FTISLAND & MBLAQ I News Update I Twitter Update I Pictures Update

[HongYe’s Fanfic] “Bonjour! Madame Croissant” (Pt.7)

Part. 7

Diperjalanan yang entah sudah berapa jam mereka berada dalam mobil ini, sesekali Shin Hye melirik Hongki yang sangat berkonsentrasi menyetir. Ditengah Suasana hening dimobil tiba-tiba terdengar suara deringan ponsel dan itu berasal dari ponsel namjah itu.

“yeobseo? Oh Omma… anio omma, nanti aku jelaskan semuanya padamu, semuanya baik-baik saja, oh ya bagaimana dengan hal itu?..ah terimakasih omma..bye omma” Hongki meletakan kembali ponselnya dengan senyum mengembang tanpa hentinya.

Shin Hye memandang keluar jendela dan suasana kota sudah jelas tidak tampak lagi, yang tampak hanya suasana sepi khas pedesaan, ia sudah merasa gerah dengan gaun merahnya itu dan rasanya ingin mandi dan istirahat, mau minta antar pulang tidak mungkin karena pasti Hongki akan mengocehinya tanpa henti, dengan sedikit mengatur posisi bangku, mencari posisi yang nyaman untuk tidur, ia menyandarkan kepalanya lalu memejamkan matanya.

***

Akhirnya mereka sampai ditempat tujuan, langit sudah gelap dan dinginnya deru angin menusuk sampai ketulang, ia memandang Shin Hye yang sudah terlelap dalam tidur nyenyaknya dan posisi duduknya sudah tidak karuan lagi. Dengan perlahan ia meluruskan kepala gadis itu dan membangunkannya, “Ssinz-ah, kita sudah sampai” bisiknya pelan.

Gadis itu beringsut dari tidurnya lalu mulai sedikit membuka matanya dan mengucek matanya beberapa kali memandang wajahnya. Hongki membantunya melepaskan sabuk pengamannya. Shin Hye memandang keluar jendela dan wajahnya langsung berubah tegang menatap Hongki. “Hya Hongki dimana kita ini sekarang? Kenapa sudah malam seperti ini?” tanya Shin Hye dengan nada gelagapan.

“ini rumahku, ayo turun. Tenang saja aku tadi sudah menelpon Eunjung dan dia mengizinkanku untuk membawamu” ucapnya lalu turun dari mobil. Ia memandang gadis itu masih tertunduk belum mau keluar dari mobil. Ia langsung membukakan pintu untuk gadis itu, “ayo” sambil menjulurkan tangannya namun Shin Hye malah langsung keluar tanpa menyambutnya. Wajah gelisah jelas terlihat diwajah gadis itu. Hongki menggandeng tangannya dan langsung membawanya masuk kedalam rumah yang bentuknya masih sangat tradisional itu, begitu banyak pintu dirumah itu, Hongki melirik Shin Hye yang kebingungan dengan suasana rumahnya.

“Annyeonghaseo…Ommoni…Appa….” Hongki menyerukan dengan semangat kedalam rumah itu.

Shin Hye memandangnya dengan tatapan tajam, “kita sekarang dirumah orangtuamu? Ya ampun kenapa tidak kau kasih tahu aku dulu sih! Kau ini!” gerutu Shin Hye.

Dari dalam muncul sepasang suami istri menyambut mereka dengan senyum mengembang. Hongki langsung berlari menuju Omma dan appanya dan memeluk kedua orang itu, “hua..aku sangat rindu kalian berdua…” rengeknya. Sudah lama ia tidak bermanja dengan orang tuanya dan sekarang saatnya ia melepaskan semua rindunya itu.

“Hongki kau kemari dengan seorang gadis, apa dia yang ada diberita tadi siang?” tanya Ommanya sambil tersenyum pada Shin Hye dan si gadis itu pun  membungkuk beberapa kali sambil tersenyum.

“nanti dulu bertanya macam-macam, sekarang ayo masuk kedalam hidangannya nanti keburu dingin” ucap appanya. Kedua orangtunya langsung berlalu masuk

Hongki  mendekati Shin Hye yang masih berdiri kaku dengan gaun merahnya yang cantik, walaupun sudah sekusut apapun dandanan gadis itu Hongki masih mengaguminya. “ayo, ommaku sudah menyiapkan makan malam untuk kita. Ssinz-ah maaf…aku tidak memberitahu sebelumnya kalau kuberitahu pasti kau menolaknya” ucapnya mencoba menjelaskan pada Shin hye yang wajahnya sudah merah seperti ingin marah.

“sudahlah, sudah terlanjur terjadi, ayo masuk. Tidak sopan membuat orangtua menunggu” ucap Shin Hye dengan sedikit menyunggingkan senyum walaupun masih terlihat agak terpaksa.

Hongki menuntun gadis itu menuju ruang tengah dan diruangan itu sudah terhidang banyak makanan lezat kesukaannya yang dimasak oleh ommanya sendiri. “ayo, silahkan  duduk” Ommanya Hongki tangan Shin Hye dan menuntun gadis itu untuk duduk disampingnya.

“Oh ya apa kalian berdua ini benar-benar pacaran? Ah ngomong-ngomong siapa namamu?” tanya Ommanya sambil menuangkap teh hijau untuk Shin Hye.

Shin Hye manyambutnya dengan tersenyum dan membungkuk beberapa kali pada appa dan ammanya Hongki, “terimakasih ommoni, namaku Park Shin Hye, senang berkenalan dengan kalian”

“apa? Kau…” Ommanya Hongki tiba-tiba gelagapan begitupula dengan suaminya.

“ne omma, dia anak bibi, sahabat omma. Aku meminta bantuannya untuk mengaku sebagai pacarku karena direktur memaksaku untuk mengenalkan sosok dimajalah itu pada public” Hongki mulai menjelaskan  cerita yang sesungguhnya, sebenarnya ditelpon tadi ia ingin menjelaskan semuanya.

Ommanya memandang tidak percaya pada Shin Hye begitupula appanya, Hongki terkejut saat ommanya memeluk Shin Hye dengan erat, “ah putrimu cantik sekali Shin Yun-ah…” Ommanya menyebut nama ibunya Shin Hye, melepaskan pelukannya dan memandang takjub pada Shin Hye.

Mereka menghabiskan makan malam dengan penuh tawa hangat. Hongki baru kali ini melihat tawa lepas Shin Hye. Shin Hye dengan senang hati membantu ibunya membereskan makanan dimeja dengan gaun masih melekat ditubuh gadis itu.

Ibu dan anak itu mengantar Shin Hye kekamar milik adiknya, kamar itu kosong karena adiknya tidak tinggal dirumahnya tapi ditempat pamannya karena alasan sekolah. “Ssinz-ah kau bisa pakai pakaian adikku selama disini, anggap saja ini rumahmu sendiri, dan juga kalau kau butuh bantuan kau bisa datang kekamarku didepan ruangan ini” ucap Hongki sambil menunjuk pintu diseberang kamar tersebut.

“Shin Hye-ah…selamat malam dan semoga mimpi indah” ucap Ommanya lalu menutup pintu kamar. Ommanya menatapnya sambil mengelus puncak kepalanya, “omma…aku sangat rindu padamu” ucap Hongki sambil tersenyum manja.

“cepatlah kekamarmu dan lekas tidur” ucap Ommanya sambil berbalik dan berjalan meninggalkannya.

Hongki dengan cepat menarik tangan ommanya itu dan membawa ommanya menjauh dari kamar Shin Hye.  “omma, aku boleh tanya sesuatu?”

“tentu saja, kau mau tanya soal apa?” Ucap ommanya kembali memandangnya lurus.

“seandainya aku benar-benar berpacaran dengan Shin Hye, apa kau akan mengizinkannya?” tanyanya dengan sangat hati-hati dan sedikit gugup.

Ommanya menyipitkan mata memandangnya dan mendongak menatapnya, “kau suka kan padanya?” tanya ommanya sambil menunjuk hidung Hongki dengan jari telunjuk.

Dengan sedikit malu dan gugup ia menganggukan kepalanya, “tapi, aku belum menyatakan padanya, aku suka padanya sejak pertama kali bertemu, terdengar mustahil tapi begitulah yang sesungguhnya” ucapnya. Ommanya menarik tangannya dan mengajaknya masuk kedalam kamarnya, beginilah cara ommanya mengajaknya curhat. Ommanya menatapnya sambil tertawa ringan.

“lalu kenapa kau tidak nyatakan saja dari sebelum-sebelumnya dan kalian tidak perlu lagi untuk berbohong pada public” gumamnya, “Hongkia…omma sangat mendukung hal ini, omma senang kau berpacaran dengan putrinya sahabatku. Shin Hye itu cantik dan juga berpendidikan, sudah pasti banyak orang yang mengincarnya jadi kau harus bergerak cepat, untuk apa kau menunggu lama-lama, cepat nyatakan padanya Hongki!” ucap Ommanya geram.

“rencananya juga seperti itu tapi, aku merasa belum melakukan hal yang spesial untuknya, jadi aku mau memberinya kesan yang baik dulu baru menyatakan perasaanku yang sebenarnya, aku benar-benar menyukainya omma” rengeknya sambil menyandarkan kepala kebahu ommanya dan hanyut dalam dekapan ommanya.

***

Setelah keluar dari kamar mandi ini ia merasa sangat segar. Seharian penuh ia memakai gaun merah itu, ia duduk ditempat tidur yang empuk itu sambil memandang piyama yang sedang dipakainya, kebesaran, membuatnya tenggelam dalam piyama motif babi berwarna biru langit dan pink itu. kamar yang tidak terlalu luas itu bercatkan pink muda membuatnya selalu terang dan hangat, tiba-tiba ponselnya berdering setelah seharian diam. Dari layar terpampang nomor tidak dikenal, ia ragu untuk mengangkat telpon dari orang yang tidak dikenal malam-malam seperti ini tapi, ia takut itu nantinya telpon yang penting.

“yeobseo?…oh kau” ucapnya malas, ternyata yang menelponnya malam-malam begini adalah mantannya yang mencampakannya dulu dan membuatnya sempat terpuruk seperti orang gila. “kenapa kau telpon malam-malam begini? Kau tahu ini sangat mengganggu istirahatku!” ketusnya, “benar dia itu pacarku! Kau menelponku selarut ini Cuma untuk menanyakan ini? Cih, benar-benar membuang waktuku saja, berhentilah menghubungiku lagi!” bentaknya dengan suara keras lalu membanting telponnya ketempat tidur. Ia membanting tubuhnya ketempat tidur, ia benar-benar merasa kesal sekarang. Lagi-lagi ponselnya berdering ia langsung membenamkan ponselnya kebawah bantal dan langsung tidur.

Tiba-tiba terdengar suara pintu bergeser dan seberkas sinar lampu masuk menerangi kamarnya yang sudah gelap, ia terbangun dan melihat kepala Hongki nongol dari belakang pintu, “Ssinz-ah kau baik-baik saja?” tanya namjah itu yang masih belum masuk sepenuhnya.

Shin Hye berjalan menuju pintu dan menarik dengan satu tarikan kuat pada  pintu itu hingga terbuka sepenuhnya membuat namjah itu terpelanting kedalam dan jatuh dilantai. “kau kenapa mengintip seperti itu sih! Membuatku takut saja, aku baik-baik saja. Kau kenapa belum tidur?” tanyanya pada namjah yang sedang mengelus bokongnya sambil meringis kesakitan.

Hongki berdiri dengan posisi yang masih kesakitan, “aku belum ngantuk, aku tadi mendengar kau marah-marah sendiri. Kukira ada sesuatu yang terjadi. Memangnya siapa menelponmu malam-malam begini?” tanya nya dengan tatapan curiga.

“ah tidak, Cuma orang salah sambung kok” ucapnya sambil sedikit tersenyum.

“tadi aku menelponmu tapi tidak kau angkat, makanya aku kemari, kau membuatku cemas saja” gerutu Hongki dengan mulut maju dan kening berkerut.

Shin Hye mendongak memandang wajah namjah itu tanpa berkedip, “hey, kau benar-benar mirip dengan omma mu” ucapnya sambil tertawa menutup mulut. Hongki hanya memandangnya aneh, “oh ya keluargamu baik sekali ya, dan juga hangat. Omma pasti senanng kalau kuceritakan kejadian hari ini bersama keluargamu” ungkapnya.

“Omma juga sangat tertarik padamu dan tanpa henti memuji kecantikanmu, sepertinya bagus sekali kalau diadakan pertemuan keluarga, bukan?” tanya namjah itu dengan senyum mengembang.

“benarkah?” ucapnya sambil tersenyum malu sambil memegang pipi.

“hya!! Tidak usah seberlebihan begitu, oh ya kau harus lekas tidur karena besok pagi aku akan mengajakmu jalan-jalan ke danau. Kita mancing ikan. Aku kembali kekamarku ya, selamat malam” ucap pria itu lalu berbalik berjalan menuju pintu.

Shin Hye memandangi punggung namjah itu, “Hongki” panggilnya, namjah itu menoleh padanya sambil mengangkat sebelah alisnya, “selamat malam” ucapnya sambil melambaikan tangannya.

***

“Omma apa kau memindahkan alat pancingku?” tanya Hongki sambil membongkar gudang tempat penyimpanan mainannya sewaktu kecil. Ditempat ini barang-barang mulai dari ia masih bayi sampai sekarang tersimpan rapi.

“ini” Ommanya menyerahkan pancing yang tidak terlalu besar dan berwarna kuning itu padanya. Pancing ini sudah ada bersamanya sejak sepuluh tahun lebih. “kau mau ajak Shin Hye juga?” tanyanya sambil membereskan kembali mainan yang dibongkar tadi.

“iya omma, aku sudah lama tidak main didanau dan memancing, mumpung masih disini karena  nanti sore kami akan pulang ke Seoul” ucapnya.  Tampak jelas raut kecewa diwajah keriput ommanya, “omma…lain kali kami akan main lagi kemari, aku tidak bisa berlama-lama disini karena aku membawa mobil temanku dan juga Shin Hye itu juga kuliah, aku harap Omma mengerti” Hongki memeluk ommanya dengan erat.

Ommanya melepaskan pelukannya dan mendongak menatapnya sambil mengangguk dan tersenyum, “omma mengerti kok” ucapnya sambil mendesah berat. Ommanya melepaskan gelang tangan cantik berkilau yang berhiaskan permata hitam, ia menarik tangan Hongki dan menaruhnya ditelapak tangan Hongki, “ini, berikan ini pada gadis yang kau suka itu. Omma mendukung hubunganmu dengan Shin Hye, aku sudah tua dan gelang ini kurang bersinar lagi ditanganku jadi akan lebih cantik kalau yang memakainya gadis cantik seperti Shin Hye” ucap ommanya sambil menggenggam tangan Hongki.

“Omma, bukankah ini sangat berharga bagimu. Kau pernah cerita padaku gelang ini sudah ada sejak kau belum menikah” ucapnya.

“iya, gelang itu adalah hadiah pernikahan dari ibu dari appamu sebelum kami menikah. Pakaikan ini padanya dan katakan perasaanmu padanya secepatnya” Ungkap ommanya sambil menepuk pundaknya dan meninggalkannya sendirian digudang. Hongki memandangi gelang cantik itu dan sudah terbayang bagaimana gelang itu melingkar ditangan Shin Hye.

“selamat pagi ommoni” Ia mendengar suara gadis itu dan langsung keluar dari gudang.

Shin Hye membantu ommanya yang sedang memasak nasi dengan tungku besar.  “Ssinz-ah” sapanya sambil mengangkat sebelah tangannya. Kedua yeojah itu menoleh berbarengan. Shin Hye tersenyum dan melambaikan tangan juga padanya.

“Shin Hye kau tidak perlu membantu omma nanti pakaianmu hitam dan bau asap. Ku dengar kalian mau mancing ke danau. Silahkan pergi nanti keburu siang dan sinar matahari itu sangat berbahaya” Ucap omma dengan nada seperti seorang guru.

Mereka berdua langsung meninggalkan ommanya dan berjalan menuju danau yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumahnya. Sepanjang jalan menuju danau para tetangga dan teman lamanya menyapanya dan menanyakan siapa gadis yang sedang digandengnya ini.  Entah perasaan segan untuk mengatakan gadis itu adalah pacarnya sudah sirna dan perasaan percaya diri dan terang-terangan yang ada saat ini. Mereka berjalan melewati jalanan persawahan yang curam dan licin karena musim hujan. Ia menggenggam tangan gadis itu erat. “awas hati-hati” ucapnya saat melewati tanah licin yang agak menurun itu.

“Hongki bagaimana ini, sepatuku nyangkut ditanah” ucap gadis itu dengan raut wajah cemas. Ia melihat sepatu tersebut menancap kedalam tanah dan rasanya tidak mungkin bisa dipakai lagi,  dengan sedikit menjongkok membelakangi gadis itu lalu, “ayo naik, tinggalkan saja sepatumu. Sudah kubilang pakai sepatu biasa saja malah pakai high heels” Hongki menggendong tubuh gadis itu dipundaknya. Sangat bohong kalau ia mengatakan tubuh gadis itu ringan, sangat berat, ditambah lagi tanah yang lengket ini. Apa boleh buat inilah seharusnya yang ia lakukan demi gadis yang dicintainya itu. Akhirnya danau sudah terlihat dihadapan mereka dengan langkah cepat dan hati-hati ia menghampiri tempat penyewaan perahu.

“permisi paman. aku butuh satu perahu untuk berkeliling dan mancing, bisakan?” pintanya pada seorang paman yang tampaknya sudah sangat tua itu.  Paman itu melepaskan tali pengikat perahunya dan menyuruh mereka untuk naik keperahu dan disusul paman itu sebagai pengemudinya.

Ia memandang gadis yang duduk berhadapan dengannya ini, wajahnya terus tersenyum dan tangannya terus bermain dengan air danau. “hya kau baru sekali ini ya kedanau?” tanya nya heran.

Shin Hye hanya mengangguk lalu mendekat dan duduk disebelahnya, “iya…di Thailand Cuma ada sungai yang besar dan ramai, disini udaranya segar sekali dan masih hijau. Rasanya tempat ini cocok untuk melepaskan penat setelah sibuk bergelut dengan pekerjaan” ucap gadis itu sambil tersenyum memandang hamparan hijau yang mengapit danau itu. Shin Hye mendongak kedalam ember tempat penyimpanan ikan lalu tertawa menatap Hongki. “belum dapat satu pun? Kasihan sekali” ucapnya sambil mengacak poni Hongki.

Ia hanya bisa bergumam tidak jelas diejek seperti itu. “Ssinz-ah, apa kau bersamaku ini masih bagian dari pekerjaanmu? Maksudku apa alasanmu masih sama seperti dulu?” tanyanya pada gadis itu. gadis itu menatapnya lama dan lalu tertunduk.

“kau sering sekali menanyakan pertanyaan itu padaku. Kenapa kau bertanya hal itu terus padaku?” gadis itu balik bertanya padanya.

Ia memandang wajah gadis itu, raut penasaran jelas terpancar diwajah cantik itu. mungkin ini sudah saatnya ia menyatakan perasaannya sekarang, benar kata ommanya semakin cepat semakin bagus. Ia tidak mau suatu saat nanti gadis ini diambil orang lain duluan. “karena aku, ehm,aku ingin semuanya bukan sandiwara lagi dan kau tidak lagi menjadi asistenku” tegasnya.

“aku belum mengerti maksud ucapanmu” ucap gadis itu dengan wajah bingung dan mengalihkan pandangan darinya. Entah apa yang sedang dipikirkannya, gadis itu hanya menunduk dan menggigit bibir bawahnya dengan wajah bingung.

Dengan sedikit menarik nafas panjang Hongki meraih tangan gadis itu dan menatap lurus padanya, “aku mau kita pacaran sungguhan” ucapnya cepat, “Ssinz-ah, nan… neomu cho-ah yo…” singkatnya.

Shin Hye menarik tangan darinya dan memandang wajah Hongki lama. Ia mulai cemas apa tanggapan gadis ini tapi, ia sudah siap dengan apapun jawaban dari gadis itu. Kalau pun jawabannya tidak seperti yang diinginkan, ia akan tetap mencintai Shin Hye dan akan berusaha lebih keras untuk merebut hati gadis itu.

Shin Hye berdeham dan beberapa kali membasahi bibirnya sambil tatapan memandang kedepan. Tiba-tiba gadis itu memandang lurus ke Hongki, “Hongkia, sebenarnya aku..” gadis itu berhenti sejenak lalu menunduk, “aku…na do cho-ah yo..” ucapnya cepat tapi dengan wajah masih tertunduk menatap lantai kayu perahu tua itu. “sebenarnya aku sangat takut dengan perasaanku ini Hongki, aku takut ini hanya akan melukai perasaanku saja karena menyukai seorang artis tapi, setelah aku mengalami banyak hal bersamamu semua ketakutan itu sudah agak berkurang” ujar gadis itu lalu tersenyum pada Hongki.

“jadi, apa kau mau menerima permintaanku tadi? Untuk menjadi pacarku sungguhan?” tanyanya dengan hati-hati walaupun perasaannya sangat lega mendengar apa yang gadis ungkapkan barusan.

Gadis itu menyipitkan mata sambil sedikit menyunggingkan senyum padanya, “menurutmu?” tanya nya.

Hongki hanya mengangkat bahu dan perasaannya sangat bercampur aduk sekarang. Disatu sisi ia sudah lega karena semua yang tertahan selama ini akhirnya terkeluar dan, disisi lainnya ia sangat dibuat mati penasaran oleh gadis disampingnya itu.

Shin Hye tertawa sejenak lalu mengangguk menghadap Hongki. “aku mau, tentu saja aku sangat mau, kan kita memang sudah pacaran” ungkap gadis itu dengan senyum mengembang lalu memeluk Hongki dengan erat. “saranghae…nan-namjah-chinguya..” bisiknya.

Hongki benar-benar tidak menyangka gadis itu akan menerima perasaanya, ia menyubit tangan kirinya dan ini nyata bukan mimpi, gadis yang disukainya ini sedang memeluknya dan menyatakan cinta juga untuknya. “OMO…omma..cheongmal gumawo” teriaknya dalam hati lalu memeluk erat gadis itu juga. Tiba-tiba ia teringat apa yang omma nya berikan pagi tadi, ia merogoh saku jeansnya dan mengeluarkan untaian permata hitam yang tampak berkilau diterpa sinar matahari. Dengan perlahan ia melepaskan pelukannya dan menarik tangan kiri gadis itu dan melingkarkannya dengan gelang tangan itu.

Gadis itu menatap heran padanya, “apa ini?” tanya nya sambil memegang gelang yang sudah melingkar dipergelangan tangan kirinya.

Hongki tersenyum melihat gelang itu sangat berkilau ditangan gadis itu, “ini untukmu, sudah kuduga gelang ini sangat cantik jika dipakaikan padamu” pujinya yang memang takjub melihatnya.

Shin Hye sedikit mengerutkan dahinya dan menatap ragu pada namjah disampingnya itu, “gelang ini sangat cantik, gumawo Hongkia” ucap gadis itu sambil tersenyum simpul.

“Hya, untuk itu kau harus menjaga ini baik-baik. Kau tahu gelang ini sangat berharga karena ini dari ommaku” ucapnya dengan sambil mendesah panjang lalu tersenyum pada  gadis itu.

Shin Hye mendongak kaget mendengarnya dan menggumamkan serentetan kata-kata dalam bahasa Thailand yang membuat namjah itu mengangkat sebelah alis dan bingung. “ini” gadis itu melepaskan kembali gelangnya dan mengembalikan ketangan Hongki.

“Hya!! Whae???” teriak namjah itu mengagetkan Ahjussi yang sedang mengayuh dayung. “ommaku sudah memberikannya padamu, dia akan marah sekali kalau kau menolaknya” gerutunya dengan wajah kesal lalu menarik pergelangan tangan itu lagi dan melingkarkanya kembali. “ini memang untukmu. Jangan kau lepas-lepas lagi! mengerti?” tanya nya.

“untukku?” tanya gadis itu yang masih kurang percaya.

“iya, ommaku memintaku untuk memberikan ini ke gadis yang aku suka, dan itu untuk kau” tegasnya sambil menggenggam erat tangan gadis itu.

**

“Omma appa kami pulang dulu” Hongki dan Shin Hye membungkuk memberi hormat kepada orang tua yang berdiri didepan mereka berdua. Wajah ommanya Hongki tampak kurang rela melepas mereka pulang. Hongki berjalan mendekati appanya dan berpelukan sejenak. “appa Hongki pulang dulu ya, aku titip omma padamu” ucapnya. Lalu melepas pelukannya dan berganti memeluk ommanya yang hanya setinggi bahunya itu. “omma aku sudah melakukan yang omma suruh, gumawo” bisiknya. Wanita itu melepaskan pelukannya dan memandangnya sambil mengangkat sebelah alis dan tersenyum takjub lalu melirik sekilas ke Shin Hye.

“Ommonie…appa… terimakasih untuk semuanya, kalian benar-benar seperti orangtuaku sendiri. Aku pasti sangat merindukan kalian dan rumah ini lagi” ucap Shin Hye sambil tersenyum, bola matanya menatap tulus pada kedua orangtua Hongki. “Omma gumawo untuk gelang ini. Gelang ini sangat cantik” ucapnya pada wanita tua itu yang sedang dirangkul Hongki. Walau bagaimanapun ia harus berterimakasih pada omma pacarnya itu karena gelang ini adalah miliknya dan menitipkan pada putranya untuk diberikan pada gadis yang disukai putranya itu.

Ommanya memandang Hongki dengan alis terangkat lalu tersenyum lebar, “kau memberikannya? Kau neomu DAEBAK!!” ungkap ommanya sambil mengacak rambut putranya itu.

Setelah berpamitan mereka langsung naik kemobil dan siap menuju Seoul. Suasana dimobil begitu canggung dan hanya suara musik dari CD yang terdengar. Berbeda sekali dari sebelum mereka berpacaran. Tidak disangkanya namjah disampingnya ini, yang selama ini membuat jantungnya berdegup kencang dan pipinya semerah tomat saat didalam pelukannya benar-benar menjadi pacarnya sungguhan. Ia memandangi wajah namjah yang sedang konsentrasi menyetir dengan mengenakan kacamata hitam itu. lalu ponselnya berdering keras dari dalam clutch merah miliknya. Dari layar ponsel terpampang nama ibunya, “halo omma” sapanya ramah.

Hongki menoleh sekilas padanya sambil tangan kirinya mengecilkan volume dari CD player. Mulut namjah itu mengucapkan kata “nugu?” tapi tanpa bersuara.

Dengan tanpa suara juga “ommaku” jawabnya sambil tangannya menempel didada. Terdengar suara berisik dari telpon dan itu pasti keluarganya sedang berkumpul didekat telpon. “Halo Shin Hye, hey bisa kau jelaskan pada omma apa maksud konferensi kalian itu?” crocos ommanya dengan nada suara berlebihan.

Ia menghembuskan nafas sangat panjang sebelum menjawab pertanyaan ommanya ini. Bukan apa-apa, ia  hanya merasa belum berani mengatakan yang sebenarnya. “Omma…” ucapnya yang tiba-tiba berhenti sendiri. “aku benar-benar minta maaf untuk semuanya. Omma aku tidak bermaksud mengingkari janjiku sebelumnya, aku akan tetap kuliah dengan baik dan meningkatkan prestasiku lagi, aku janji” ucapnya sambil menggigiti kuku ibu jarinya. Tiba-tiba mobil menepi dan berhenti. Ia memandang namjah disampingnya itu sudah memasang wajah penasaran bercampur cemas. “kwenchana” bisiknya sambil menutup sedikit ponselnya.

Terdengar dengusan nafas ommanya dari telpon, hal tersebut biasa ommanya lakukan kalau sedang cemas. “bukan itu maksud omma, apa kalian benar-benar berpacaran?” desak ommanya.

Dengan jantung berdegub keras ia hanya bisa terdiam sejenak mendengar pertanyaan ommanya itu. Ia berdeham dan menghela nafas panjang lalu menjawabnya “ya omma, kami benar-benar pacaran. Maaf tidak memberitahumu yang sebenarnya” ucapnya perlahan tapi tegas.

“Shin Hye… omma benar-benar tidak menyangka akan seperti ini. Omma tidak bisa berbuat apa-apa lagi kalau memang kau suka pada Hongki. Oh ya apa ommanya Hongki tahu kalian berpacaran?” tanya ommanya lagi dengan nada suara pasrah.

“ne omma, kami baru saja dari rumah ommanya Hongki” jawabnya tenang, Hongki menatapnya sambil mengangkat sebelah alisnya dan kemudian ia mendekatkan telinganya kearah Shin Hye “semalam aku menginap dirumahnya Hongki. Orangtuanya setuju dengan hubungan kami omma” ucapnya sambil tersenyum pada namjah yang sedang menguping disampingnya itu.

“baiklah kalau begitu, aku akan secepatnya menghubungi sahabatku itu. oh ya aku mendapat kabar kalau nilai ujian semestermu sangat baik dan Yabi juga bilang padaku kalau kau sudah mendesain suatu pakaian yang kemudian dipakai oleh artis ternama di Korea, apa itu benar?” tanya ommanya antusias.

“ne omma… Pakaianku itu dipakai oleh Hongki ke acara penghargaan. Syukurlah kalau omma senang dengan hasil belajarku satu semester ini. Oh ya sebentar lagi aku libur, aku akan segera pulang. Aku benar-benar rindu kalian semua” rengeknya. Tiba-tiba namjah didekatnya itu menjauh darinya dan memandang keluar jendela sejenak lalu menjalankan mobilnya kembali. Wajahnya juga jadi  tampak kosong. “sudah dulu ya omma. Aku sedang dijalan bersama Hongki menuju Seoul, nanti kutelpon lagi oke. Muah!!” ujarnya sambil mencium puncak ponselnya.

Ia melirik sekilas namjah yang sedang menyetir itu, matanya lurus kearah jalan tapi seperti sedang ada yang dipikirkannya. Dan bodohnya ia tidak berani memecahkan lamunan namjah itu. dan memilih diam. Sambil menaruh ponselnya kembali ke clutch merah miliknya, ia lalu menghidupkan kembali CD player yang sedang memutar lagu FTIsland sendiri. Dengan menyandarkan kepala ke bangku mobil yang empuk itu ia mengikuti suara Hongki yang sedang menyanyikan salah satu lagu mereka “I Confess”. Tidak ada reaksi sedikit pun dari orang itu, gerutunya dalam hati. Saat sedang asyik menikmati lantunan musik dimobil itu tiba-tiba ia merasa aneh dengan perutnya dan…keluarlah suara yang keras, lantang dan sangat memalukan, cacing perutnya sudah mulai konser. Tanpa disadari Hongki sudah tertawa terbahak-bahak sendiri melihat ia sedang memegang perutnya. “wah puas sekali kau menertawakanku. aku belum makan apa-apa pagi tadi Hong” ungkapnya.

“siapa suruh tidak sarapan” ejeknya. Hongki melihat jam ditangannya dan tersenyum dengan matanya yang  melengkung membentuk senyuman juga. “bagaimana kalau kita makan siang bersama diluar? Ehm…Katakan saja ini kencan pertama kita” ajaknya.

Tentu saja dalam keadaan kelaparan seperti ini ia tidak bisa menolak ajakan namjah ini. “kita mau makan dimana? oh ya kira-kira jam berapa kita sampai di Seoul?” tanyanya.

“sepertinya satu jam lagi sampai kok. Kita makan direstoran Perancis itu saja, aku mau coba masakan Perancis itu rasanya seperti apa, bagaimana menurutmu?”

Ia hanya mengangguk setuju lalu tersenyum pada namjah itu. Mendengar kata Perancis ia jadi kembali teringat dengan mimpinya dulu, apa-apaan ini! Cercahnya dalam hati.

**

Setibanya mereka di Seoul, mereka langsung menuju restoran Perancis –tempat favorit mereka. Dan pelayan terbaik –menurut mereka berdua, datang menghampiri mereka dengan sebelah tangan membawa nampan dan minuman ke meja lain tapi, matanya membelalak menatap mereka dan senyumnya yang lebar terlihat sangat berlebihan. Ia langsung mengambil tempat dilantai dua yang bisa dibilang ruang VVIP karena hanya orang dari kelas atas yang makan disana.

“Halo Croissant Couple…” sapa pelayan laki-laki yang tadi menyambutnya. “Ah aku menonton konferensi pers kalian kemarin, airmataku nyaris jatuh melihat gadis cantik ini mengenakan dres merah itu. Kau juga, sir” tunjuknya pada Hongki yang hanya menahan tawanya menatap pelayan itu. “ngomong-ngomong kalian mau pesan apa?”

Ia langsung menerima daftar menu yang disodorkan pelayan itu dan langsung membukanya. Dihadapannya langsung tersuguh nama-nama makanan dengan bahasa latin yang bahkan ia tidak bisa mengejanya. Ia memandang lama daftar menu itu dan hanya tertegun sendiri.

“sini biar kulihat” Shin Hye merampas dengan lembut daftar menu itu dari tangannya. Ia memandang mata gadis itu seperti bergerak menyusuri deretan kata-katanya.

“aku pesan yang ini” ucapnya sambil menunjukan telunjuknya kesalah satu gambar dibuku itu. “Hongki kau mau pesan apa?” tanya Shin Hye memandang Hongki yang hanya terdiam dari tadi.

“aku pesan yang sama saja dengan mu” ungkapnya.

“nice, aku pastikan kalian tidak akan menunggu lama” Pelayan itu mengambil kembali daftar menu tersebut lalu berjalan meninggalkan mereka.

Setelah pelayan itu menghilang dari pandangannya rasanya ada perasaan lega tersendiri baginya, bukan apa-apa, tapi hanya sedikit memalukan kalau pelayan itu tahu kalau ia sama sekali tidak mengerti dan belum pernah sama sekali melihat makanan-makanan itu. Ia melihat Shin Hye terlihat santai bermain ponsel, sambil berdeham singkat lalu mencoba bertanya “Hya, kau tadi mengerti nama-nama makanan didaftar itu, ya?”.

Shin Hye mendongak dari ponselnya dan menatap Hongki dengan mata sedikit menyipit dan bibir melengkungkan senyuman, “tentu saja, di sekolah menengah kami ada mata pelajaran bahasa asing, Bahasa Perancis. Kau tadi kelihatan sekali tidak mengertinya” ucapnya dengan tertawa geli.

“membacanya saja sudah membuat mataku juling. Oh ya sepertinya kita tidak akan bertemu cukup lama mulai bulan depan, kami memulai kegiatan promo kami lagi di Jepang dan biasanya memakan waktu lebih dari satu bulan” ucapnya. Sebenarnya dari diperjalanan tadi Ia ngin memberitahukan itu tapi, ya karena telpon dari ommanya Shin Hye dan rencana gadis itu ingin pulang kampung membuatnya mengurungkan niatnya mengajak gadis itu berlibur bersama di Jepang. “aku sebenarnya ingin mengajakmu kesana dan berlibur disana tapi, sepertinya terlalu egois kalau aku menyuruhmu mengurungkan niat ingin berkumpul bersama keluargamu” sesalnya.

Shin Hye memandangnya dengan kening berkerut dan matanya seperti memancarkan sinar kebingungan. “Hongki…” gadis itu tertegun sejenak, “aku sama sekali tidak memandang ucapanmu barusan itu egois, memang sewajarnya aku menemani kemanapun kau pergi, apa gunanya punya pacar tapi tidak bisa menemanimu kemana saja. Aku akan mencoba membagi waktu liburanku untuk bersama keluargaku dan kau”.

Ia jadi tidak enak mendengar jawaban gadis itu, “benarkah? Lalu bagaimana caramu ke Jepang, apa kau hanya sendirian terbang kesana dan mencariku sendirian juga?” tanya nya seolah meragukan gadis itu walaupun maksudnya tidak seperti itu. ia hanya mencemaskan gadis itu.

“ehm, kita lihat saja nanti” jawab Shin Hye dengan senyum mengembang.

Akhirnya makanan mereka diantar, dari kejauhan saja sudah tercium aroma lezat dari makanan itu. “ini , ah..semoga kalian menikmati makan siang ini dengan penuh keromantisan” canda pelayan itu. Dan mereka langsung menyantap hidangan dihadapan mereka yang sudah memanggil mereka untuk segera menelannya.

^^^

Pagi-pagi sekali manajer mereka datang dengan wajah berseri-seri.  “ini jadwal kalian selama di Jepang”  Yoonho menyerahkan lima lembar kopian jadwal mereka selama promo di Jepang kepada ke setiap namjah itu. membiarkan mereka berlima membaca semua detilnya.

Hongki mengambil salah satunya dan membacanya, belum selesai rasa capek dari tubuhnya ia sudah dijejali jadwal padat lagi, matanya terbelalak membaca urutan bagian bawah, “kenapa Cuma jadwalku saja yang padat? Hyeong kau menerima semua tawaran dari beberapa program reality show tanpa persetujuanku dulu?” cerocosnya sambil menunjukan kertas itu ke Yoonho yang sedang bersandar santai disofa.

Yoonho menegakan tubuh gempalnya dan memandang bingung pada Hongki yang memasang wajah kesal. “Hey biasanya kau suka sekali kalau jadwalmu padat. Biasanya artis akan turun pamornya setelah melakukan konferensi pers mengenai kehidupan percintaanya dan kau ternyata mendapat dukungan yang banyak dari fansmu seharusnya kau bersyukur” cerocos manajernya.

“tapi, ini benar-benar gila Hyeong, minggu depan kan belum masuk awal bulan! Masa selama dua bulan aku menetap di Jepang yang benar saja” gerutunya. Ia memandang kembali kertas itu dan membacanya dengan suara keras “satu bulan penuh tur kebeberapa kota, dan satu bulan berikutnya..ah membosankan sekali” ia mencengkram kertas itu lalu membuangnya kebelakang.

“iya, yang benar saja! masa minggu depan kita sudah harus ke Jepang, menyebalkan” Seunghyun ikut menggerutu dengan jadwal itu.

“aku sih setuju saja, selama seminggu penuh aku akan bermain di pantai Okinawa sebelum menghadapi jadwal tur yang melelahkan itu” ucap Jonghun santai dengan tangan terbentang disandaran sofa.

Hongki melirik temannya itu yang sedang bersantai berbeda sekali dengan suasana hatinya yang bukan main kesalnya. Sebenarnya bayangan berlibur dipantai Okinawa dimusim panas ini juga sangat ditunggu-tunggunya tapi, ia akan cukup lama tidak bertemu dengan Shin Hye.

^^^

“aku rasa cukup sampai disini dulu perjumpaan kita dan sampai jumpa dipertemuan selanjutnya” Yabi memutuskan sambungan notebooknya dari slide. Wanita dewasa berwajah cantik itu menunjukan telunjuk rampingnya pada Shin Hye yang baru mulai beranjak dari kursinya. “kau, Park Shin Hye, keruangku setelah ini, oke?” pintanya yang kemudian berlalu meninggalkan ruangan kelas tanpa meminta persetujuan Shin Hye terlebih dahulu.

Pasti ada tugas baru lagi, gerutunya. Didepan kelas, di koridor, sudah berdiri sekumpulan yeojah bertubuh kurus jangkung dengan mata besar dan berhidung tajam -para seniornya- yang selalu iri jika ia mendapat proyek yang besar dari Yabi. Terlihat Han Jae-Gyeong datang mendekatinya sambil tersenyum dengan lesum pipinya yang hanya ada dipipi sebelah kanannya saja, gadis bertubuh jangkung itu menjulurkan tangan padanya.  “selamat ya untuk keberhasilanmu, aku benar-benar tidak menyangka hanya karena kekasihmu yang seorang artis terkenal memakai jas buatanmu lalu Yabi mengurungkan niatnya memilihku. Ah, Mungkin ini belum rejekiku dan semoga kau menikmatinya” ucap gadis itu dengan senyum dan matanya yang tajam memandang lurus kemata Shin Hye.

Shin Hye bingung dengan apa yang dikatakan seniornya ini barusan, selamat untuk apa? dan ia tidak mau membuat seniornya ini jengkel dan lebih memilih menerima saja jabatan tangan Jae-Gyeong. Ia tidak mau bertanya lebih banyak pada yeojah didepannya ini karena hanya akan mendapat pelototan tajam saja dan mungkin ia harus bertanya langsung pada Yabi.

Ia sudah berdiri didepan pintu kantor Yabi. Mengetuk terlebih dahulu ruangan dosennya itu dan membuka pintu lalu masuk kedalam. Yabi mendongak dari notebooknya dan tersenyum padanya sambil mempersilahkannya duduk.

Ia langsung duduk dikursi yang berhadapan langsung dengannya itu. Ia menarik nafas panjang sebelum mulai menanyakan hal yang rasanya sudah ada diujung lidahnya itu, “songsaengnim… aku mau tanya sesuatu padamu”

“ini” Yabi menghiraukan permintaan Shin Hye tadi dan malah menyerahkan sebuah map berwarna biru tua. “lihatlah brosur yang ada dalam map itu dan pastikan kau tidak berteriak dibuatnya” ucap dosennya itu dengan tawa mengembang.

Tanpa membuka map itu ia sudah tahu isinya pasti berhubungan dengan yang dikatakan seniornya tadi. Ia membuka map itu dengan sangat malas dan melihat ada sebuah brosur bergambar Eiffel Tower dihalaman mukanya. Dengan mulut menganga tidak percaya “SCHOOLARSHIP to La Mode Paris Design School” ia memegang brosur itu dengan gemetaran dan mendongak menatap dosennya.

“ya, aku merekomendasikanmu untuk berkesempatan bersekolah di Paris, kau tahu aku dan dosen lainnya sangat menyukai kinerjamu yang selalu tepat waktu dan semua nilaimu juga mencukupi. Kau juga lumayan fasih berbahasa Perancis jadi aku yakin kau mampu melakukannya” ucap dosennya itu sambil berpangku dagu menatapnya.

“kau mampu melakukannya” ulangnya dalam hati.  Kalimat itulah yang selalu diucapkan dosennya itu setiap kali memberikan tugas besar padanya, bukannya ia kurang percaya diri untuk menerimanya tapi ini agak sedikit mengagetkannya. “songsaengnim…bukankah beasiswa seperti ini direkomendasikan untuk mahasiswa semester lima?, aku baru masuk disemester tiga dan aku belum terlalu yakin dengan kemampuanku” protesnya.

Yabi mengangguk sejenak lalu tersenyum lagi, “aku tahu mengenai hal itu sebenarnya aku merekomendasikan Han Ja-Gyeong untuk beasiswa ini tapi ia jatuh dikemampuan Bahasa Perancis lalu aku merekomendasikanmu dan pihak sana menyetujuinya. Lagipula semester itu bukan ukuran yang diminta mereka tapi, kemampuan, dan kau memilikinya” tekan dosennya itu. “lagipula ini hanya sekitar lima bulanan dan kau akan mendapat  sertifikat desainer dari La Mode Paris. Aku sudah menghubungi orangtuamu dan ibumu sangat menyetujuinya”.

Inilah yang paling dibencinya dari dosennya ini. Menghubungi keluarganya tanpa meminta persetujuan dulu darinya, “songsaengnim…kenapa kau selalu menghubungi keluargaku tanpa meminta persetujuanku dulu?” pertanyaan itu spontan terlontar dari mulutnya yang sudah gatal ingin meneriakannya didepan wanita itu.

Yabi berdeham mendengar pertanyaan itu dan alisnya bertemu membentuk ekspresi heran, “Shin Hye aku minta maaf karena tidak pernah memberitahumu terlebih dahulu, itu karena aku benar-benar ingin menjadikanmu seorang master bukan desainer biasa yang alih-alih setelah lulus hanya  membuka butik dan ya kau tahu sendirilah, aku berharap kau lebih dari itu bila perlu setelah lulus dari sini kau bisa bekerja menjadi penasihat fashion untuk majalah fashion terkemuka didunia” ucap Yabi.

Shin Hye mengusap keningnya mendengar angan-angan yang dituturkan dosennya, benar-benar khayalan tingkat tinggi. “begitukah?, kapan aku berangkat kesana?” tanyanya dengan nada pasrah.

“setelah libur semester ini, nanti aku kabari lagi mengenai persiapannya dan kau boleh keluar sekarang” ucap dosennya itu sambil beranjak dari kursi dengan jas putih menggantung ditangan kanan, lalu tersenyum ramah padanya. Yabi masih ada jadwal lagi setelah ini dan Shin Hye tahu dosennya itu super sibuk.

Ia membungkuk kepada dosennya dan membawa map biru itu keluar dari ruangan. Rasanya ia ingin teriak dikoridor yang sedang ramai-ramainya itu. kakinya lunglai berjalan entah mau membawa tubuhnya kemana. Suasana hatinya begitu buruk akhir-akhir ini.

**

“Ssinz nuna… sudah berapa lama nuna berdiri disini? Kenapa tidak memencet bel?” tiba-tiba pintu terbuka dan Seung Hyun keluar dari apartemen itu dengan penampilan yang rapi. Shin Hye tidak menyadari bahwa dirinya berjalan sampai keapartemennya Hongki dan sudah berdiri dari satu jam yang lalu tanpa melakukan apapun hanya berdiri tertunduk seperti orang bodoh.

Shin Hye masih bingung dengan keadaanya ini dan hanya tersenyum pada namjah didepannya ini. “apa Hongki ada didalam?” tanyanya.

Seung Hyun mengerutkan dahinya sejenak, “ah Hyeong baru saja pergi sejam yang lalu tapi siang nanti hyeong segera pulang. Nuna wajahmu pucat sekali dan nuna juga terlihat lesu seperti ini? Nuna sakit ya?” Seung Hyun mengamati dari dekat wajah Shin Hye yang memang terlihat pucat.

Sebenarnya ia juga merasakan tubuhnya tidak sehat saat ini, seharusnya ia sekarang istirahat memulihkan tenaganya. Ia juga merasakan hembusan nafasnya terasa panas mengenai puncak bibirnya, sepertinya ia terserang gejala demam. “oh baiklah kalau begitu aku pulang saja, bye Seung Hyuni” ia membungkuk sambil  tersenyum lalu berbalik kebelakang dan gelap.

^^

Hongki meletakan kembali map berwarna biru itu kemeja disamping tempat tidurnya lalu menghela napas panjang sambil mengusap kepalanya. Kepalanya mulai terasa berat setelah melihat isi map tersebut. Wajah gadis yang sedang terpejam itu basah karena keringat, ia menyekanya dengan telapak tangannya.

“Hyeong aku mau keluar sebentar, tidak apakan kalau hyeong kutinggal sendiri?” tanya Seunghyun yang dari tadi berdiri diambang pintu kamar Hongki.

Hongki menoleh sekilas pada dongsaengnya itu, “ne kwenchana…kau juga hati-hati saat mengendarai mobil, jalanan sangat ramai” jawabnya.

Seunghyun merasa berat untuk meninggalkan hyeongnya  sendirian merawat Shin Hye nuna yang sedang sakit. “nuna sepertinya hanya kelelahan dan sebentar lagi akan sadar, aku pergi dulu Hyeong” kemudian berlalu dari ruangan itu.

Hongki melepaskan plester penurun panas yang -mungkin hanya dipakai anak-anak berumur 10 tahun kebawah- ditempel pada dahi Shin Hye. Hanya plester ini yang tersisa dikotak P3K miliknya dan ternyata sedikit membantunya menurunkan panas tubuh gadis itu.  Ia melirik jam dindingnya, sudah satu jam pacarnya itu tertidur, ia memutuskan untuk memasakan bubur untuknya.

**

Bubur untuk Shin Hye sudah masak dan siap untuk dibawa kekamar gadis itu. Ia juga menyeduhkan teh manis untuk pacarnya itu guna memulihkan staminanya kembali. Ponselnya tiba-tiba berdering dan itu telpon dari Eunjung.  “yeobseo Eunjung” sapanya. Tangan kanannya terus menyeduhkan teh dan bahu sebelah kirinya naik untuk menahan ponselnya. Great pose!.

“yeobseo oppa…apa Shin Hye sedang bersamamu sekarang? Dari tadi aku mencoba menghubunginya tapi tidak diangkatnya” tanya gadis itu dengan nada sangat cemas.

Hongki menuangkan madu pada teh itu sebagai pengganti gula. Menurutnya gula sangat berbahaya jika dikonsumsi terus-menerus. “ne, temanmu ini pingsan didepan apartemen kami dan untungnya ada Seung Hyun yang melihatnya dan membawanya kekamarku. Kau tidak perlu cemas Eunjung, aku akan menjaga temanmu itu” ucapnya mencoba menenangi gadis ditelpon itu. Sudah terbayang olehnya ekspresi cemas gadis itu sekarang.

Terdengar hembusan napas lega dari telpon itu, “syukurlah kalau begitu, Hongki oppa gumawo sudah mengurus temanku, apa aku perlu menjemputnya sore nanti?” tanya Eunjung.

“tidak perlu, biar aku saja yang mengantarnya. Kau tidak perlu khawatir, oh ya kumatikan dulu telponmu ya?  aku harus membawa makanan untuk Shin Hye” pintanya.

“ne ne oppa, annyeong” Eunjung memutuskan terlebih dahulu sambungan telponnya.

Hongki memasukan kembali ponsel itu kesaku celana panjangnya lalu membawa semua yang disiapkannya itu menuju kamar. Dengan sebelah tangan ia mendorong pintu kamarnya yang memang agak sedikit terbuka. Ia sedikit terkejut melihat gadis yang tertidur tadi sudah terbangun dan duduk bersandar ditempat tidurnya dengan tatapan kosong. Ia berdeham lalu berjalan mendekati gadis itu. Setelah meletakan bubur dan teh hangat tadi ke meja disamping tempat tidurnya, ia langsung menempelkan punggung tangan kanannya didahi gadis itu. Shin Hye hanya memandangnya lurus tanpa mengatakan apapun. “syukurlah panasmu sudah turun dan kau sudah terlihat agak baikan, ini” Ia menyodorkan segelas teh hangat tadi kegadis itu, dan untungnya gadis itu menerimanya. “whaeo? Kenapa kau bisa pingsan seperti tadi? Apa kau tidak makan apapun pagi tadi, aku kesal sekali mengingat kau tidak pernah mengisi perutmu untuk sarapan” gerutunya.

Shin Hye tidak memperdulikan ucapan Hongki tadi dan malah tertegun. Gadis itu meletakan kembali teh itu ke meja dan tiba-tiba memeluk namjah dihadapannya itu dengan erat. “Hongki.. bagaimana ini?” ucap gadis itu dengan suaranya yang berubah parau,  dipelukan Hongki.

Hongki memeluk erat juga gadis itu, ia tahu yang dimaksud gadis itu pasti ada hubungannya dengan isi map biru itu. “ada masalah apa? kenapa kau jadi secengeng ini Shin Hye?” tanyanya. Ia menepuk dengan lembut pundak gadis itu mencoba membuat gadis ini sedikit tenang.

Shin Hye melepaskan pelukannya dan mengambil map biru itu lalu memberikannya pada Hongki.

“aku sudah lihat ini” Hongki mengangkat map itu. “selamat ya..akhirnya cita-citamu ke Paris tercapai juga, aku bangga padamu” candanya ssambil menyubit hidung gadis itu.

Shin Hye mengerutkan keningnya heran melihat reaksi Hongki. “kau senang melihat ini Hong? Kau tahu kita tidak akan bertemu selama lima bulan, dan itu lama sekali” gerutunya.

“tenang saja aku akan menunggumu disini, apa kau jadi sakit seperti ini karena ini?” tanya nya dengan ekspresi curiga melihat gadis itu. Matanya menyipit kearah gadisnya itu.

Shin Hye menggaruk kepalanya dan wajahnya bersemu merah.

“BABO!” umpat Hongki.

Ia hanya tertawa sambil mengangguk lalu gadis itu mengalihkan pandangannya ke mangkuk besar yang mengepulkan asap harum rempah-rampah hangat. “apa itu untukku?” tanya nya sambil menunjuk mangkuk itu.

Hongki mengangguk semangat. Ia mengangkat mangkuk tersebut lalu memangkunya dan mengambil sesendok bubur untuk gadis itu, “ini” ia menyuapkannya pada gadis itu dan langsung diterima dengan mudah. Shin Hye benar-benar tampak kelaparan.

“enak sekali, kau masak sendiri ya?” tanya Shin Hye setelah satu suapan terakhir.

Hongki hanya mengangguk dan menyuguhkan teh lagi untuk Shin Hye. “Hya babo… cukup sekali ini aku melihatmu pingsan, kau tahu aku jadi kurang yakin untuk membiarkanmu tinggal sendirian di Paris, jangan-jangan sepulang dari sana kau akan terlihat seperti tengkorak berjalan” ucapnya berlebihan dengan mulut maju kedepan.

“kau berlebihan sekali, baru sekali ini aku tidak sarapan ocehanmu sudah bawa-bawa tengkorak!” ketus gadis itu.

“sekali jidadmu! Setiap kali aku mengajak  kencan perutmu pasti tiba-tiba bernyanyi sendiri” cerocosnya. Dan respon dari gadis itu hanya tertawa terbahak-bahak. Menganggap omongannya tadi guyonan semata.

“baiklah baiklah bosku..” ujar gadis itu dengan sedikit menahan tawanya. “oh ya aku harus pulang sekarang, Eunjung pasti kerepotan mengerjakan sendiri tugas kuliahnya” ungkapnya lalu beranjak dari tempat tidur dan membereskan barangnya.

“biarku antar” tawar Hongki sambil meraih tas sling milik Shin Hye.

**

“tumben sekali kau menjemputku” Shin Hye bergumam sendiri pada ponselnya yang terbuka dan masih modus aktif. Hongki menelponnya barusan dan bilang kalau ia sudah berada didepan gerbang menunggunya. Biasanya namjahnya ini selalu memberitahu dari hari sebelumnya kalau ingin menjemputnya. Entah darimana pacarnya itu tahu kalau ia pulang lebih cepat hari ini.

Dengan tangannya yang penuh membawa tumpukan map dan beberapa buku pedoman untuknya nanti di Paris, ia berjalan susah payah melewati kerumunan koridor. Semua yang dibutuhkan sudah ada ditangannya sekarang dan ia tinggal menunggu keberangkatannya saja. “berat sekali” gerutunya dalam hati. Suasana ramai dikampus menambah pusing kepalanya. Setelah berhasil melewati keramaian dikoridor kampusnya ia langsung mengambil jalan pintas menuju pintu gerbang.

Dari kejauhan terlihat mobil milik Hongki. Namjah itu menunggu dari dalam mobil.  Dengan sebelah tangan kirinya, ia mengetuk kaca mobil itu dan namjah didalamnya langsung terbangun dari tidurnya dan membukakan pintu untuknya.  Dengan cepat ia langsung masuk kedalam mobil dan melempar semua mapnya itu kekursi belakang. “apa kau sudah lama menunggu? Kau terlihat mengantuk sekali” ejeknya.

Hongki hanya mengucek beberapa kali matanya lalu tersenyum sambil mengangguk pada gadis disampingnya itu. “kau bawa map banyak sekali untuk apa? Tugas libur semester ya?” tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari jalan didepannya itu.

Shin Hye mendesah panjang lalu menjawab dengan nada pasrah, “itu semua keperluanku nanti di Paris. Dosenku memberikannya tadi, ia tahu beberapa hari lagi aku akan pulang ke Bangkok”. Ia menoleh pada namjah itu, “rasanya aku ingin sekali mengajakmu ke Bangkok untuk bertemu orangtuaku, kau tahu ommaku ingin sekali bertemu denganmu. Dia mencari data dirimu di Internet dan menyatakan ia jatuh cinta pada karismamu” ungkapnya dengan tawa mengembang.

Hongki ikut tertawa geli mendengar pernyataan tadi, “benarkah? Aku bukan main ingin sekali menemanimu berlibur di Bangkok dan bertemu dengan orangtuamu disana, tapi maaf, mungkin bukan sekarang waktunya. Sampaikan salamku untuk ommamu ya?” pinta namjah itu sambil menoleh sekilas pada Shin Hye yang sedari tadi memperhatikan wajahnya.

Shin Hye hanya mengangguk menanggapi permintaan pacarnya itu. “Hongki kita mau kemana? Makan siang ya?” tanya nya. Entah yang ada dipikirannya hanya makanan dan makanan, ia lupa mengisi perutnya pagi tadi. Betapa gawatnya seandainya Hongki tahu ia melanggar permintaan namjah itu untuk tidak melewati sarapan pagi. Apa boleh buat? Eunjung setiap pagi membuatkan sarapan yang lezat untuk mereka tapi, ia harus menemui Yabi pagi ini, maklum dosennya bukanlah orang yang rela menyisihkan waktu berharganya itu untuk hal kecil.

“aku mau mengajakmu kemarkas kami” jawab Hongki sambil sedikit tertawa memandang Shin Hye. Gadis disampignnya itu hanya mengangkat sebelah alisnya mendengar jawaban tadi.  “aku sebenarnya mau mengajakmu kencan tapi berhubung jadwal kami mulai sibuk dengan latihan, ya aku mau ajak kau berkencan ditempat kerjaku saja” ungkapnya.

Shin Hye hanya mengangguk mengerti. Ia harus menerima semua resiko menjadi pacar seorang artis. Ini salah satu tugas penting untuknya –Menemani kemanapun pacarnya berada-. Tiba-tiba perutnya terasa dililit dan dengkuran panjang cacing perutnya terdengar jelas walaupun dimobil sedang memutar musik.

Hongki spontan menoleh padanya dengan tatapan marah. “kau melewatkan sarapanmu lagi ya! Keterlaluan!” desis namjah itu dengan wajah berubah kesal.

Shin Hye hanya bisa tertunduk sambil memegangi perutnya. Wajar kalau pacarnya itu mau marah atau kesal minta ampun karenanya, ia sama sekali tidak menghiraukan perkataan Hongki kemarin dan malah melupakannya. “miane, aku tadi benar-benar dikejar waktu. Kau tahu dosenku itu wanita yang super sibuk dan aku tidak sempat untuk mengisi perutku” sesalnya.

Walaupun ia sudah menjelaskan yang sebenarnya, wajah Hongki masih terlihat kesal. Tiba-tiba mobilnya meminggir ketepi jalan dan berhenti tepat didepan sebuah restoran kecil. Hongki melepaskan sabuk pengaman untuknya dengan mulut muncung kedepan. Itu salah satu ekspresi yang sangat dihapal Shin Hye saat melihat pacarnya marah.

Mereka berdua turun dan Hongki dengan cepat meraih tangan Shin Hye. Mereka berjalan bergandengan masuk kedalam restoran yang letaknya terapit oleh dua toko. Entah kenapa perasaanya selalu tenang saat tangan hangat namjah itu menggenggam tangannya, seolah takkan pernah tangannya itu dilepaskan lagi. Semua orang dalam restoran itu termasuk para pelayan memandang mereka. Ia menyapu pandangannya kesekeliling ruangan. Hongki terlihat begitu santai walaupun semua orang saat ini sedang memperhatikan mereka.

Mereka mengambil tempat duduk yang agak dalam tapi tetap saja restoran itu ramai dan suasana menjadi riuh membisikan tentang mereka berdua.  “Hongki kenapa kau memilih tempat ini sih? Ini ramai sekali dan mereka semua membincangkan kita” gerutunya pada Hongki yang duduk berseberangan dengannya itu.

“aku juga tidak mau makan disini tapi aku takut kau keburu pingsan seperti kemarin” oceh namjah itu dengan nada ketus.

Seorang pelayan wanita datang menghampiri mereka sambil tersenyum, ditangannya membawa selembar daftar menu yang sudah tervinil. “ini” ia menyodorkan kepada mereka berdua.

Hongki meraih daftar menu itu, alisnya saling bertemu membentuk ekspresi kesal. Semua menu yang ada didaftar itu benar-benar tidak menarik minatnya.  “Ssinz kau mau makan apa?” tanya nya pada Shin Hye yang juga sibuk membaca daftar menu tersebut.

“aku mau pesan Samgyetang saja” ungkap gadis itu. “minumnya teh madu hangat” sambungnya. Ia mendongak melihat namjah dihadapannya tertegun melihat daftar menu itu. “kau tidak lapar Hong? Kau mau pesan apa?” tanya nya. Ia tahu pacarnya itu bukan orang yang bisa menerima makanan disembarang tempat kecuali restoran langganannya.

Hongki memandang wajah Shin Hye cukup lama dan mata mereka bertemu. “aku pesan minuman saja, sama seperti dia” ucapnya pada pelayan itu.

Setelah pelayan itu berlalu, Hongki langsung mengumpatkan kata-kata yang tidak tercerna oleh gadis didepannya itu. Shin Hye hanya bisa tertunduk tidak enak, ini semua karena ulah cerobohnya.

Tiba-tiba Shin Hye merasa ada seseorang menepuk pundaknya dan ia melihat mata pacarnya itu membulat melihat kebelakang punggungnya. Uhm Ji Wun –mantannya- berdiri dibelakangnya sekarang . Ji Wun menenteng jas dokternya dilengan sebelah kirinya dan tersenyum ramah pada Shin Hye.

Hongki melihat Shin Hye tidak merespon teguran dari namjah berkacamata dan berwajah lumayan tampan itu. Gadisnya itu malah bengong menatap orang itu. Ia jadi curiga siapa namjah itu sebenarnya? Kenapa gadisnya bisa seterkejut itu melihatnya?. Ia menepuk tangan Shin Hye untuk menyadarkannya, “Ssinz…apa dia temanmu?” tanyanya.

Namjah itu memandang sekilas pada Hongki dengan tatapan angkuh. “Shin Hye lama sekali aku tidak melihatmu, apa kabar? Senang sekali bisa melihatmu lagi” ucap namjah itu.

Shin Hye mengerjap beberapa kali lalu ekspresinya tiba-tba berubah  kesal, “baik, kau sendiri” tanyanya ketus. Ia sangat malas untuk meladeni orang ini.

“kau ini kenapa berubah sekali sih sekarang? Apa karena pacarmu sekarang seorang artis terkenal? Kau hebat ya, banyak kemajuan” ucap Ji Wun  lagi tapi dengan nada sedikit mencemooh.

Shin Hye langsung beranjak dari kursinya mendengar ucapan Ji Wun barusan, ia menunjukan telunjuknya pada dada namjah itu “itu bukan urusanmu. Urusi saja urusanmu sendiri, mau aku pacaran dengan artis atau siapapun itu bukan urusanmu! Aku menyesal pernah berpacaran dengan seorang robot sepertimu, araso! Pergilah!” perintahnya dengan volume suara kecil tapi tajam.

“apa? Robot katamu!” desis Ji Wun yang memang tersinggung dengan perkataan Shin Hye barusan.

Hongki menarik lengan gadisnya itu dan mulai sedikit terganggu dengan pemandangan aneh ini dan ini pertama kalinya ia melihat Shin Hye melontarkan kalimat sekasar barusan. “maaf kau ini siapa? Mohon jangan ganggu makan siang kami” celahnya.

“itu bukan urusanmu!” jawab Ji Wun dengan mata menyipit tidak setuju pada Hongki.

“tentu saja ini urusanku juga dong kalau menyangkut Shin Hye, dia ini pacarku, urusannya berarti  urusanku juga!” jawabnya yang sudah mulai emosi dibuat namjah itu.

“Hongki kau jangan hiraukan orang ini membuang waktu saja, ayo kita duduk lagi” Shin Hye menarik tangan pacarnya itu untuk duduk kembali dan mengabaikan Ji Wun. Tapi orang yang digandengnya itu malah tetap berdiri tidak mau duduk.

Sepasang mata orang itu bertemu dan saling mengisyaratkan ketidaksukaan mereka. “aku tidak ingin tahu apa hubungan kalian dulu, aku tidak tahu kenapa Ssinz begitu membenci kau, tapi aku tidak akan membiarkan kau mengusik kehidupan Ssinz sekarang” tegas Hongki.

Tiba-tiba pelayan datang membawa pesanan mereka dan menatap mereka bertiga heran. Untungnya Ji Wun langsung berlalu dengan wajah yang merah padam, entah kesal atau malu. Ia tidak pernah mau tahu urusan mantannya itu lagi. Dengan perlahan ia menarik tangan Hongki yang masih menegang, dan menariknya untuk duduk kembali. “sudahlah, orang gila itu tidak perlu diambil hati” ucapnya.

Hongki kembali duduk ditempat duduknya, ia benar-benar kesal dibuat orang itu.  Dimeja sudah terhidang semua pesanan mereka, tapi gadis didepannya itu belum meyentuh makanan tersebut sedikitpun malah memperhatikan dirinya dari tadi dengan tatapan bersalah. “ayo cepatlah makan, ini tidak enak kalau dingin, apa mau aku suapkan untukmu?” candanya membuat gadis itu segera melupakan masalah tadi. Ia mengambil cangkir teh madu hangat miliknya dan menyesapnya. Hangat nya rasa manis dari madu itu menjalar keseluruh tubuhnya menciptakan suasana tenang. Shin hye masih terpaku tidak menyentuh alat makannya. “sini, sepertinya kau ketagihan minta disuapkan olehku” sambil menarik sendok panjang tapi, tangannya terhenti karena gadis itu langsung mengambil sendok itu dengan cepat.

“ayolah wajahmu jangan bertekuk seperti itu, ini kencan kita yang terakhir setelah lima bulan nanti tidak bertemu” bujuknya.

**

“Kita lanjut ke So Today…” perintah Jonghun sebagai ketua grup band tersebut, namjah berhidung tajam itu mulai menginjak pedal untuk mengubah efek suara gitarnya. Sambil sedikit jarinya meliuk-liuk disenar gitar.

Berbeda sekali dengan saat mereka dipanggung, saat ini mereka hanya mengenakan pakaian santai seperti Jonghun yang hanya mengenakan kaus putih tipis dengan celana selutut dan rambutnya turun acak-acakan. Mereka terlihat lebih tampan dengan tampilan mereka sendiri ketimbang hasil riasan orang lain.

Dentuman drum Minhwan mengaung memenuhi ruangan yang tidak terlalu besar tersebut, walaupun terkesan bisa memekakan telinga tapi, ia sendiri mengakui menikmati kelima orang tersebut berlatih. Ia memandang Hongki yang sedang bernyanyi dengan serius, itu lagu berbahasa Jepang dan baru sekali ini ia mendengarnya. Semenjak dekat dengan Hongki, ia mengakui sering mendownload video-vodeo band ini berikut juga lagu-lagu mereka yang memang begitu enak didengar tapi kebanyakan yang dipunyanya hanya lagu Korea, bukan lagu Jepang. Sepertinya ia harus mendownload lagu-lagu Jepang juga, pikirnya.

**

“Hua nuna betah sekali menunggui kami latihan” ujar Minhwan, member termuda dan berwajah paling maskulin diantara member lainnya. “ini, pasti nuna haus setelah seharian menemani kami” ia menyodorkan jus kalengan padanya.

“terimakasih” balasnya sambil menerima kaleng itu. “dimana yang lain?” tanyanya. Kelima orang itu pergi keluar dari ruang latihan, ia rasanya ingin ikut tapi Hongki menyuruhnya untuk menunggu disini.

“ah, mereka semua diatas. Sebentar lagi kembali kok” jawab Minhwan yang kembali duduk dikursi dibelakang drum miliknya. “oh ya, kudengar dari Hyeong, nuna mau ke Paris ya?”tanyanya sambil memutar-mutar stik drumnya.

Ia hanya mengangguk sejenak lalu tersenyum pada namjah itu. “hanya lima bulan kok” tambahnya.

“wah lama juga ya… “ Minhwan mendesah panjang.

Tiba-tiba pintu terbuka dan keempat namjah lainnya masuk keruangan itu. Hongki kembali dengan membawa kamera DSLR besar. Namjah itu datang menghampirinya. “ayo, kita keberanda atas saja” ajak namjah itu.

Hongki membuka jendela dorong menuju teras lanti dua. Dari atas sini terlihat lapangan golf yang hijau dan indah. Tinggi sekali, pikirnya. Ia menghirup udara segar yang tersedia disana, berbeda sekali dengan udara diperkotaan.

“Hey Ssinz, lihat sini” perintah Hongki, lalu “cklit!” sinar blitz kamera membuatnya sedikit kaget.

“kau ini!” gerutunya. Dan Hongki tertawa terpingkal-pingkal melihat hasil jepretannya. Ia mendekati orang itu dan berniat merampas kamera tersebut tapi kebalikannya, Hongki dengan gerakan cepat merangkulnya dan menjepretkan kameranya kembali tanpa ia bersiap memasang pose. “Kau sengaja memotretku dengan wajah jelek ya?” protesnya.

“kenapa? Aku kan pasti sangat merindukanmu di Jepang nanti, setidaknya foto-foto ini bisa sedikit mengobati rinduku nanti” cerocos Hongki didepan wajah Shin Hye yang hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya.

Shin Hye hanya bisa mengerjap beberapa kali melihat wajah namjah dihadapannya itu, semua yang dikatakan orang ini benar semua.  “iya tapi tidak seperti ini, setidaknya wajahku juga harus terlihat bagus disitu. Ah kau ini mau bagus sendiri” gerutunya.

“baiklah-baiklah!!! Ayo sekali lagi..hana..dul…sik…cklit!” Hongki memberanikan diri mendaratkan bibirnya dipuncak kepala gadis dipelukannya itu. Sembrono kah? Tidak! Karena gadis ini sekarag sudah resmi menjadi pacarnya.

Author: TanMayang
see—> Part 5-6

2 responses

  1. kereen!!…tapi, ini udah tamat atau msih ada lanjutannya ya?

    07/11/2011 pukul 12:39 pm

    • belum chingu,, kta bkinnya ampe part 10,,, nnti msih ada,, Jgn bosen” baca yaa ^^

      gomawo udh komen🙂

      08/11/2011 pukul 8:32 am

Your appreciation please....

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s