FTISLAND & MBLAQ I News Update I Twitter Update I Pictures Update

[HongYe’s Fanfic] “Bonjour! Madame Croissant” (Part.8)!

Part 8

Hari yang sangat tidak dinantikannya itu pun datang. Van putih besar yang biasa membawa kemanapun mereka pergi itu melaju dengan kecepatan tinggi memasuki jalanan tol menuju bandara internasional Korea, Incheon Airport.

Ia mengeluarkan ponselnya dan tidak ada satu pesan atau panggilan masuk dari seseorang yang paling memberatkannya untuk meninggalkan Korea itu, Shin Hye, pacarnya yang sekarang sedang bergelut dengan ujian akhir semester dan sangat menyesal tidak bisa mengantarnya. Hongki beberapa kali menghembuskan napas panjang mengingat mereka tidak akan bertemu dalam waktu yang cukup lama.

“Hyeong setelah selesai kegiatan di Jepang apa kami bisa berlibur kemanapun kami mau?” Minhwan bertanya dari kursi paling belakang, ia berbagi tempat duduk bertiga bersama Jaejin dan Seunghyun. Pertanyaan itu terus-menerus keluar dari mulut member termuda itu. Minhwan sangat kesal dengan kegiatannya kali ini yang berbenturan dengan ulangtahun ommanya.

“ah aku juga mau liburan bersama pacarku nanti di Bali” tambah Jonghun sambil sibuk berselca ria dengan kamera DSLR milik Hongki.

Yoonho menoleh kebelakang kekursi penumpang memandang wajah mereka bergantian “aku juga ingin berlibur seperti kalian tapi mau bagaimana lagi inilah resiko kalian menjadi seorang artis, kalian harus rela tidak bertemu lama dengan orang terdekatmu dan membagi waktumu demi mempertahankan pekerjaanmu, percaya saja aku pun merasakan hal yang sama dengan kalian” ungkapnya.

Hongki langsung berdeham sejenak, semua yang dikatakan manajernya itu benar-benar mengenai perasaannya sekarang. Dari kencan beberapa hari yang lalu–adalah pertemuannya yang terakhir bersama Ssinz- dan ia saling tidak berbicara satu sama lain dengan manajernya itu. Ia jadi merasa bersalah kepada orang itu. Tiba-tiba ponselnya terasa bergetar ditelapak tangannya, ia melihat ada satu pesan masuk.

From: My Assistant!

“Jeosanghaeo… aku benar-benar menyesal tidak bisa mengantarmu, jaga baik-baik kesehatanmu disana dan semoga tur kalian sukses..aza aza fighting!!!”

Ia mendesah panjang membaca pesan tersebut dan ada sedikit kelegaan melihat pesan itu, setidaknya gadis yang ditunggu-tunggunya itu mengiriminya pesan.

To: My Assistant!

Semoga ujian MIDmu sukses! Hanya tiga permintaanku : jangan pernah lewatkan sarapanmu!!, jaga kesehatanmu selama di Paris!!..maaf aku juga tidak bisa mengantarmu, yang terakhir tolong jangan pernah bosan untuk mengirimiku pesan mengenai keadaanmu setiap waktu! Dan juga aku pasti akan sangat merindukanmu, asisten… ^^ pst! Sampaikan salamku untuk keluargamu di Bangkok…

Send. Dan tanda pesan terkirim tertayang dilayar ponselnya. Sebenarnya banyak sekali yang ingin disampaikannya pada gadisnya itu tapi terbataskan oleh operator pesan. Tangannya masih menggenggam ponselnya menunggu balasan dari pacarnya itu.

“Hongki ini foto-fotomu bersama Ssinz? Wah kalian romantis sekali, aku iri melihatnya”ucap Jonghun takjub.

Jonghun membuka foto-foto kencan terakhirnya beberapa hari lalu bersama Shin Hye. Sahabatnya itu punya pacar tapi ia melihatnya masih ada kekakuan diantara Jonghun dan pacarnya itu yang memang umur mereka berbeda jauh. “Minjeong mau tidak ya kalau ku ajak foto seperti ini? Aku mau mengajaknya liburan di Bali nanti kalau sudah urusan tur kita selesai, kau mau ikut?” tanya Jonghun padanya.

Hongki berpikir sejenak mendengar ajakan temannya itu. Merasa tertarik? Tentu saja! Lagi-lagi ponselnya bergetar da itu balasan dari pacarnya.

From : My Assistant!

Baiklah!!! Cuma tiga itu saja kah? Lusa aku berangkat ke Bangkok…kau sekarang dimana?

**

“Shin Hye terimakasih ya, kalau tidak ada kau mungkin kami tidak mendapat pujian seperti tadi itu” Minha –teman satu grupnya-menghampirinya sambil menggeggam tangannya dengan kuat. Gadis itu selalu berlebihan dalam menghadapi segala hal.

“Minha.. kalian tadi juga sangat hebat, kalau tidak ada kau, kami mana bisa berargumentasi sehebat kau tadi” candanya. Dan gadis itu hanya tersenyum mengembang sambil mengangguk beberapa kali.

“oh kalau begitu aku pulang duluan ya, selamat liburan dan sepulang dari Paris jangan lupa bawa oleh-oleh untukku, oke” ucap gadis itu dengan senyum nyaris sampai ke telinga.

Shin Hye hanya mengangguk sambil tersenyum datar. Rasanya ia sudah tidak senafsu dulu mendengar kata “Paris”, pikirnya sambil merogoh kedalam tasnya mencari ponselnya. “tidak ada jawaban, apa dia sudah dipesawat ya?” ia bertanya sendiri dalam hati.

“Park Shin Hye, kebetulan sekali kau masih disini” Yabi mengagetkannya dari belakang. Senyum wanita itu mengembang nyaris sampai ke telinga. Dosennya membawa sebuah amplop besar berwarna coklat dan menyerahkannya pada Shin Hye yang masih berdiri terdiam didepannya, gadis itu menerimanya dengan wajah bingung. “aku minta maaf Shin Hye” ucap dosennya itu

Shin Hye sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksudkan dosennya itu, minta maaf? Amplop? Urusan Paris kah? Terserah yang jelas ia akan segera mengetahui jawabannya. “minta maaf untuk apa songsaengnim? Dan amplop ini apa maksudnya?” tanyanya polos.

“ah ini semua surat-surat penting yang harus kau bawa saat berangkat nanti. Didalam ini juga ada surat izin untuk memasuki Negara lain, sejenis paspor atau semacamnya. Dan juga aku minta maaf karena sepertinya kau tidak akan sampai lima bulan disana, berbeda dengan senior-seniormu sebelumnya yag hingga lima bulan bahkan satu tahun disana” Yabi berhenti sejenak untuk menarik napas.

“lalu? Berapa lama aku disana nanti?” tanyanya. Hatinya mulai merasa gembira karena ia tidak akan berlama-lama disana. Namun ia masih penasaran dengan lanjutan cerita dari dosennya itu.

“ya, paling lama kau hanya tiga bulan disana, tapi walaupun begitu kau masih mendapat sertifikat dari mereka. Satu lagi, kalau kau banyak meraih prestasi disana dan mendapat predikat baik dari mereka, kau bisa melanjutkan kuliahmu nanti disana dengan mudah tanpa harus mengikuti banyak tes” jelas Yabi dengan nada bicara mendramatisir seolah-olah itu akan terjadi secepatnya.

“tapi, kau sudah harus berangkat pertengahan bulan ini, itu tandanya kau hanya punya libur setengah bulan, ingat kau berangkat ke Paris dari Korea, karena akan ada yang mengantarkanmu sampai kesana, mengerti? Kalau begitu sampai jumpa” Yabi menepuk bahu Shin Hye dan berjalan lurus melewati gadis itu.

“Mwo?? Aigoo..rencananya aku mau nonton konsernya FTIsland di Jepang! Bagaimana ini?” rengeknya didepan amplop coklat digenggamannya itu.

**

Shin Hye memandang berkali-kali kertas kopian yang diberikan Minhwan saat diruang latihan waktu itu. Itu jadwal tur FTIsland dibeberapa kota besar di Jepang. Rencananya ia mau menonton konser mereka sebelum ia berangkat ke Paris, dan itu bukan Cuma rencana tapi merupakan sebuah janjinya pada Hongki. Ia melipat kembali kertas tersebut dan menaruhnya bersama tumpukan pakaian didalam koper besar berwarna merahnya. Pesawatnya berangkat pukul sepuluh pagi ini menuju Thailand. “aku masih punya waktu dua jam, aku mau menghubunginya dulu, semoga ia tidak sedang sibuk” ratapnya pada ponsel ditelapak tangannya tersebut.

“yeobseo Ssinz, annyeonghaseo” sapa Hongki dengan sangat ramah. Tidak disangkanya namjah itu mengangkat telponnya dengan cepat.

“annyeonghaseo…sepertinya kau sedang tidak sibuk, bagaimana kabarmu disana?” tanyanya antusias. Sudah beberapa hari ia tidak melihat dan mendengar suara orang itu. ini saja sudah sangat membuatnya rindu setengah mati.

Terdengar sayup dari telepon ocehan member FTIsland lainnya terutama suaranya Seunghyun. “ah kami sedang istirahat, semalam kami melakukan pemotretan untuk majalah dan selesainya baru subuh tadi, jadwal aktif kami mulai minggu depan, sekarang ini kami baru pemotretan untuk poster dan banner tur kami, bagaimana kabarmu? Disana pukul delapan kan? kau sudah sarapan?” tanya namjah itu tanpa henti.

Shin Hye hanya terkikik mendengar rentetan pertanyaan pacarnya itu, “tentu saja sudah, pukul sepuluh nanti pesawatnya berangkat. Hongkia….” Ia memanggil nama namjah itu panjang, “Got dasi bol su isseumyeon jokesseyo (Kurahap kita bisa bertemu secepatnya)…sagsini joayo..Hongstar..(aku cinta kau Hongki)” desahnya panjang, kemampuan bahasa Koreanya semakin bertambah setidaknya ungkapan itu didapatnya dari beberapa drama Korea yang pernah ditontonnya, ia selama ini hanya bisa berbicara bahasa Korea sehari-hari.

Suasana hening sejenak menghampiri mereka, namjah itu belum merespon pernyataan darinya tadi. Ia berdeham memecahkan keheningan itu, “bagaimana? Maksudku bahasa Koreaku, keren bukan?”. Itu benar-benar pertanyaan bodoh ungkapnya dalam hati.

“ah..chohayo (bagus)…yeoreo gagiro gumawoyo (terima kasih untuk semuanya), neo-sarang, saranghaeyo Ssinz-sii” balas Hongki. “secepatnya kita pasti bertemu” tambah namjah itu dengan semangat sekali.

Ungkapan Hongki barusan terasa menjalar keseluruh tubuh seiring dengan aliran darah ditubuhnya, pipinya terasa hangat, jantungnya berdegub tidak karuan. Tiba-tiba terdengar suara Eunjung memanggilnya, mengajaknya untuk segera berangkat menuju bandara. “Hongkia sudah dulu ya, aku sudah harus berangkat sekarang, aku  janji akan menghubungimu lagi”

“ya sudah kalau begitu, jangan lupa menelponku kalau kau sudah tiba di Bangkok, aku tutup duluan ya, annyeong”. 

Telpon sudah terputus. Shin Hye memasukan kembali ponselnya kedalam saku jaket kulitnya. Ia keluar dari kamarnya dengan menyeret tas koper yang berisi barang-barang yang akan dibawanya ke Bangkok. Eunjung sudah menunggunya dengan pakaian rapi, sahabatnya itu sebenarnya mau ikut berlibur bersama Shin Hye tapi, tidak jadi karena masih banyak urusan yang harus diselesaikannya di Korea. “Ssinz..kau sudah siap? Ayo..” ajak gadis itu.

“taksinya sudah ada dibawah ya?” tanyanya.

“bukan taksi tapi..”

“bukan taksi? Lalu?” ia jadi merasakan perasaan tidak enak.

“Ji Wun oppa..”

“Mwo?” teriaknya panik, “kenapa bisa orang itu? darimana dia tahu kalau aku mau berangkat pagi ini?” tanyanya tidak sabar sekaligus kesal.

“maaf Ssinz, kemarin waktu aku bertemu dengan oppa di Perpustakaan aku tidak sengaja keceplosan mengatakan tentang hari ini, bagaimana Ssinz ah..dia sudah menunggu dibawah, aku benar-benar tidak sangka kalau dia datang hari ini” jelas Eunjung dengan gelagapan.

Ia menarik napas panjang dan mencoba berpikir sejenak, “ayo kita turun, biar aku yang urus semuanya”.

Mereka berdua turun kelantai bawah dan benar sekali, mobil Ji Wun sudah terparkir dibawah dan orang itu sendiri sedang berdiri didekat mobilnya dengan tangan kanan masuk kedalam saku celana. Keren..tapi sekarang ia sudah muak dengan orang itu jadi percuma saja, mau pose seperti apapun tetap saja muak.

“kalian sudah siap, ayo” Ji Wun membuka pintu mobil untuk mereka lalu berjalan mendekati Shin Hye dan berniat membantu gadis itu membawa koper besar milik gadis itu.

“tidak perlu” tolak Shin Hye pelan tapi dengan wajah melengos kearah jalan, berharap ada sebuah taksi keberuntungan yang melewati gang sempit itu. Ia tidak mau melihat wajah Ji Wun terutama semenjak kejadian di restoran kemarin. “aku bisa naik taksi, pergilah..nanti ibumu mencarimu dan menyalahkanku karena menjadikan anaknya seorang supir” ketusnya datar dengan wajah masih melengos.

Ji Wun memasang wajah bingung menghadapi sikap gadis itu, ia menoleh pada Eunjug meminta bantuan pada orang itu tapi gadis itu hanya mengangkat bahu dengan wajah pasrah juga. “apa kau mau ketinggalan pesawat hanya karena mau menunggu taksi yang lewat, kau tahu gang sempit seperti ini jarang dilewati taksi, ayolah..aku Cuma mau mengantar saja” ucap namjah itu dengan nada meyakini.

Ia melihat jam tangannya, masih tertinggal satu jam lagi, tidak mungkin ia melewati kesempatan ini. “baiklah” ucapnya pasrah. Ji Wun langsung menarik koper itu dan memasukannya kedalam mobil.

Sepanjang perjalanan mereka hanya saling berdiam, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Ia dan Eunjung duduk dikursi penumpang bagian belakang supir. Bukannya ia sengaja membuat Ji Wun terlihat seperti supir tapi, ia hanya tidak mau kembali dekat dengan orang yang pernah mencampakannya dulu, ia juga tahu maksud lelaki ini muncul dihadapannya lagi karena mau mendekatinya kembali.

“Ssinz-ah, mana pacarmu, Hongki? Kenapa ia tidak ikut  mengantarmu juga?” tanya Ji Wun dan sambil melirik gadis itu dari kaca diatas kepalanya.

“dia sedang sibuk tur di Jepang” jawab Shin Hye singkat.

“itulah resikonya berpacaran dengan seorang artis. Kita harus rela membagi dirinya bersama penggemarnya, aku tidak yakin kau bisa bertahan lama dengan orang itu”

Telinganya tiba-tiba terasa panas mendengar ocehan namjah itu barusan. Ia menghembuskan napas panjang, mencoba menahan emosi yang sudah tertahan sedari tadi dan memilih diam, walaupun bibirnya sudah terasa panas ingin menyuruh namjah itu berhenti mengomentari hubungannya bersama Hongki. “itu adalah tantangan tersendiri untukku” jawabnya dengan sedikit menyunggingkan senyum terbaik. Ji Wun hanya mengangkat sebelah alisnya

Setelah melewati jalanan tol yang panjang, akhirnya terlihat juga gedung besar tujuan mereka. Ji Wun memarkirkan mobilnya dan ikut mengantarnya sampai kedalam.

***

“Hongki” terdengar suara seorang yeojah memanggilnya dari belakang. Dengan gerakan malas ia menoleh kebelakang dan tatapan masih enggan beralih dari kamera DSLR yang dipegangnya, ia sedang melihat-lihat gambar diri Shin Hye. Ia terkejut sekali melihat yang memanggilnya ternyata Im Gyuri, mantan kekasihnya beberapa tahun yang lalu. Entah kenapa ia bisa bertemu kembali dengan yeojah itu.

Gyuri berjalan menghampiri Hongki yang masih terpaku menatapnya. Ia menyodorkan gelas kopi hangat yang sengaja dibawanya satu untuk namjah itu. “aku senang sekali kita bisa bekerja sama lagi, bagaimana kabarmu?” ungkapnya dengan senyum manisnya yang mengembang.

Hongki mengerjapkan mata berkali-kali, tangannya sedikit berkeringat saat menerima gelas kopi tersebut. “baik” jawabnya datar, lalu disusul senyum kakunya. “apa maksud nuna dengan bekerja sama lagi?” ia bertanya kembali pada yeojah cantik tersebut. Perasaan ia tidak pernah menandatangani kontrak yang ada hubungannya dengan Gyuri.

Gadis itu tertawa singkat mendengar pertanyaan Hongki barusan, ia berdeham sejenak lalu “kau tidak mau tahu kabarku selama ini dongsaengah?” gadis itu cemberut dengan bibir maju kedepan, “lupakan, memang kebetulan sekali sih, aku saja baru tahu kalau kita akan bertemu lagi. aku diminta menggantikan Cha Yae Rin diacara Crazy Mate” jawabnya dengan mata menatap keatas.

Hongki mengenduskan nafas panjang, ia mematikan kameranya dan meletakannya kembali kedalam sling bag miliknya yang tergantung dikursi disamping tempat ia berdiri. Ia mengutuk kesal manajernya dalam hati karena tidak memberitahukan hal ini padanya, kalau ia tahu mungkin ia akan memilih membatalkan kontrak tersebut. Alasannya bukan karena Gyuri itu adalah mantannya, tetapi karena memang acara tersebut menurutnya sangat membosankan, dan tidak penting!selama dua minggu ia akan bersama dengan gadis yang berpura-pura menjadi sepasang kekasih dan mengerjai para pasangan artis lainnya. “nuna suka dengan acara ini” tanya nya dengan ekspresi payah.

Gyuri menatapnya heran, mungkin karena pertanyaan namjah itu barusan. “tidak juga sih, tapi kurasa ini pasti seru sekali, kita nanti mengerjai pasangan para artis Jepang, oh ya kudengar kau sudah punya pacar ya? Artis juga?” tanyanya dengan telunjuk mengacung kedepan hidung Hongki.

Ia menghembuskan nafas cukup panjang, soal membuat orang lain sengsara adalah keahlian yeojah ini. Hongki mengangguk singkat lalu tersenyum , “tapi bukan artis, dia mahasiswa di Universitas Korea” jawabnya.

“benarkah? Hebat sekali, mahasiswa universitas negri, pasti gadis itu pintar sekali bukan?” tanyanya sambil melipat tangan didepan dada.

“tentunya, bukan cuma pintar tapi juga sangat cantik” jelasnya dengan sedikit angkuh dan ia langsung terbayang wajah Shin Hye.

“Hyung, kau jadi ikut kami tidak??” tiba-tiba terdengar teriakan Seunghyun dari luar ruangan tersebut, ia ingat bahwa sudah membuat janji akan menemani Seunghyun jalan-jalan ke mall.

“maaf aku harus pergi dulu Gyuri nuna, sampai jumpa lagi” ia mengambil tasnya dan menyelimpangkan kebelakang pinggangnya. ia tersenyum singkat baru kemudian berlalu meninggalkan Gyuri. Kalau terus diladeni, yeojah tersebut bisa bercerita tanpa henti hingga besok pagi. Kebiasaan inilah yang membuatnya sedikit merasa kesal kalau berlama-lama didekat yeojah tersebut.

Ia berjalan menuju parkiran dibelakang gedung, Seunghyun sedang menunggunya didalam Van hitam yang terparkir dipaling ujung. Dengan perlahan ia mengetuk kaca mobil tersebut dan pintu mobil pun seketika terbuka. Ia langsung masuk kedalam ke kursi disamping supir, ia terkejut melihat Minhwan sudah duduk dikursi supir. “Minari, apa tidak salah? Kau yang menyetir van ini?” tanyanya dengan nada sedikit kurang percaya, dongsaengnya itu baru mendapat lisensi dua bulan yang lalu dan ia masih meragukan kemampuan namjah itu.

Minhwan menyipitkan matanya memandang Hongki, “walaupun aku baru menerima lisensi dua bulan yang lalu, bukan berarti kalian bisa meremehkan kemampuanku menyetir. Hyeong lihat saja nanti” balasnya dengan nada semangat, ia mulai menjalankan van tersebut keluar dari lapangan parkir yang cukup luas tersebut.

Seunghyun menyandarkan dagunya disandaran bahu kursinya Hongki, “hyeong tenang saja uri-Minari lebih tahu banyak mengenai jalanan di Tokyo” tambahnya.

Kedua namjah tersebut melakukan tos dengan kompak dan tersenyum lebar. Hongki hanya bisa geleng-geleng kepala menanggapi kedua dongsaengnya itu. “arasoyo” ungkapnya panjang. Ia menyandarkan kepalanya dan memejamkan matanya.

“Hyeong kau sudah menghubungi Ssinz nuna belum?” Minhwan bertanya pada Hongki.  Namjah yang terlelap itu tiba-tiba terbangun mendengar pertanyaan barusan.

Hongki dengan cepat merogoh kedalam tasnya mencari ponselnya. Saat benda yang dicarinya tersebut menyala, ternyata tidak ada satu pun pesan ataupun panggilan dari orang yang ditunggunya itu. Ia menghubungi nomor Shin Hye, tapi hanya suara operator yang menyambut telponnya itu. “Hya mungkin yeojah ini sedang berada di pesawat” ia meletakan ponselnya diwadah disamping tempat duduknya.

Akhirnya mereka tiba di mall tempat tujuan mereka, suasana terang benderang langsung menyambut mereka. Minhwan membawa van tersebut menuju parkiran bawah tanah. Setelah mendapat posisi yang tepat mereka serempak keluar dari mobil. Minhwan dan Seunghyun mengenakan kacamata besar hitam yang biasa mereka pakai kalau mau menuju tempat ramai. Berbeda dengan Hongki yang lebih terbuka, ia hanya mengenakan topi berwarna blue jeans senada dengan celana yang dipakainya.

Seunghyun langsung menyerbu butik D&G yang terletak dilantai dasar begitu mereka masuk dari pintu parkiran. Begitupula Minhwan, ia langsung menuju konter kacamata dibutik yang sama. Lain lagi Hongki yang hanya berjalan malas mengikuti langkah kedua dongsaengnya itu sambil melihat-lihat benda yang mungkin juga akan menarik perhatiannya.

“Hyeong bagaimana menurutmu? Cocok tidak kalau ini kupakai di Kyoto nanti?” Seunghyun memamerkan syal berwarna khaki dengan print tengkorak berwarna hitam.

Hongki mengangguk sambil mengacungkan jempol ke namjah itu, menurutnya Seunghyun memang selalu tampak bagus walau dipakaikan pakaian seaneh apapun. Ia berjalan mendekati Minhwan yang sedang melihat koleksi musim panas, dan matanya tertuju pada kemeja berwarna hitam berbahan sangat tipis dan dingin, ia mengambil kemeja tersebut dan menyodorkannya pada Minhwan. “Minari, kemeja ini bagus. Sangat cocok dengan tubuhmu yang uhh…itu” ungkapnya.

Minhwan berbalik dan menerima kemeja tersebut, ia mengepaskan kemeja tersebut ke tubuhnya dan memang sangat cocok dengannya. “wah hyeong benar juga, aku mau ambil ini” ungkap namjah tersebut. Minhwan langsung menyerahkan kemeja tersebut kepada pelayan butik yang dari tadi mendampinginya. “selera Hyeong tidak pernah salah, ditambah lagi pacar hyeong calon desainer hebat. Oh ya, hyeong tahu tidak kalau nuna akan datang kesalah satu tur kita nanti?” tanya nya.

“ya, aku juga tahu. Ssinz janji akan datang ke konser kita sebelum ia ke Paris, tapi aku tidak berharap banyak soal ini” desahnya.

“kenapa? Sepertinya nuna ingin sekali datang, kau tahu ia bahkan meminta kopian jadwal tur kita padaku waktu kita latihan” ujarnya dengan wajah sangat meyakinkan.

“benarkah?” ungkapnya dengan sedikit terkejut. Gadis itu pasti sangat repot harus ke Jepang dulu, lalu Korea dan kemudian Paris, ia tidak mau membuat gadisnya itu terlalu memaksakan kehendak.

Akhirnya mereka keluar dari butik tersebut dan mulai mengelilingi mall lagi. Mata mereka disuguhkan dengan terang benderang dari lampu butik yang memamerkan koleksi musim panas dari berbagai merek terkenal karena kebetulan ini sudah masuk musim panas. Jonghun dan Jaejin tidak ikut jalan-jalan bersama mereka dan memilih menikmati musim panas di pantai Okinawa dari pagi tadi bersama kru dari Jepang lainnya.

Mereka berjalan melewati deretan toko perhiasan, mereka berencana untuk mencari tempat untuk makan siang. Namun, tiba-tiba Hongki berhenti didepan salah satu toko perhiasan dan berjalan masuk diikuti kedua dongsaengnya yang kebingungan. Pandangannya terpaku pada sebuah cincin , ia ingin sekali memakaikan cincin tersebut ke jari Shin Hye. “bisa aku lihat yang satu ini” pinta nya kepada pelayan toko tersebut dengan bahasa Jepangnya yang sudah lumayan fasih.

Pelayan tersebut mengeluarkan cincin yang berhiaskan batu sapir biru tersebut dan menunjukannya pada Hongki. “cincin ini best seller ditoko kami” ungkap pelayan tersebut sambil tersenyum. “kau Lee Hongki kan? vokalis dari band Korea yang sangat terkenal itu?” tanya pelayan tersebut.

Hongki hanya tersenyum mengangguk dan kembali fokus memasati cincin tersebut.

“hyeong kau mau berikan ini ke Ssinz nuna ya?” tanya Seunghyun, dan Hongki hanya menjawab dengan anggukan singkat.

“apa kau mau berikan ini kepada kekasihmu?” tanya pelayan itu lagi.

Hongki kali ini benar-benar menatap pelayan tersebut dan mengangguk dengan semangat, “apa ini tidak ada pasangannya?” tanya nya sambil menaruh cincin tersebut kewadahnya kembali. “aku suka dengan cincin ini” tambahnya.

Pelayan tersebut pergi meninggalkan mereka sejenak dan datang dengan membawa jaket dan satu kotak perhiasan. “ini cincin pasangannya” ujar pelayan tersebut sambil membuka kotak berwarna hitam tersebut.

Mata Hongki langsung berbinar melihat cincin tersebut dan mencobanya. “pas” ucapnya semangat.

“aku akan memberikan cincin pasangannya ini gratis untukmu tapi apa kau bersedia berfoto bersamaku dengan temanmu juga?, lalu aku juga mau minta tanda tangan kalian, bolehkan?” gadis itu memelas pada ketiga namjah tersebut.

“ah, tentu saja” mereka pun berfoto bersama dan menandatangani jaket berwarna pink pucat tersebut.

“ini” pelayan tersebut menyodorkan bungkusan cincin tersebut sambil tersenyum puas, “dan semoga kekasihmu menyukainya” tambah pelayan tersebut.

“terimakasih sekali lagi, untuk cincinnya” ucap Hongki dan kemudian keluar dari toko tersebut.

**

Sudah hampir satu minggu ia menghabiskan waktu bersama keluarganya di Bangkok. Ia memandang berkali-kali kertas kopian jadwal tur pacarnya tersebut. “tinggal satu minggu lagi, sempat tidak ya aku menghadiri konser mereka?” tanyanya pada kertas tersebut dan nyaris seperti orang gila akhir-akhir ini.

Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan ibunya muncul dari balik pintu, “sudah saatnya makan siang, apa kau belum lapar Ssinz ah? Tanya ibunya sambil berjalan menuju tempat tidurnya.

Shin Hye bangkit dari tempat tidurnya dan duduk bersila sambil menghadap ibunya, “omma, apa aku boleh pergi ke Jepang sebentar sebelum berangkat ke Paris? Aku sudah berjanji pada Hongki untuk menonton konser mereka disana” ungkapnya.

Wanita parubaya tersebut tersenyum pada putrinya tersebut lalu, “tentu saja boleh, tapi Ssinz apa kau pergi kesana sendirian?”tanya ibunya sambil mengelus puncak telapak tangan anaknya itu.

Shin Hye memutar bola matanya sambil berpikir, benar sekali, ia tidak punya teman yang bisa menemaninya selama disana bahkan, ia belum pernah membayangkan jalan-jalan di negara lain seorang diri. Ia hanya bisa menggeleng sambil tertunduk menjawab pertanyaan ibunya itu.

“kau mau aku temani?” tanya ibunya membuat gadis tersebut mendongak terkejut. “lagipula, aku juga sangat ingin bertemu dengan Hongki secara langsung bukan hanya di TV. Setidaknya kau tidak sendirian disana dan juga aku sekalian mengantarmu ke Korea, bagaimana menurutmu?” usul ibunya.

Shin Hye mendongak tidak percaya mendengar tawaran itu, ia sungguh tidak menyangka ibunya akan mendukungnya. Dengan cepat ia mengangguk menerima tawaran tersebut dan langsung memeluk ibunya dengan erat, “gumawo omma” bisiknya.

**

Hari ini merupakan tur ketiga mereka yang bertempat di Tokyo. Hongki begitu menantikan hari ini karena pacarnya, Ssinz akan datang bersama ibu gadis tersebut. Pagi sekali Ssinz sudah menghubunginya dan mengatakan kalau ia dan ibunya sudah tiba sejak kemarin, rasanya ia sudah tidak sabar bertemu dengan pacarnya tersebut, ibunya juga tentunya. Ia juga begitu semangat berlatih bersama teman-temannya, ia tidak mau mengecewakan penonton spesialnya tersebut. Masih tinggal tiga jam lagi menuju konser. Sekarang mereka berkemas menuju lokasi konser mereka.

Hongki mengeluarkan ponselnya dan menghubungi nomor Ssinz. “Yeobseo Ssinz…kau masih dihotel sekarang? …tidak aku cuma ingin mengetahui kabarmu saja, baiklah…sampai jumpa nanti, bye”

Setelah menempuh perjalanan hampir setengah jam, mereka pun tiba di gedung tempat diselenggarakannya konser mereka. Van mereka masuk kedalam parkiran bawah tanah yang hanya menjadi tempat parkir kru-kru dan orang tertentu saja.

Tampak semua kru yang terlibat dikonser ini mondar-mandir dengan kesibukan mereka masing-masing. Mereka langsung memasuki panggung mereka dan melakukan gladiresik terlebih dahulu, mengecek sound, dan memantau suasana panggung. Semuanya sudah beres dan sekarang tinggal merekanya  yang bersiap. Mereka berlalu masuk kedalam ruangan rias.

**

Shin Hye memasukan tiket konser, kartu untuk bisa masuk kebelakang panggung yang pernah diberikan Hongki padanya sebelum berangkat, dompet dan, beberapa keperluan konser kedalam tas tangannya. Ibunya sudah berpakaian rapi tapi santai, berbeda dengan dirinya yang masih gelagapan menyiapkan semuanya. Ia mengenakan blus tanpa lengan yang jatuh hingga selutut berwarna pink pucat, ia tidak mau memakai pakaian yang terlalu spesial ataupun heboh karena itu akan menyusahkan dirinya bergerak dengan bebas.

“selesai, ayo kita berangkat” ia beranjak dari tempat tidurnya dan sambil menenteng tas berwarna putih besar miliknya.

“Ssinz kita naik apa kesana?” tanya Ibunya membuat langkah Shin Hye terhenti.

Shin Hye hanya bisa tersenyum melihat ekspresi bingung ibunya, “kita jalan kaki dong omma, tempatnya hanya berjarak beberapa blok dari hotel ini, ayo” ia menggandeng tangan ibunya dan berjalan keluar dari kamar hotel.

Jalanan begitu sepi dan sedikit mengerikan terutama bagi para gadis berjalan sendiri didaerah seperti ini. Shin Hye menggenggam erat tangan ibunya, suasana malam disini begitu mengerikan pikirnya, bohong sekali kalau ia tidak takut. Ia sedikit mempercepat langkahnya, entah kenapa ia merasa tempatnya terasa sangat jauh sekali padahal, lokasinya hanya beberapa blok dari tempat mereka berjalan sekarang.

Ibunya tiba-tiba berhenti melangkah dan matanya membelalak menatap wajah Shin Hye, membuat cemas gadis yang sudah ketakutan sejak tadi itu. “ada apa omma? Omma jangan menakutiku seperti itu” gerutunya. Degub  jantungnya semakin cepat.

“apa kau tidak merasa seperti ada yang membuntuti kita dari  tadi? Omma takut Ssinz ah..” rengek ibunya sambil mencengkam lengan putrinya.

Shin Hye menoleh kebelakang jalanan yang sepi dan gelap itu, ia juga merasa ada yang aneh dari tadi. Ia menarik tangan ibunya dengan tarikan cepat dan berjalan setengah berlari. Untungnya ibunya hanya menurut saja, ia menoleh kedinding dan benar sekali ada bayangan orang bertubuh besar mengikuti mereka, ia makin mempercepat langkahnya dan terhenti. Dihadapannya berdiri seorang bertubuh kurus jangkung dengan rambut acak-acakan melayang-layang kan pisau kearah mereka. “Hya mau apa kalian?” teriaknya dengan bahasa Korea.

Lelaki itu berjalan mendekati mereka berdua. Mereka mencoba berlari kebelakang tapi ternyata sudah ada yang menghadang mereka juga dari belakang. Sekarang mereka hanya bisa  berteriak minta tolong, tapi percuma saja karena kedua orang itu dengan cepat membungkam mulut mereka dengan tangan besar dan kasar mereka.

Lelaki itu mengucapkan sesuatu pada Shin Hye yang tidak gadis itu mengerti bahasanya, tercium bau alcohol dan daging babi yang pekat dari mulut orang itu. Karena tidak tahan mencium bau tersebut Shin Hye tidak bisa menahan gejolak yang mau keluar dari perutnya itu dan muntahan menjijikan keluar dari mulutnya dan menyembur tubuh lelaki itu membuat lelaki jangkung itu memakinya dan membanting tubuh gadis itu kelantai.  Tiba-tiba perampok itu menarik paksa tas yang dibawa Shin Hye dan mengajak temannya yang bertubuh gempal meninggalkan mereka berdua dengan kesal.

Shin Hye hanya bisa tertegun dan sudah tidak mampu berteriak lagi karena bantingan keras lelaki itu tadi. Ibunya mendekatinya dan membantunya berdiri. “Ssinz ah kau baik-baik saja? Bagian mana yang sakit nak? Maaf omma tidak bisa membantumu. Tasmu dibawa perampok itu?” tanya Ibunya sambil memandang wajahnya prihatin.

Shin Hye merasa nafasnya tercekat dan hanya airmata yang bisa dikeluarkannya sekarang. Pupus sudah harapannya untuk menonton konser kekasihnya itu. Ia berjalan lemas kearah menuju hotelnya kembali tapi, ibunya menahannya. “apa kau mau menyerah saja seperti ini setelah perjuanganmu datang ke negara sialan ini? Pokonya aku mau menemui Hongki, aku tidak mau melakukan pekerjaan yang sia-sia” bentak ibunya.

“omma, kita sudah tidak punya tiket lagi, percuma saja, ayo kita pulang. Tubuhku sudah sakit jangan ditambah sakit lagi” jawanya dengan nada pelan karena tidak sanggup untuk berbicara keras lagi. Ibunya tidak mendengarkan ucapannya barusan dan malah menggangdengnya dengan keras melanjutkan kembali perjalanan mereka. Melihat ibunya begitu semangat, ia jadi ikut bersemangat dan melupakan rasa sakitnya untuk sementara waktu.

Akhirnya mereka tiba digedung yang mereka tuju. Banner besar terpampang dimuka dinding gedung tersebut, tampak wajah yang dirindukannya sedang tersenyum, senyum yang selalu bisa membuatnya bangkit dari keterpurukan. Suasana diluar gedung itu sepi karena konsernya sudah dimulai dari beberapa menit yang lalu. Mereka berjalan mendekati pintu masuk yang sudah dijaga oleh orang-orang bertubuh kekar.

“mana tiketmu nona” ucap penjaga tersebut dengan bahasa Inggris.

Shin Hye tertunduk sejenak, ia sudah menduga hal ini pasti menjadi penghalangnya bertemu Hongki. Baru saja ia mau menjawab tiba-tiba ibunya mendahuluinya, “putriku ini pacarnya Hongki. Kami tadi habis dirampok orang dan tiketnya ikut terbawa oleh mereka” jelas ibunya. Dan penjaga tersebut hanya saling melempar tawa yang mengejek kepada penjaga lainnya.

“maaf nyonya kami tidak bisa membiarkan kalian masuk kalau tidak ada tiketnya. Lagipula alasan kalian ini kuno sekali sih, kalau kami membiarkan kalian masuk, kami takut ada ratusan gadis yang mengaku-ngaku pacarnya Lee Hongki menonton gratis dikonser ini. Kalau tidak ada tiket kalian bisa menunggu diluar saja, menunggu van mereka keluar” ejeknya lalu meninggalkan mereka berdua.

Shin Hye hanya bisa tertunduk mendengar ibunya mencerocos menyumpahi penjaga tersebut dengan bahasa Thailand. Penjaga itu benar, kalau  saja ia diposisi penjaga itu ia juga akan melakukan hal yang sama. Ia melirik jam tangannya, sudah pukul setengah delapan malam dan besok pagi ia sudah harus checkout dari hotelnya dan terbang ke Korea.  “omma tunggu disini sebentar ya” ucapnya pada ibunya. Ia berlari menuju tempat penjaga itu kembali.

Penjaga disana memasang wajah garang melihat dirinya datang kembali, ia berjalan mendekati orang-orang bertubuh tegap yang dilengkapi senjata itu. Ia menatap wajah mereka bergantian dengan nafas tersengal-sengal dengan cepat ia melepaskan gelang tangan yang diberikan Hongki sewaktu liburan kemarin. “kau boleh tidak percaya padaku, tapi tolong berikan ini pada Hongki. Terimakasih sebelumnya” ucapnya sambil menyerahkan gelang itu pada penjaga itu. “maaf aku tidak bisa memberimu tip untuk hal ini, aku mohon kau berikan ini padanya, sekali lagi terimakasih”. Ia langsung berlalu meninggalkan tempat konser tersebut dan mengajak ibunya kembali ke Hotel. Ia berharap Hongki bisa menerima gelang itu yang menandakan dirinya datang kemari. Rasanya ia ingin sekali menghubungi kekasihnya itu dan menangis sepuasnya sambil menceritakan apa yang dialaminya malam ini. Apa boleh buat semua barang pentingnya dibawa pergi oleh perampok banci sialan itu.

**

“Hongkia kau tadi bernyanyi semangat sekali, suasana begitu hidup tadi” ucap Yoonho sambil merangkulnya.

“tentu saja Hyeong semangat, bernyanyi dihadapan pacar dan calon ibu mertuanya” sindir Minhwan.

Hongki jadi teringat bahwa ia akan menemui Shin Hye dibelakang panggung. Ia dengan cepat berlalu meninggalkan mereka, tidak sabar ingin bertemu kedua orang itu. Ia pun sampai ditempat yang ia janjikan, ia begitu tercengang melihat orang yang dicarinya itu tidak ada. Hanya segerombolan kru yang sibuk dengan urusan mereka masing-masing, ia menghentikan salah satu kru yang sedang lewat didepannya, “permisi, apa kau melihat seorang gadis dengan ibunya?”.

“ah maaf, dari tadi aku tidak melihat orang lain yang masuk kesini kecuali yang memakai seragam konser” jawab yeojah itu.

Hongki hanya mengangguk saja dan membiarkan yeojah itu pergi, ia berjalan lagi keluar gedung dan dengan hati-hati agar tidak tertangkap dikerumunan penggemar yang sudah menunggu van mereka keluar. Ia menyapu pandangannya disepanjang jalanan tapi tetap tidak melihat batang hidung Shin Hye. Ia akhirnya memutuskan untuk kembali lagi kedalam.

Semua orang saling bertukar pandang melihat Hongki masuk dengan wajah cemberut. Namjah itu hanya diam saja dengan wajah kusut tidak karuan. “whae Hyeong? Kau sudah bertemu dengan nuna?” Minhwan duduk disampingnya.

“dia saja tidak datang” jawabnya malas sambil meminum air mineral dari botol yang dibawanya dari panggung tadi.

Minhwan mengerutkan dahinya tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan, “kau yakin? Kenapa tidak menelpon nuna terlebih dahulu? Mungkin nuna menunggu ditempat lain” sarannya.

Dengan malas Hongki mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Shin Hye. Cukup lama telponnya terhubung tapi belum diangkat juga. Ia terus mencoba berulang kali dan hanya  pesan operator yang merespon telpon darinya, “Ssinz kau dimana sebenarnya?” jeritnya dalam hati. Ia mengulangi sekali lagi dan kali ini bukan tidak dijawab tapi sengaja dimatikan. “Hya…apa maksudnya ini” cercahnya dan kali ini ia hanya memasukan kembali ponselnya ke saku celananya.

“bagaimana? Tidak diangkat nuna?” Jaejin ikut penasaran dan bingung melihat keadaan ini.

Hongki menengadah kelangit-langit ruangan tersebut dan beberapa kali mendesah panjang, “bukan tidak diangkat tapi sengaja dimatikannya” jawabnya kesal. “ayo kita pulang, tubuhku rasanya seperti mau terpisah satu sama lain” ungkapnya sambil berdiri dan keluar dari ruangan itu meninggalkan semua orang. Keempat member lainnya ikut keluar dari ruangan tersebut.

Sepanjang ia berjalan menuju lapangan parkir, Hongki tidak berhenti menempelkan ponselnya ketelinga berharap Shin Hye mengangkat telpon darinya, tapi tetap saja dimatikan gadis itu. Pintu van mereka sudah terbuka menunggu mereka masuk kedalam mobil, tampak dari kejauhan Yoonho memberi intruksi kepada mereka untuk berjalan lebih cepat.

Tiba-tiba ia mendengar ada yang memanggil namanya dari belakang dengan cepat ia menoleh dan ternyata itu salah satu dari kru penyelenggara konser, lelaki bertubuh gempal itu melambai padanya dan berlari menuju kearahnya. “Untung saja kau belum berangkat,ada sesuatu yang tertinggal” ucap lelaki itu dengan ngos-ngosan.

Hongki merasa tidak ada lagi barangnya yang tertinggal disana, semuanya sudah ada yang membereskan pikirnya. “benda apa?” tanyanya sambil mengangkat sebelah alisnya.

“ini”

Matanya langsung membelalak terkejut melihat untaian gelang hitam yang waktu itu dikenakannya ke Shin Hye, detak jantungnya serasa berhenti sejenak dan dengan tangan gemetar ia menerima gelang itu. “darimana kau mendapatan ini?” desaknya.

“dari seorang gadis bersama seorang wanita dewasa yang tampaknya ibunya, gilanya gadis itu ingin nonton konser tersebut tanpa tiket, dia bilang ia habis dirampok orang dan tiketnya ikut raib dibawa perampok tersebut” ucapnya dengan tawa sedikit tertahan. Lelaki itu kemudian pergi meninggalkannya sendirian.

Hongki tertegun menatap gelang tersebut, “kau disini tadi? Dimana kau sekarang?” jeritnya kesal. Pantas saja telponnya tidak diangkat sedari tadi, ia mengutuk dirinya sendiri yang kurang peduli dengan keadaan pacarnya tersebut, ia bahkan belum sempat bertanya tempat hotel pacarnya menginap.

Ia masuk kedalam vannya, semua temannya hanya terdiam melihat keadaannya. Van mereka melewati kerumunan penggemar mereka yang setia menunggu van mereka lewat, ia memasati dengan seksama sambil berharap melihat Shin Hye disalah satu kerumunan itu tapi sampai pun ia tidak menemukan juga gadisnya itu.

**

“bagaimana ceritanya kau bisa kerampokan seperti itu Ssinz-ah? aku merasa itu pasti sangat mencekam” ungkap Eunjung.

Ia tiba di Korea semalam dari transit singkatnya di Jepang, ia mengangguk saja mendengar respon dari sahabatnya itu dengan senyum tipis yang payah. “dan hebatnya aku tidak jadi menonton konser FTIsland padahal aku sudah janji pada Hongki, sekarang aku yakin dia marah sekali padaku” tambahnya, perasaan sakit hati terus menghinggapinya. Ia mendesah panjang sambil memeluk lutut dihadapan Eunjung yang memandang simpati padanya.

“kau sudah menelpon Hongki belum? Kalau oppa tahu keadaan yang sebenarnya dia pasti tidak akan marah”

“sebenarnya malam itu aku ingin sekali menghubunginya dan menceritakan keadaan yang sebenarnya tapi ponselku kan dibawa perampok sialan itu dan aku tidak hafal nomor Hongki” jelasnya. Ini salah satu ke konyolan yang dimilikinya, ia malas sekali mengingat hal kecil tetapi sangat penting seperti itu.

“kau mau pinjam ponselku untuk mengubunginya?” tawar Eunjung sambil menyodorkan ponselnya.

Shin Hye memandang lama ponse tersebut, ingin, tapi takut. Ia mengambil ponsel tersebut dan langsung menuruti usul Eunjung. Ia menghubungi nomor Hongki,  “yeobseo” terdengan suara namjah tersebut serak seperti baru bangun tidur.

Shin Hye berdeham sejenak sebelum mengeluarkan suaranya, “ehm, cheongmal mianhae Hongkia”, hanya itu yang diucapkannya, tampak jelas ekspresi terkejut dari Eunjung.

“Ssinz, hya apa kalian baik-baik saja? Dimana kau sekarang” suara syok dari Hongki jelas terlihat. ia juga terbayang wajah namjah itu sekarang.

“aku sudah di Korea sekarang besok pagi aku sudah harus berangkat ke Paris, kami baik-baik saja, sayang sekali kita tidak jadi bertemu” desahnya panjang.

“syukurlah kalau kalian baik-baik saja, aku menyesal seharusnya aku mengirim orang untuk menjemput kalian, aku jadi tidak enak dengan ibumu Ssinz” ungkapnya.

“tidak perlu khawatir, ommaku mengerti kesibukanmu. Kau tahu dia antusias sekali ingin melihatmu kemarin, kau sudah terima gelangku?” ia teringat akan gelang yang dititipkannya kepada sekuriti waktu itu.

“iya aku sudah menerimanya, mendengar kabar kau kena rampok rasanya jantungku mau lepas. Aku benar-benar tidak bisa tidur karena memikirkan kalian berdua, sungguh”

“ya aku tahu, oh ya aku matikan dulu ya tidak enak ini ponselnya Eunjung. Oh ya nantia kau kabari nomor baruku, annyeong..saranghae” ucapnya.

“saranghae, chu…” sambung Hongki. Shin Hye langsung mematikan telponnya dan saling bercengkraman senang dengan Eunjung.

Eunjung membelalakan matanya dan menggenggam tangannya erat, “hua..aku benar-benar iri melihat kalian. Kapan ya aku punya pacar artis juga?” ucap Eunjung takjub.

**

“Omma, Eunjung, jaga diri kalian baik-baik ya. Aku berangkat dulu” ia memeluk bergantian sahabat dan ibunya itu. selama tiga bulanan ia tidak akan bertemu Eunjung dan pasti akan sangat merindukan suasana di Korea. Ia berjalan masuk meninggalkan kedua orang tersebut sambil melambaikan tangan. Sudah ada yang menjemputnya nanti sesampainya di Paris, ia jadi tidak sabar ingin jalan-jalan di kota fashion dan tempat penuh cinta itu, disana juga lahir perancang busana kelas dunia.

Ia mengambil pernerbangan langsung melalui bandara Incheon ketimbang melalui Gimpo yang mengharuskannnya transit terlebih dahulu di Jepang dan memakan waktu kurang lebih 24 jam, begitu membosankan, dan ia sudah sakit hati dengan negara tersebut. Ia juga kesal dengan Yabi yang mengatakan aka nada yang mengurus keberangkatannya ini dan ternyata ia harus mengurus sendiri keperluannya, sungguh malang pikirnya.

Sepanjang dipenerbangan tidak hentinya ia berdoa karena jujur saja ia takut dengan ketinggian, ia tidak betah berlama-lama dalam pesawat. Jantungnya terus memompa dengan kuat. Membayangkan bahwa 12 jam ia akan berada diatas langit rasanya perutnya seperti diremas oleh ribuan tangan, ia memejamkan matanya berharap dengan tidur ia bisa mengurangi ketakutannya.

**

Ia terbangun saat penunmpang yang duduk disampingnya tanpa sengaja menyikut sikunya. Dari wajahnya jelas itu wisatawan asing juga, ia hanya tersenyum pada orang itu. Ia yakin orang itu pasti mengiranya sudah mati bukaannya tidur. “wah masih malam ya?” tanyanya pada diri sendiri. Ia melirik jam tangannya, “oh sudah subuh”.

Terdengar suara pramugari menyatakan bahwa mereka sudah tiba di Paris. Shin Hye memberanikan diri melihat kebawah dan ia sangat takjub melihat pemandangan kota Paris dari ketinggian seperti ini. “neomu yepputa” Ungkapnya.

Setibanya dibandara Paris ia langsung mencari tag nama ‘Aubrey Franchesca’ –seorang utusan yang dikirim dari La Mode, petugas disana begitu ketat sehingga kalau saja ia lupa membawa undangan dari negara ini maka ia  akan dikirim kembali ke Korea. Ia akhirnya menemukan tag nama yang dicarinya, seorang gadis berambut ikal sebahu dengan warna rambutnya yang maroon begitu mengkilap dikulit putihnya. Ia berjalan mendekati Aubrey yang tampak sedang mencarinya juga. “Bonjour…” sapanya saat berdiri lebih dekat dengan gadis itu.

“Bonjour…Kau pasti Park Shin Hye, bukan?” Aubrey menebak sambil tersenyum ramah yang memamerkan kawat giginya yang berwarna bening.

Shin Hye membalas senyum gadis itu sambil mengangguk singkat, “benar, senang berkenalan denganmu dan mohon bimbingannya” ungkapnya sambil menjulurkan tangannya dan Aubrey menerima dengan senang hati.

Mereka menempuh perjalanan menuju La Mode dengan menggunakan taksi, sepanjang perjalanan Aubrey menjelaskan tentang peraturan yang sangat ketat disekolah tersebut salah satunya dilarang menggunakan Handphone bahkan semua ponsel milik murid semuanya disita oleh badan pengawas. Shin Hye mengerutkan dahinya mendengar aturan-aturan itu, “lalu bagaimana kamu berkomunikasi dengan temanmu? Maksudku diluar La Mode?”, rasanya mulutnya sudah pegal menyesuaikan pengucapan Bahasa Perancis yang menurutnya paling rumit dibandingkan bahasa yang pernah ia kenal sebelumnya.

Aubrey mendongak keatas dan matanya berpindah dari kiri ke kanan, “kalau aku biasanya berkomunikasi lewat twitter atau jejaring sosial begitu. La Mode menyediakan layanan wifi 24 jam yang bebas diakses oleh seluruh mahasiswa disana, setiap siswa juga diberikan satu buah Ipad sebagai penunjang belajarnya” jelasnya.

Ngomong-ngomong soal twitter, ia jadi teringat mengenai Hongki. Masih jelas diingatannya saat pacarnya itu menunjukan avatar twitternya padanya, bahkan nama akunnya pun ia ingat. Ini pertama kalinya ia merasakan perasaan yang kuat terhadap seorang namjah walaupun ia pernah berpacaran beberapa kali tapi perasaannya pada Hongki berbeda dari lainnya.

**

“CUT!” Perintah sutradara membuatnya berhenti berpose  ria, mereka sedang pemotretan untuk program variety shownya bersama Im Gyuri. Sutradara mengarahkan mereka untuk berpose seperti layaknya seorang pasangan, ia sedikit sebal harus melakukan hal yang sangat tidak diinginkannya itu. “pemotretannya sampai disini dulu”  ungkap sutradara Shun. Hongki berjalan mendekati sutradara Shun dan melihat beberapa hasil pemotretannya, bagus, semuanya terlihat bagus dan wajahnya terlihat cerah.

Ponselnya bergetar panjang yang menandakan ada telepon masuk, ia langsung berjalan menjauhi kerumunan orang tersebut. Ia berharap telepon tersebut dari Shin Hye dan ternyata benar, dengan semangat ia mengangkat telepon tersebut “ne yeobseo jagia..” ini pertama kalinya ia memanggil kekasihnya itu dengan kata “sayang!”. “kau sudah tiba di Paris, bagaimana kota yang menjadi mimpimu selama ini? Ceritakan padaku” ia belum sempat membiarkan Shin Hye menyapanya dan langsung menjejali pertanyaan.

Terdengar kekehan tertahan Shin Hye, “ne, bagus sekali disini jagia…susah untuk diceritakan” ungkapnya, “kau tahu aku langsung dapat teman yang baik disini, namanya Aubrey dia teman sekamarku diasrama. Kami baru kenal pagi tadi dibandara dan ajaib kami langsung akrab” takjubnya.

“aku senang kau senang disana, belajarlah yang baik dan fokuskan dengan apa yang kau cita-citakan Ssinz-aah, ah cheongmal bogoshippo” desahnya panjang. “oh ya kau sudah sarapan belum?” tanya nya spontan.

“ehm, belum, baru juga tiba diasrama. Aku berencana cari tempat sarapan yang bagus bersama Aubrey,  kau?  Memangnya pemotratan  untuk apa sampai pagi-pagi sekali masih bekerja?” tanya nya balik.

Hongki memindahkan ponselnya ketelinga sebelah kiri dan menyandarkan bahunya di kursi santai yang dibawakan Yoonho. “kami syutingnya dari malam tadi tapi baru mendapat hasil yang bagus subuh tadi” jawabnya sambil mendengkur lelah.

“oh, jangan bekerja terlalu keras, araso! Aku tidak mau saat pulang nanti melihat wajahmu sudah seperti mayat hidup!” peringatnya keras. Tiba-tiba ada yang memanggilnya dari belakang, “Hongki aku tutup dulu ya, annyeong jagi”

Cklit! Telponnya langsung terputus tanpa belum sempat ia membalas salam gadis itu. Ia meletakan ponselnya kembali ke saku jaket bagian dalamnya dan memandang kesekitar, ternyata sedari tadi ada yang memperhatikannya sedang berteleponan, Gyuri tersenyum sambil melipat tangan didada, tangan kanan gadis itu menenteng kopi panas, gadis itu memandangnya cukup lama. “whae? Kenapa kau senyum-senyum sendiri?” tanyanya sambil menegakan duduknya.

Gyuri berjalan mendekatinya, suara ketukan high-heelnya terdengar mengalun diruangan tersebut. “pasti telepon dari pacarmu? Jagi…” Gyuri mempraktekan ulang cara Hongki menyapa pacarnya ditelepon barusan.

“mwo ya!!!” gerutunya kesal.

“tampaknya kau sayang sekali dengan pacarmu itu jagi..” goda Gyuri sambil menempelkan gelas kopi yang hangat itu dipipi Hongki membuat namjah itu terkesiap kaget dan menatapnya marah. Ia selalu berani melakukan hal aneh dan membuat kesal Hongki karena namjah itu lebih muda tiga tahun darinya, ia lebih menganggap namjah ini adiknya dibandingkan mantannya. “hey kapan-kapan kau kenalkan dia padaku ya?” pintanya.

“ne Gyuri nuna” ungkapnya malas sambil memainkan Ipadnya. Ia sedang membuka akun twitternya membaca beberapa pesan dari penggemarnya yang kadang membuatnya tertawa sendiri saking anehnya pesan-pesan itu. Ada yang memintanya untuk menikah, dan bahkan lebih aneh dari itu pun ada.

Gyuri merampas Ipad itu dari tangan Hongki dan tertawa melihat twitter namjah itu, “follow akunku ya?” ia langsung mencari nama akunnya. “nanti aku follow-back” ucapnya sambil menyerahkan Ipad itu kembali ke Hongki.

“kau! Selalu saja menindasku! Ini privasiku dan kau berani membukanya dan memainkannya” gerutunya kesal sambil mengapit Ipadnya keketiaknya.

Gyuri mencubit bibir namjah yang muncung kedepan itu, “kau ini berlebihan sekali!” ungkapnya sambil menarik bibir itu, wajah Hongki bertambah kesal dari yang tadi dan lebih memilih meninggalkannya sendirian. “

**

“maaf nona Park Shin Hye, kami disini melarang keras bagi siswa untuk menggunakan ponsel itulah gunanya kami menyediakan Ipad kepada kalian semua” ucap wanita yang menjabat sebagai Badan Pengawas Kemahasiswaan disini. Wanita itu membuka sebuah kardus yang berisikan handphone yang mungkin milik siswa lainnya juga. “taruh disini” pintanya dengan suara seraknya yang menjijikan.

Shin Hye tidak mau mengambil resiko dan memasukan handphone yang dibelinya belum sampai satu minggu itu dan sekarang sudah berada ditangan wanita menyeramkan itu. Ia memandang wajah Aubrey, gadis itu hanya mengangguk saja dengan wajah seperti “ikuti saja peraturan darinya atau kau akan digantung olehnya. “apa aku masih bisa menggunakannya saat sabtu malam?” tanyanya sambil menggigit bibir bawahnya dengan sedikit cemas bercampur takut.

Wanita kurus tinggi, berambut hitam pekat diikat habis kebelakang dan hidungnya panjang seperti tokoh kartun ‘squibwerd’ memandang wajahnya dengan mata nyaris keluar, “tentu saja…TIDAK BOLEH!” jelasnya didepan wajah Shin Hye.

Shin Hye nyaris mau muntah mencium aroma tidak enak yang keluar dari mulut besar wanita itu. Dengan santai ia menjauhkan wajahnya dari wanita itu, beruntungnya wanita itu segera menjauhkan wajahnya juga dan memberinya selembar kertas yang katanya berisi jadwalnya selama disini. Matanya melebar begitu melihat setiap sabtu dan minggu merupakan acara bebas dan tidak ada mata kuliah apa pun.

Ketika wanita itu sudah berlalu dan tinggal ia dan Aubrey saja dikamar, mereka saling bertukar pandang. Aubrey mendekatinya dan duduk disampingnya, “tidak perlu se-frustasi itu” gadis itu berusaha menenanginya. “kau mau kutemani keliling sekolah ini?” tawar  Aubrey dengan senyum manis yang terpancar diwajahnya.

“baiklah” ia menerima tawaran tersebut dan beranjak dari tempat tidurnya.

 Mereka keluar dari ruang kamar dan berjalan mengelilingi sekolah yang besarnya tidak terbayangkan olehnya. Aubrey membawanya ke beberapa tempat seperti ruangan dasar yang menyimpan sekiranya lebih dari ratusan jenis dasar dengan berbagai warna, ia benar-benar tidak sabar ingin belajar bersama mereka disana. Aubrey memanggil beberapa temannya dan mengenalkannya pada Shin Hye.

“Bonjour, perkenalkan aku Park Shin Hye senang berkenalan dengan kalian dan mohon bantuannya” ucapnya dalam bahasa Perancis. Semua orang itu langsung membelalakan mata dan langsung tersenyum mendengarnya berbicara bahasa mereka dengan lancar. Orang Perancis begitu membanggakan bahasa mereka dan hanya beberapa tempat tertentu yang merespon orang berbahasa Inggris.

“kau dari Korea ya?” tanya salah satu lelaki dari kelima orang tersebut, namanya Philip, dia satu-satunya lelaki dari kelima gadis yang dihadapannya itu. Wajahnya juga lumayan manis dengan bola mata berwarna hijau dan alis mata yang tebal. Gaya berpakaiannya juga begitu modis walaupun terlihat bawaannya agak melambai.

Shin Hye mangangguk semangat, “iya aku dari Korea” jawabnya.

“hua senang sekali mendapat teman baru lagi” ungkap gadis berponi yang wajahnya tampak sangat Asia juga. “aku juga dari Asia, Indonesia tepatnya” tambah gadis bernama Resha itu.

“oh ya  sabtu malam nanti kami mau jalan-jalan ke Eiffel tower, kau mau ikut?” tanya Resha, “kami biasa menghabiskan libur bersama seperti shopping, nonton dan banyak lagi” ucapnya dengan penuh semangat.

“tentu saja aku mau” jawabnya. Ia begitu membutuhkan teman saat ini, setidaknya untuk menunjukan jalan selama di Paris.

Setelah seharian mereka berkeliling diseluruh penjuru sekolah mereka kembali kekamar. Aubrey merebahkan tubuhnya di tempat tidurnya sendiri sambil memainkan Ipadnya. Shin Hye datang mendekati gadis itu, “kau sedang main twitter ya?” tanya nya.

“iya, kau punya akun?”

“belum, aku ingin buat tapi aku belum mengerti cara memainkannya” jelasnya.

“kau mau buat? Nanti aku ajari cara bermainnya”

Tentu saja ia menerima tawaran teman barunya itu, dengan cepat ia mengambil Ipadnya yang masih terbungkus rapi didalam tas berwarna ungu itu.

Shin Hye langsung mengoperasikan twitternya seperti yang diajarkan Aubrey, menarik, dan orang pertama yang di follownya adalah Hongki. Ia berencana untuk menghubungi pacarnya itu melalui jejaring sosial ini.

“skullhong?” Aubrey mengangkat sebelah alisnya dan menatapnya lekat-lekat. “who’s him?”

Ia hanya mendongak sejenak kearah temannya dengan wajh bersemu, “dia pacarku” jawabnya tanpa beralih dari Ipadnya, dari tadi ia membaca semua kicauan pacarnya itu di twitter.

“kau gila? Followernya banyak sekali Shin Hye, apa dia artis?” tanyanya dengan mulut sedikit menganga memamerkan behelnya dari pangkal sampai ujung .

“yup” jawabnya singkat. Ia tidak mau menceritakan lebih banyak lagi, sekarang ia mulai mengirimi pesan kepada Hongki. Tangannya gemetar untuk mengetikan pesan tersebut, gerogi? TIDAK! Ia hanya bingung ingin memulai dari apa. Tiba-tiba muncul status terbaru dari akun Hongki, “jagia…kau pasti sedang online” gumamnya dengan sedikit menahan histerianya. Jarinya kembali bersemangat untuk mengetikan pesannya itu.

Ssinz @skullhong:  Annyeong Hongki…ini aku Shin Hye.aku baru setengah jam yang lalu memulai twitter, menyenangkan, bagaimana kabarmu jagi? ^^

Selama seharian penuh ia menunggui balasan dari Hongki tapi tidak, bahkan pacarnya itu tidak memfollownya balik. Ia sadar ada banyak orang yang mengiriminya pesan, mungkin ia harus mencoba dilain waktu.

**

“sret…” terdengar suara tirai yang digeser dan cahaya matahari langsung menyambar sekujur tubuh yang sedang terbaring itu. Hongki berbalik arah menghindari paparan cahaya yang menyilaukannya. Gyuri menghempaskan kakinya karena kesal namjah ini tidak mau bangun, “Hongkia..ayo bangun sudah siang” ia mengguncang-guncangkan tubuh namjah itu.

“bwo ya nuna!!!!!!..kapan sekiranya kau ini tidak menggangguku? Aku ingin hidup dengan damai!!!!” erang Hongki kesal dengan mata masih tertutup.

Dengan satu tarikan, ia menarik selimut yang membuat Hongki semakin nyenyak untuk tidur. “hey namjah babo, aku sudah bela-belakan kemari untuk mengajakmu jalan-jalan!!!” teriaknya dengan tangannya terus mengguncang tubuh namjah itu, dan akhirnya ia berhasil membangunkannya.

Hongki mengucek matanya dan memandang samar pada Gyuri yang memasang senyum bahagia serta puas. Selama ia di Jepang hanya hari ini jadwalnya yang kosong. Mereka baru saja melunasi hutang tur Jepang mereka selama satu bulan penuh, dan ia sudah menghayal berkesempatan untuk tidur sampai siang hari ini tapi, sepertinya khayalan itu harus sirna karena gangguan tidak terduga ini. “nuna, apa kau pernah merasakan betapa pusingnya kalau orang tiba-tiba terbangun? Lagipula, aku sangat malas untuk jalan-jalan, nuna bisa ajak yang lain saja pasti mereka mau” tolaknya, “Jonghun!, dia itu rajanya belanja pasti ia tidak menolak kalau diajak jalan-jalan” ucapnya dengan suara yang terdengar masih serak karena semalam ia tampil habis-habisan. Ia kembali menggulingkan badannya dan menutup kepalanya dengan bantal.

“aku tidak mau Hongstar! Aku kan kemari untuk menemuimu, aku ini rindu jalan-jalan bersamamu, ayolah” Gyuri menarik tangan kanan Hongki dengan kuat membuat namjah itu kembali  dalam posisi duduk. “ini” ia menyerahkan handuk yang tergantung disandaran tempat tidur dan menyerahkannya pada Hongki, “kelewatan kalau kau masih bilang pusing setelah kau mandi! Aku tunggu kau dibawah” ucapnya tegas lalu  berlalu meninggalkannya sendirian.

Hongki mengutuk yeojah itu, “kukira hidupku akan tenang setelah putus darinya, ah apa aku pernah membuat kesalahan dimasa lalu” erangnya sambil berjalan malas menuju kamar mandi. Seluruh tubuhnya rasanya ingin kembali berbaring tapi sudahlah, ia juga memperhitungkan perjuangan gadis itu untuk datang kemari.

Setelah selesai dengan urusan tubuhnya dan mengecek apakah ada perubahan dari keadaan ponselnya itu, ternyata tidak, sama seperti sebelumnya tidak ada pesan dari Shin Hye. Perasaan kesal kadang datang padanya,  ia memaklumi keadaan kekasihnya yang sedang menuntut ilmu dinegri orang.

Setelah mengambil tasnya ia langsung bergegas menuju lantai bawah. Dilihatnya Gyuri tampak menikmati obrolan bersama teman-temannya yang terlihat jelas wajah mereka memaksakan untuk terlihat senang, bagaimana tidak, mereka semua menantikan bisa istirahat tenang.

**

“tengkorak lagi?” gumam Philip, terdengar agaksedikit kecewa, dari balik punggung Shin Hye.

Ia tidak tahu kenapa ia sangat suka membuat sketsa pakaian dengan motif tengkorak, sebenarnya itu bermulai saat ia membuatkan pakaian untuk Hongki. Menurutnya lebih terlihat elegan tapi terlihat santai. Ia sekarang sedang menggambar beberapa sketsa gaun untuk tugas kelompok mereka, ia hanya menggambarkan saja serta membantu Aubrey pada proses penjahitan, sedangkan ahli dalam memilih dan memotong kain adalah Philip. Mereka bertiga satu kelompok, mereka harus menyiapkan sesuatu yang spektakuler karena pekerjaan mereka ini akan ditampilkan dihadapan banyak orang terutama pakar fashion, acara ini sebagai ajang pengambilan nilai untuk mereka.

Pundaknya sudah mulai tidak bersahabat dan matanya juga sudah pegal. Ia memutuskan untuk kembali saja kekamarnya karena kebetulan tidak ada kelas lagi setelah ini. “aku mau kembali kekamar punggungku sakit, tidak apa kan kalau kutinggalkan ini?” ia minta izin temannya terlebih dahulu. Dan untungnya mereka mengangguk setuju.

Setiba dikamar ia langsung merebahkann punggungnya yang sudah pegal bukan main. Tangannya memanjang mencoba menggapai laci disamping ranjangnya mencari benda favoritnya baru-baru ini, Ipad dan langsung membuka twitter. Melalui akun ini ia bisa mengetahui kabar mengenai Hongki, ia suka sekali membaca status terbaru pacarnya itu walaupun ia sudah mengirimkan banyak pesan dan tak satu pun yang dibalas.

Ia tidak terlalu banyak orang yang difollownya, tentu orang pertama yang difollownya adalah Hongki lalu teman-temannya disini. Jarinya terus bergerak turun dan ternyata benar Hongki baru saja meng-update status terbaru beserta foto, tidak sabar ia ingin melihat wajah namjah ini lalu langsung membukanya.

@skullhong : kencan yang kukira membosankan ternyata menyenagkan bersama @gyurIM

Jantungnya tiba-tiba berdetak cepat saat membaca status terbaru itu, muncul dibenaknya “siapa gadis yang dikencaninya itu?”, Dan tidak lama dari situ fotonya akhirnya terbuka, difoto tersebut Hongki bersama seorang gadis, cantik dan tampak sangat akrab dengan Hongki. Tangan gadis itu tampak merangkul namjah itu erat, jarak mereka begitu dekat, dan juga Hongki menyandarkan kepalanya dibahu gadis itu.

Shin Hye terpaku melihat apa yang ada dihadapannya ini, tangannya gemetar dan seluruh tubuhnya memanas seketika. Ia menatap foto itu lama dan lalu membuka profil Hongki, ia bertambah terkejut melihat Hongki sekiriman pesan dengan gadis bernama Gyuri itu. selama ini ia terus mengiriminya pesan dan menanyakan kabarnya tiap malam, pagi dan siang, tidak ada kata jenuh baginya untuk menanyakan kabar namjah-chingunya itu. Tapi gadis ini baru saja difollow oleh Hongki dan pesan-pesannya dibalas oleh namjah itu.

Tanpa ia ketahui airmatanya jatuh perlahan dipipinya, “mwo ya? Whae Ssinz-ah?” rintihnya mencoba untuk tenang dan kuat tapi, ia tidak bisa berhenti dan airmata terus jatuh membasahi sprei berwarna ungu tersebut. Ia memeluk Ipad  didadanya yang sekarang mulai terasa sakit, perasaan ini pernah dialaminya sebelumnya saat ia mengakhiri hubungannya dengan Ji Wun dan kini perasaan itu muncul lagi. ia berharap hal yang dialaminya bersama Ji Wun tidak akan dialaminya bersama Hongki, mereka jauh berbeda, Hongki bukan orang yang mudah menyerah dan mudah terpengaruh seperti Ji Wun.

Ia bangkit dan kemudian duduk bersila menyandar ke sandaran ranjangnya itu, dengan menggunakan punggung tangannya ia menghapus airmatanya itu. Muncul sebuah ide yang menyuruhnya untuk mencari tahu siapa gadis itu. Dengan Ipadnya, ia langsung membuka situs mesin pencari dari Korea dan kemudian mengetik nama gadis itu beserta nama Hongki. Ia ingin tahu ada hubungan apa pacarnya itu dengan Gyuri.

Dalam hitungan detik muncul beberapa data dari berbagai sumber. Ia terperangah membaca judul tulisan paling atas, “Im Gyuri was Hongki-ex”, dan kemudian “Hongki spent the time with Gyuri in Bali”. Ia membaca satu persatu berita tersebut, dan ada banyak sekali foto Hongki bersama gadis itu dari yang lama sampai yang terbaru. Dan hebatnya ternyata Hongki dipertemukan lagi bersama mantannya disatu variety show dan berperan sebagai sepasang kekasih.

Shin Hye menaruh kembali Ipadnya tersebut, semua yang baru diketahuinya itu cukup menambah luka dihatinya. Ia menyesali kenapa Hongki tidak pernah cerita mengenai mantannya itu, ia sadar itu bukan haknya tapi, setidaknya mengenai variety show itu Hongki harusnya bercerita bahwa ia akan dipertemukan lagi dengan mantannya. Ia bukannya melarang tapi ini terlalu menyakitkan bahwa ia harus mencari tahu hal ini sendiri.

**

Hari-harinya bersama Gyuri ternyata tidak seburuk yang dibayangkannya, gadis itu selalu menampung curhatannya dan suka memberinya nasihat yang baik, ia sering bercerita mengenai Shin Hye dan Gyuri begitu ingin berkenalan dengan gadisnya itu. Akhir-akhir ini juga ia terus kepikiran wajah Shin Hye dan bahkan  semalam ia bermimpi gadis itu menangis dihadapannya tapi tidak mengatakan apa-apa hanya menangis! perasaan rindunya terhadap gadisnya itu mungki sudah mencapai ubun-ubun dan ia tidak tahu bagaimana caranya agar bisa menghubungi gadisnya itu. Telpon darinya selalu dialihkan.

Ia memandang dari kejauhan tampak Gyuri sedang memasukan roti kedalam mulutnya, yang dipermasalahkannya bukan rotinya tapi bentuk dari roti tersebut, sepertinya ia pernah melihatnya sebelumnya. Ia jadi penasaran dan mendekati kerumunan orang tersebut. “Nuna, yang kau makan itu apa?” tanyanya pada Gyuri yang sedang asyik mengunyah.

“Croissant! Kau mau? Kulihat kau belum sarapan apapun pagi ini” jawab gadis itu ditengah kegiatan mengunyahnya.

Ia mengangguk semangat, sudah lama ia tidak memakan kue bulan tersebut, sampai sekarang ia belum bisa menyebut dengan benar nama kue itu. Ia menerima kotak yang disuguhkan Gyuri yang berisikan kue tersebut. “kalian beli kue ini dimana?” tanyanya.

“salah satu kru kita ada yang bisa memasaknya, dia baik sekali membuatkan kue-kue ini untuk kita” sahut Yoonho yang sudah terhenyak kekenyangan dibangku empuk itu.

Melihat kue ini yang terbayang olehnya hanya Shin Hye dan restoran Perancis yang sering mereka berdua datangi. Itu salah satu tempat kencan favorit mereka. Ngomong-ngomong soal Shin Hye, tidak disangka sudah hampir satu bulan lebih mereka tidak bertemu dan berbicara. Ia pernah dengar mengenai sekolah yang Shin Hye berada sekarang, tempat dibentuknya para desainer terkenal didunia.

 to be continue….

**“maaf kalau FF ini agak lambat dilanjutinnya coz maklum lagi sibuk buat UTS ^^, semoga kalian terhibur dengan part 8 ini dan tunggu part selanjutnya yang akan jadi ending “Bonjour, Madame Croissant”, maaf juga kalau ceritanya agak terlalu panjang karena rencanaku awalnya ingin ngirim cerita ini ke penerbit, tapi mungkin suatu saat…amen (twitter author: @TanMayang)”**

Your appreciation please....

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s