hye dan menyuruh yeojah itu melihat melalui teropong, lalu mengarahkan teropong itu kearah yang dimaksudkannya. “bagaimana menurutmu?”

Shin Hye tertawa melihat kejutan kali ini, sebuah motor skuter berwarna kuning terparkir dibawah sana. “hey darimana kau mendapatkannya??” tanya Shin Hye heran.

“Aku meminjamnya dari Jack, dia meminjamkannya untukku semalaman ini dan aku mau memanfaatkannya bersamamu” ucap Hongki dengan wajah bangga. “ayo nona..kau mau kan jadi pemandu wisata ku malam ini? Tentu saja kau masih tetap fiancé-ku!!” tegas Hongki sambil merengek seperti anak kecil.

Shin Hye mengangguk menanggapi rengekan Hongki, dan malam itu mereka habiskan berdua, bertiga dengan motor skuter mereka, mengelilingi tempat-tempat indah di Paris.

“mianhae..FF ini baru bisa diselesai in sekarang ^^ makasih buat yang udah mau ngebaca dan nunggu setiap part di FF ini, Gamsahamnida ^^^^^^^^^^^” -TanMayang

The end

Your appreciation please....

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s