FTISLAND & MBLAQ I News Update I Twitter Update I Pictures Update

[HongYe’s Fanfic] “Bonjour! Madame Croissant” (Pt.3-4)

Annyeong, Miss. Croissant!

PART. 3-4

Hongki menengadah menatap langit kota Seoul yang cerah melalui jendela kamarnya. Pagi ini tepatnya pukul delapan pagi ini ia harus menepati janjinya menjemput asisten barunya atau lebih tepatnya teman barunya. “Shin Hye ssi…kuharap kita bisa bekerja sama dengan baik” ujarnya sambil tersenyum sendiri dengan masih menatap kelangit, tiba-tiba ponselnya berdering dengan keras memecahkan lamunannya.

“Yeoboseo ommaku yang cantik” sapanya sambil sebelah tangan kirinya menutup jendelanya kembali. “ah tentu saja aku sudah siap… tugasku akan mulai hari ini…ya, Shin Hye orang yang lumayan baik, menarik dan juga cepat akrab sih, benarkah? Oh ya ia juga…Cantik!, Omma tenang saja aku tidak akan memperkerjakannya dengan keras, menjadikannya asisten itu agar aku lebih mudah memperhatikan dia dan dia juga bakal selalu berada didekatku, dan tentu saja aku menggajinya, oh ya sudah…bye…have a nice day Oemmoni!!!” tutupnya dengan semangat. Ia meletakan ponselnya dimeja  samping tempat tidurnya dan berjalan keluar kamarnya.

“wah Hyung tumben sekali kau pagi-pagi begini sudah ada disini, hari ini juga tidak ada jadwal” ujarnya pada Yoonho, manajer mereka yang sedang asyik menikmati sepotong roti dengan ditemani secangkir kopi panas sambil memainkan Ipadnya.

“ah kesini sebentar, coba kau lihat ini” ia menyuruh Hongki untuk duduk disampingnya.

Hongki berjalan mendekatinya, duduk disamping manajernya itu dan menatap kelayar Ipad, ia menghela napas panjang menatap ekspresi serius dari manajernya itu, lalu tertawa dengan puasnya. “wah aku jadi ingin tahu siapa penulis Fanfic ini, gambarnya seperti sungguhan ya Hyung” ucapnya dengan nada setengah takjub setengah mengejek.

Yoonho menyipitkan matanya dan menatap Hongki dengan ekspresi kesal minta ampun “kau masih bisa tertawa, apa kau tidak malu diisukan sebagai Gay dengan Jonghun, dan kau masih bisa tertawa melihat orang-orang mengarang cerita cinta sepasang gay yang…ih menjijikan” desis Yoonho sambil melempar Ipad itu kemeja.

“kenapa? Itu artinya mereka itu kreatif kan dan daya imajinasi mereka begitu luas sekali, aku tidak peduli mereka mau menulis apa tentang band kami yang penting kami terus menghasilkan musik yang berkualitas dan terus mencetak prestasi, kalau kita ikut meladeni isu ini yang rugi kita juga kan” jawab Hongki santai.

“ne ne ne…. Hongki benar hyung, lagipula kenyataannya kan kami tidak seperti itu, aku ini sudah punya pacar hyung” Jonghun keluar dari kamarnya dan ikut nimbrung bersama mereka.

“iya aku tahu tapi, isu ini juga agak sedikit mengganggu kalian tahu. Ah Hongki apalagi kau itu seorang vokalis yang mana selalu disoroti oleh orang-orang dan seharusnya kau terganggu dengan isu itu” gerutu Yoonho sambil menyesap kopinya.

“Iya aku tahu hyung, tapi mau bagaimana lagi?” “ah Jonghun bagaimana kalau kau kenalkan saja pacarmu itu ke public?” tanya nya dengan senyum yang mengembang.

“tidak bisa seperti itu, pacarku sejak awal tidak mau hubungan kami ini dipublikasikan jadi kenapa tidak kau saja cari pacar secepatnya dan kau kenalkan kepublik bereskan!” protes Jonghun.

aku setuju dengan Jonghun! Hongkia kau harus menemukan gadis yang mau dijadikan pacarmu secepatnya lalu mengenalkannya ke public tapi ingat jangan dengan seorang artis! karena takutnya akan jadi skandal dan masalahnya akan bertambah rumit, kau mengerti?” ujar Yoonho.

“Hey kalian ini menyuruhku untuk berpacaran! Kalian pikir mengencani seorang gadis lalu menjadikannya pacar itu mudah hah, kau kira semua gadis segampang itu Hyung, kau ini keterlaluan sekali!” gerutunya, pikirannya sudah mulai kacau karena kedua orang didekatnya ini sudah mulai agak memaksanya.

“aku tidak tahu caranya tapi kau harus secepatnya punya pacar, terserah mau bohongan atau pacarmu sungguhan yang penting kau mengenalkannya ke public dan imej Gay –mu bisa segera menghilang, itu saja” ujar Yoonho dengan nada sedikit tidak peduli dan memaksa.

Hongki berpikir sejenak mengenai usul manajer dan temannya itu, “siapa yang mau jadi pacarku? Akhir-akhir ini aku belum punya gadis yang kukagumi! Ah!!!!!!!” jeritnya dalam hati. Ia menatap Jonghun yang sedang asyik melahap roti yang lumayan besar dan berbentuk bulan sabit, ia jadi tertarik untuk mencobanya juga karena tampaknya roti itu agak sedikit renyah dan bentuknya juga unik. Ia mengambi satu roti itu dan memasati bentuknya “lucu sekali, ini roti apa namanya Hyung? Kau beli dimana?” tanya nya pada Yoonho yang sedang focus menyaksikan drama yang ada di TV.

“Ah makan saja, aku saja lupa apa namanya tapi rasanya enak, pagi tadi aku beli ditoko roti disimpang jalan ini” jawabnya tanpa memalingkan pandangannya dari televise.

“sepertinya aku mendengar sesuatu” Jonghun berdiri dari sofa dan mendengar lebih jelas lagi, “Oh Hongki itu suara ponselmu! Kau ini budek sekali” desis Jonghun.

Hongki langsung berlari kecil menuju kamarnya dan segera meraih ponselnya,  “Shin Hye” bisiknya dengan menyunggingkan senyumnya. “Yeoboseo Shin Hye ssi..” sapanya, “kau sudah siap…ehm aku masih diasrama, kuliahmu dimulai jam 10 siang ini kan? baiklah tunggu saja aku akan menjemputmu, dah..” ia menutup ponselnya dan terkejut saat menoleh sudah ada Jonghun dan Yoonho sedang berdiri dibelakangnya.

“Hongkia siapa yang mebelponmu barusan? Pacarmu ya?” tanya Yoonho dengan nada sedikit menggoda. Ternyata Yoonho dan Jonghun menguping pembicaraannya ditelpon tadi.

“Kalian nguping ya? Keterlaluan sekali! Bukan dia itu teman baruku” gerutunya dan langsung berlari kecil meraih kunci mobil yang tergeletak dimeja riasnya.

“Hyung kau mau kemana sepagi ini?” Minhwan menghentikan langkahnya dan menatap Hongki dengan heran.

“aku mau jalan-jalan sebentar mumpung libur, kalian juga selamat menikmati libur kalian, bye!!!” jawabnya sambil berjalan cepat menuju pintu keluar. Ia berjalan menuju sedan hitamnya yang sudah lama tidak ia kemudikan semenjak aktifitasnya di Jepang.

***

“Kenapa dia lama sekali? Aku bisa terlambat kalau seperti ini, sudah sering bolos, sekali datang kuliah terlambat. Mati aku!!” Gerutu Shin Hye pada dirinya sendiri. Ia sudah bersiap-siap dari pagi agar Hongki tidak perlu menunggu lama, tapi sebaliknya yang ditunggu malah terlambat.

“Ssinz-ah…aku senang sekali kau sudah kembali kejalan yang benar  sekarang” sapa Eunjung keluar dari dapur.

Eunjung datang dengan piring besar yang tersusun rapi Sandwich keju kesukaannya, cacing perutnya menjadi meraung-raung dan rasanya ingin menerbab susunan Sandwich itu. Terakhir kali ia makan ialah bersama Hongki kemarin dan sampai sekarang ia belum mengisi perutnya sama sekali.

“Ssinz-ah kalau lapar ambil saja, aku tahu kau lapar dan kau butuh banyak energi supaya belajarmu bisa focus, ini” Eunjung menyodorkan piring itu kearahnya, dengan cepat ia mengambilnya. “tampaknya kau sedang menunggu seseorang, siapa?”

“ah itu…Hongki”

“SIAPA? H,,HO,HONGKI? HONGKI OPPA??” tanya Eunjung dengan nada sangat tidak percaya dan sedikit berlebihan.

Ia hanya mengangguk menjawab pertanyaan Eunjung dan tidak lama dari situ ponselnya berdering dan benar itu Hongki. “yeoboseo, iya tunggu saja biar aku yang kebawah, aku tutup ya” ia menutup ponselnya dan melirik Eunjung yang mulutnya sudah menganga tidak percaya. “aku pergi dulu, jangan lupa kunci pintunya ya, dah…” ucapnya sambil berjalan keluar.

Hongki tersenyum lebar padanya, lelaki yang selalu tampak ceria itu sedang berdiri disamping sedan hitamnya dengan dandanan serba tertutup, ia juga mengangkat sebelah tangannya “Aigoo baru sekali ini aku melihat kau berdandan rapi seperti ini, ayo masuk nanti kau terlambat” Hongki berjalan membukakan pintu untuknya “silahkan”.

Selama perjalanan menuju tempat kuliah Shin Hye, Hongki memutar beberapa lagu mereka yang musiknya sangat atraktif yang membuatnya merasa sedikit lebih bersemangat untuk beraktivitas. “apa ini lagu-lagu kalian?” tanyanya mencairkan suasana yang sedari tadi sunyi.

“tentu saja, bagaimana menurutmu tentang kami?”

“bagus, bandnya bagus, lagu-lagunya bagus, dan..” Shin Hye terhenti sejenak karena terbesit dipikirannya untuk mengatakan bahwa “vokalisnya juga bagus atau lebih tepatnya TAMPAN” tapi ia segera mengurungkan niatnya karena takut Hongki malah terlalu percaya diri.

“dan apa?” tanya Hongki dengan wajah penasaran menatap Shin Hye tapi konsentrasinya mengemudi tetap terjaga.

“ah tidak, bukan apa-apa kok” jawabnya cepat, tampak sekali ia sudah gugup setengah hidup, ia membasahi bibirnya agar tidak terlihat canggung dan ini salah satu caranya untuk menghilangkan gugup.

“kita sudah sampai, Oh ya kapan kau pulang?” Hongki menghentikan mobilnya tepat dilapangan parkir universitas dan matanya menatap berkeliling, dengan masih mengenakan kacamata hitam Shin Hye masih bisa melihat ekspresi matanya.

“aku pulang setengah dua siang, jadi apa tugasku hari ini?” tanyanya dengan sedikit gugup, dan Hongki menatapnya lama lalu tertawa.

“tugasmu?? Ehm…kau temani aku jalan-jalan saja ya, aku mau menikmati libur sehariku ini dengan menghibur pikiranku karena setelah hari ini akan ada jadwal setinggi gunung menanti kami, kau mau?” ucapnya.

Shin Hye ragu untuk mengatakan “iya” tapi ini tuntutan pekerjaan barunya, Hongki sekarang adalah bosnya dan ia harus menuruti apa kata bosnya. Ia hanya menganggukan kepala beberapa kali lalu membuka sabuk pengamannya, “aku pergi dulu, sampai jumpa”.

“aku jemput kau disini jam setengah dua nanti, kau jangan kemana-mana ya? Bye” ucap Hongki lalu berlalu bersama sedan hitamnya.

***

Hongki menjalankan mobilnya menuju salah satu toko roti dan kue yang terletak didekat rumahnya dan berhenti sejenak didepan toko itu. Ia baru sekali ini melihat toko roti tersebut yang memang tampaknya masih baru. “apakah hyung membeli kue bulan itu disini? Sepertinya iya” ia langsung membuka sabuk pengamannya dan keluar untuk masuk ketoko itu. Suasana didalam toko kue itu begitu ramah dan hangat, para pelayannya bukan orang Korea melainkan orang Perancis dilihat dari bahasa mereka berbicara. Hongki berjalan melihat-lihat susunan-susunan kue dan roti yang tertata rapi dan sangat mewah itu, “ah ini!” ucapnya dengan suara sedikit keras.

“kau mau ini Sir?”tanya salah satu pelayan laki-laki berambut pirang dan bermata biru seperti samudra atlantik itu, Hongki terkejut bahwa pelayan itu  menyapanya dengan bahasa Korea yang fasih.

“ya aku mau ini, tolong bungkuskan untukku” jawabnya sambil tersenyum pada pelayan itu. “ehm…sepertinya toko kalian ini masih baru ya?” tanyanya sambil menyapu pandangannya kesekeliling ruangan yang bernuansa gold dan merah tersebut.

“ya Sir, ini satu-satunya cabang kami di Korea dan pusat kami ada di Paris, kupastikan kalau kau memasukan ini kemulutmu kau akan terbawa suasana di Paris yang selalu romantis, kau pernah kesana?” tanya pelayan tersebut.

“ah belum, iya kue ini rasanya enak sekali dan aku menyukainya sejak pertama kali aku mencobanya” jawabnya.

“Kuharap kau memakannya bersama kekasihmu dan aku yakin kalian akan langsung terbawa suasana  seperti sedang dibawah menara Eiffel saat Saturday Night, tapi tentu saja kau harus mengkhayalkannya juga bukan?” canda lelaki jangkung itu sambil membungkus rapi kue-kue itu “ini, silahkan kembali lagi kemari dan semoga harimu menyenangkan”.

Hongki begitu puas dengan pelayanan di toko tersebut walaupun tadi pelayannya agak seperti tukang khayal tapi rasanya memang seperti sungguhan, ia berencana kembali kemari bersama Shin Hye karena ia tahu asistennya itu juga tukang khayal sama seperti pelayan itu. Dan ia berharap mereka dapat saling bertukal khayal bersama.

Ia kembali kemobilnya dan berjalan menuju Gangnam ketempat Karaoke yang merupakan tempat ia dan teman-temannya -yang juga sesama artis melepaskan penat bersama, unek-unek mereka ditumpahkan bersama, dan teman-temannya itu rata-rata bergolongan darah AB termasuk juga dirinya, ia sudah janji mau mentraktir teman-temannya itu kali ini. Ia pun keluar dari mobil dan berjalan masuk, Mereka bahkan sudah menjadi tamu tetap di Karaoke tersebut dan sebuah ruang khusus sudah disediakan untuk mereka.

“Hongkia akhirnya kau datang juga, ayo duduk” lelaki berwajah cantik dengan mengenakan setelan jas dan kaus tipis menyuruhnya duduk disampingnya, ia adalah Kim Heechul yang juga seorang artis, Heechul dianggapnya bukan seperti sahabat melainkan kakak baginya karena kepada dialah semua rahasia pribadi,masalah dan semua kekesalannya pada seseorang diceritakan pada lelaki cantik itu dan rahasia terjamin seumur hidup.

Ia melihat Samdi-hyeong sedang berdansa dan bernyanyi-nyanyi bersama teman lainnya. Rasanya ia mau mengajak Jonghun kemari karena dia juga salah satu dari grup ini. “apa kabarmu Hyeong? Wah aku suka sekali rambutmu” sapa Hongki sambil duduk disamping Heechul.

“Hey sepertinya ada yang mau kau ceritakan padaku, ayolah kau kelihatan sekali seperti sedang memendam suatu masalah” Heechul sangat tahu dan sangat pandai membaca suasana hati Hongki, ia memang sedang bingung dan sedikit tertekan dengan permintaan manajernya yang memaksanya untuk segera punya pacar.

“hyeong makin hari kau ini makin seperti paranormal saja!” candanya dengan ekspresi serius yang biasa ia gunakan kalau sedang mengejek seseorang.

“aku kenal kau dari sejak kau masih ingusan Hongkia jadi aku hafal sekali raut wajahmu kalau sedang ada masalah, ayo ceritakan padaku” pinta Heechul.

“begini, ehm…aku punya masalah dengan manajerku dan juga Jonghun” Hongki memulai berbicara tentang keluh-kesahnya.

“kau bertengkar dengan Jonghun ya?”

“bukan” Hongki mulai bingung harus memulai darimana “mereka memaksaku untuk segera mencari pacar, aku harus bagaimana hyeong???” Hongki mulai merengek dihadapan Heechul.

“kenapa tiba-tiba seperti itu? Apa karena isu gay itu? ” tanya Heechul dengan sangat hati-hati. Dan Hongki hanya mengangguk dan tertunduk.

“apa kau sedang tidak dekat dengan gadis Hong? Biasanya kau punya banyak sekali teman perempuan, ah aku punya usul, ehm bagaimana kalau kau pura-pura saja” usul Heechul.

“pura-pura?”

“ya, kau bayar saja seorang gadis untuk dijadikan pacarmu untuk sementara waktu dan setelah public percaya bahwa kau bukan gay kau bisa putuskan gadis itu, bagaimana menurutmu?”

“Hyeong kau benar-benar gila! Tapi, Baiklah, Akan kupikirkan usulmu itu” Hongki menyesap bir dari botolnya langsung tanpa menuangkannya ke gelas, itulah kebiasaanya yang membuat para Hyeognya kesal setengah hidup dibuatnya. Ia berencana mau menghabiskan waktu bersama teman-temannya itu dan setelah itu baru menjemput asisten barunya kembali, Dan ia tidak akan membuat dirinya mabuk dan menyisahkan botol bir itu masih terisi penuh karena biasanya ia menghabiskan satu botol itu bahkan lebih lalu pulang dalam keadaan mabuk.

***

“Ssinz-ah kau dipanggil Yabi-songsaengnim sekarang, penting!” salah seorang senior Shin Hye di kampus mendekatinya saat ia sedang menikmati makanan dikantin. Wajah seniornya tampak senang sekali melihatnya yang sedang bermasalah dengan dosennya.

“ne Jae Gyeong-sunbae.. aku akan menemuinya, terima kasih  kau mau bersusah payah memanggilku” jawabnya dengan sedikit menyunggingkan bibir.

Ia langsung beranjak dari tempat duduknya dan meraih tasnya. Jantungnya berdegup sangat keras dan rasanya keringat sudah menjalari pundaknya. Ia masuk keruangan dosennya dan benar saja Yabi sudah menunggu kedatangannya dengan melipat tangan didepan dada dan mengetuk-etukan telunjuknya. “kau sudah datang Park Shin Hye” ia menoleh kearahnya dengan tatapan tajam.

“ne Songsaengnim, ada apa kau memanggilku?” tanyanya dengan nada gugup.

Yabi hanya mendesahkan tawa yang singkat, ia menatap Shin Hye dengan tajam untuk kedua kalinya “aku kecewa padamu, kau merupakan salah satu mahasiswa terpintar dijurusanmu ini tapi sepertinya kau lebih memilih bekerja menjadi pelayan kafe dibandingkan sekolahmu.Kau melewatkan ujian tengah semestermu kemarin, dan akibatnya sangat fatal Shin Hye-ah..” ia berjalan mendekati Shin Hye dan sekarang mereka sudah berhadapan dengan sangat dekat,mata mereka bertemu satu sama lain dan yeojah dengan dandanan sangat fashionable itu menyengkram pundaknya dengan lembutka “kau harus mengerjar nilaimu, aku takut mahasiswa berbakat sepertimu akan tidak lulus, tapi jangan khawatir karena kau masih bisa memperbaikinya sekarang” ucapnya dengan senyum yang hangat.

Yabi merupakan dosen yang paling menjaganya selama ini, setiap ada masalah pasti ia akan mengadu padanya dan meminta solusi darinya, walaupun dosennya ini tergolong orang yang serba cepat dan juga perfeksionis,  “songsaengnim aku harus bagaimana? Apa aku benar-benar tidak akan bisa lulus?”

“kau harus ikut ujian lainnya, tidak  susah kok. Kau kan pintar mendesain digambar dan kuharap kau bisa mewujudkannya dalam bentuk nyata” ia berjalan menuju tempat duduknya dan menyesap secangkir teh hangat dari mejanya “kau cukup membuat sebuah pakaian khusus kaum Namjah”

“maksudmu aku mendesainnya sendiri?” tanya nya cepat.

“ya, aku yakin kau bisa Shin Hye-ah… tidak perlu yang sulit-sulit cukup yang terkesan minimalis tapi terlihat elegan itu saja, terserah mau kau buat Jas, jaket,vest atau semacamnya dan tentunya harus bagus hasilnya. Selamat bekerja, Oh ya kau boleh keluar sekarang, aku beri kau waktu satu minggu” ucapnya dengan senyum puas, benar Yabi sangat puas kalau berhasil membuatnya kesulitan.

Ia keluar dari ruangan itu dengan pikiran yang campur aduk, “bagaimana mungkin ia memberiku waktu satu minggu untuk membuat sebuah pakaian” gerutunya. Ia melirik jam tangannya dan jarum panjang sudah bertengger diangka delapan “wah dia pasti sudah menungguku lama” ia pun langsung berlari disepanjang koridor, menyusuri kerumunan mahasiswa, dan terus berlari menuju ke depan gerbang universitasnya.

***

“kau lama sekali” gerutu Hongki dengan wajah meringis kepanasan, ia mengenakan kacamata hitam besar yang lebih besar dari bentuk wajahnya. Shin Hye mengerti kenapa Hongki mengenakan pakaian serba tertutup seperti itu karena, akan sangat berbahaya bagi artis berjalan-jalan sendirian apalagi bersama seorang gadis, akan ada banyak sekali paparazzi yang mengikuti mereka.

“maaf aku tadi dipanggil dosenku, ya sudah ayo cepat naik” ia berjalan masuk kedalam mobil dengan cepat.

“kau kenapa kusut sekali?” tanya Hongki, matanya mengerjap beberapa kali saat ia membuka kacamatanya dan menatap Shin Hye heran. “kau ada masalah dengan dosenmu?”

“iya, bisa kau jalan sekarang? Terserah kau mau mengajakku kemana, tadi kau bilang mau kutemani untuk jalan-jalan hari ini kan” jawabnya.

Hongki hanya diam saja dan langsung menjalankan mobilnya, suasana dalam mobil begitu hening karena Shin Hye sibuk dengan pikirannya dan Hongki hanya terdiam bingung dengan keadaan Shin Hye. Ia memutuskan untuk mengajaknya ke taman di Namsan, tempat ia biasa menyendiri untuk menyegarkan pikiran.

“kita sudah sampai” ucapnya dengan semangat tapi Shin Hye masih memasang wajah suntuk dan masih terduduk dikursinya. Hongki membukakan sabuk pengaman untuknya dan menggenggam telapak tangan Shin Hye “ayolah Shin Hye jangan suntuk seperti ini, kalau ada masalah kau jangan memendamnya sendiri, ayo bersenang-senanglah” Hongki menyemangati Shin Hye, ia memancarkan senyum hangatnya lagi dan membuat Shin Hye sedikit bersemangat.

Hongki mengambil bungkusan roti dari toko roti yang didatanginya tadi siang, ia memutuskan untuk memakannya bersama Shin Hye ditaman. Mereka pun berjalan menyusuri taman yang  sangat jauh dari keramaian itu. Hongki mengajak Shin Hye untuk duduk disalah satu kursi panjang yang terletak ditaman yang berhadapan langsung dengan pemandangan yang indah. “ini”, Hongki menyerahkan kotak kue yang sudah dibuka ke Shin Hye, dan tampak susunan rapi beberapa kue bulan sabit.

“Oh Croissant!” jeritnya dengan senyum mengembang, “Hongkia kau membeli ini dimana?” tanyanya dengan ekspresi takjub. Hongki lega akhirnya yeojah yang diam sedari tadi akhirnya bisa kembali tersenyum hanya karena kue bulan sabit yang katanya dari Perancis ini.

“aku membelinya didekat komplek pertokoan didaerah apartment kami, nama kue ini susah sekali diingat, apa kau suka?”

“tentu saja,Oh… ini namanya Croissant, aku biasanya membuat sendiri kue ini karena sulit sekali mencarinya di Korea,aku jadi ingin tahu dimana tokonya” ucapnya dengan senyum yang mengembang tanpa henti, ia memasukan kue itu kemulutnya dan tiba-tiba ia membelalak menatap Hongki “ehm…ini enak sekali, beda sekali dengan yang aku buat, Hongkia kapan-kapan kau ajak aku kesana ya?” rengeknya.

“aku memang berniat mengajakmu kesana, kau tahu semua pelayan disana berasal dari Perancis dan mereka sangat fasih berbahasa Korea dan juga sangat ramah. Ia bilang padaku kalau memakan kue ini kau akan serasa berada di Paris, aku senang kau menyukainya setidaknya kau tidak suntuk lagi” ungkap Hongki dengan senyum mengembang juga menatap Shin Hye yang menganggukan kepala menanggapinya berbicara.

“maaf Hongkia, moodku tadi sangat buruk” ungkap Shin Hye dengan nada menyesal.

“memangnya kau ada masalah apa dikuliah mu?” tanya nya.

“ehm… aku melewatkan ujian tengah semesterku kemarin, dan dosenku memintaku untuk mengejar ketinggalanku dengan membuat sebuah pakaian untuk kaum Namjah dan  desainku sendiri dalam satu minggu dan kalau aku tidak mengerjakannya, konsekuensinya aku bisa ditunda kelulusannya” desahnya panjang.

“jurusanmu desainer ya?”

Shin Hye hanya mengangguk saja dan kembali terdiam, Hongki mencoba mencari cara agar temannya ini kembali ceria “ehm, kau buatkan saja baju untukku, kau mau kan?” tanyanya, membuat Shin Hye tersentak mendengar permintaannya. “kau buatkan aku jas untukku manggung, aku mau dijasku itu ada ornamen tengkoraknya dan tentu saja aku akan membayarmu dengan biaya yang beda dari gajimu” lanjutnya.

“t..tu.tunggu dulu” ucap Shin Hye terbata-bata, “aku ini belum pernah sama sekali menciptakan sebuah pakaian, memang aku lumayan dibidang menggambar desainnya tapi kalau membuatnya aku belum pernah mencobanya apalagi mau kau pakai untuk manggung, aku tidak yakin” jawabnya dengan nada ragu.

“dasar babo! Untuk apa kau kuliah desainer kalau kau tidak berani menciptakan sebuah pakaian, harusnya ini menjadi kebanggan bagimu karena diminta untuk membuat pakaian untuk artis terkenal dan akan dipakai untuk tampil di televise, aku yakin kau pasti bisa Shin Hye” Hongki menyemangatinya kembali.

“baiklah, tapi kalau hasilnya jelek jangan salahkan aku ya, besok aku akan mulai mengukur badanmu dan tentang ornamen tengkorak itu bisa kau tentukan sendiri mau seperti apa, jam berapa kau bisanya?” tanyanya.

“ah besok aku sudah mulai syuting, bagaimana kalau sepulang syuting saja? Kau kan yang membawa mobilku jadi kau datang saja untuk menjemputku besok dan kita akan mendiskusikannya di apartment kami, jemput aku sepulang kau kuliah saja Karena syutingnya tidak terlalu sampai malam, sore sudah selasai”

“Baiklah kalau begitu” desahnya dan tersenyum pada Hongki. Perasaannya selalu lega setiap bersama namjah ini, ia selalu memberi semangat padanya dan senyumnya itu juga yang membuatnya selalu tidak bosan untuk terus berdekatan dengannya. Shin Hye beranjak dari kursinya dan berdiri dihadapan Hongki yang masih duduk lalu ia menempelkan tangannya dipundak namjah itu “terima kasih ya, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan kalau kau tidak ada saat ini, sekali lagi terima kasih” ungkapnya dengan wajah yang sangat tulus. “kau juga boleh meminta tolong apapun padaku suatu saat kau ada masalah, aku selalu siap membantumu”.

***

Hongki mengerjapkan matanya beberapa kali dan jantungnya berdegub kencang saat tangan Shin Hye menempel dipundaknya. Ia merasa seperti ada jutaan kupu-kupu didalam perutnya, “Hongki, kau ini kenapa” bisiknya dalam hati. Ia berdiri dan menatap yeojah itu sambil tersenyum “tentu saja, aku juga pasti akan sangat banyak menyusahkanmu. Kau jangan memendam sendiri masalahmu, kau di Korea ini tanpa orang tua jadi kau butuh banyak teman untuk berbagi, aku siap jadi tempat menampung curhatmu, kalau kau butuh bantuan jangan sungkan untuk menelponku, setiap waktu aku selalu siap menerimanya” ucap Hongki lalu memeluk temannya itu.

“terima kasih” ucap Shin hye didekapan Hongki. Hongki melepaskan pelukannya dan menggandeng tangan Shin Hye lalu mereka menyusuri jalan menuju mobil mereka. “ini” Hongki melempar kunci mobilnya pada Shin Hye, “kau yang menyetir, mulai hari ini mobil ini kau yang bawa” ungkapnya lalu masuk kedalam kursi penumpang disamping sopir. Shin Hye berjalan ragu menuju kursi supir itu.

***

Syuting kembali dimulai hari ini dan mereka mengambil lokasi didaerah Hongdae, dekat dengan apartment Shin Hye. Pagi ini Hongki diantar langsung dengan van khusus untuk mengantar kemanapun dirinya pergi dan tentu saja supirnya adalah Yoonho, manajer mereka. Hongki menatap layar ponselnya dan tidak ada satupun pesan atau suara deringan ponselnya hari ini, biasanya ponselnya sibuk menerima pesan atau telpon dari teman-temannya dan juga Shin Hye tentunya, tapi, hari ini sungguh sunyi. Ia mulai merasa bosan dengan keadaan seperti ini. Ia melirik Yoonho yang sibuk memainkan PSPnya “Hyeong kau bisa pulang sekarang untuk menjemput Minhwan dan Seunghyun dikampus” pintanya sambil beranjak dari kursi istirahatnya karena syuting dimulai 3 menit lagi.

“lalu yang mengantarmu pulang siapa? Lagipula dimana mobilmu sekarang?” gerutunya tanpa memalingkan matanya sedikitpun dari layar kecil itu.

“sudah ada yang akan menjemputku, aku sudah punya asisten pribadi sekarang dan mobilku ada padanya”

Yoonho mengernyit menatapnya seolah-olah menganggap Hongki seperti orang aneh yang mengoceh sendiri, “kau bercanda kan?” tanya nya.

“tidak, nanti aku kenalkan pada kalian” jawabnya dengan wajah kesal.

“apa kau sudah kenal asistenmu itu cukup lama? Sekarang ini sedang musimnya penipuan, kau mau mobilmu dibawa lari orang. Atau lebih menyeramkannya lagi kau bisa diculiknya dan-“

“cukup Hyeong! Kau berlebihan sekali” potongnya, ia benar-benar kesal mendengar ocehan manajernya barusan karena mana mungkin Shin Hye seburuk itu. “dia orang baik dan sangatlah jauh dari yang kau katakan barusan” ungkapnya kesal.

“pengambilan gambar terakhir dimulai” teriak sutradara memberi instruksi kepada seluruh pemain dan staf. Hongki berpaling dari manajernya dan berjalan menuju kerumunan staf.

“apa kau yakin bisa pulang sendirian?” tanya Yoonho dengan wajah ragu. Hongki hanya mengangguk dan tersenyum padanya lalu berlari menuju kerumun staf yang sudah bersiap. Pengambilan gambar terakhir ini benar-benar membuatnya lega, setelah syuting drama dilakukan lebih dari satu bulan yang lalu dan sempat tertunda karena kegiatan FTIsland di Jepang begitu padat dan syutingnya baru diteruskan sekarang untuk menentukan ending ceritanya.

Syuting hari ini berjalan dengan lancar dan Hongki benar-benar menghayati perannya kali ini karena drama ini akan diputar pada hari spesial di Korea yaitu hari Chuseok. Ia berterima kasih kepada sutradara yang mempercayakannya untuk memerankan tokoh utama drama tersebut, para pemain, beserta staf-staf yang membantunya kali ini sebelum ia pulang meninggalkan lokasi syuting.

“Hongki-sii” panggil sutradara Jung sambil berjalan menghampirinya dengan mata menyipit karena silaunya matahari sore.

“ya nuna?” tanya nya dengan senyum yang ramah seperti biasanya.

“ikutlah bersama kami untuk minum-minum, syuting hari ini berjalan dengan lancar dan aku sangat terpesona melihat aktingmu tadi, kau benar-benar multitalenta” puji Sutradaranya.

“ah terima kasih nuna… tapi, maaf aku tidak bisa ikut sekarang karena sedang ada urusan, maaf sekali” ungkapnya dengan perasaan tidak enak karena menolak permintaan dari yeojah itu.

“Oh begitu, tapi kulihat tadi Yoonho oppa sudah pulang duluan, lalu kau pulang dengan siapa?”

“aku sedang menunggu seseorang, aku sudah ada yang jemput kok”

“sayang sekali…baiklah kalau begitu kami pulang duluan ya, kau hati-hati menunggu disini ya. Semoga kita bisa bekerja sama lagi suatu saat nanti, Annyeong Hongkia” sutradara muda berwajah imut itu melambaikan tangannya pada Hongki lalu berlalu masuk kedalam Van berwarna putih besar yang mengangkut sebagian stafnya.

Ia merogoh sakunya untuk mengambil ponselnya, “kau ini kemana sih??” ia resah kenapa asistennya itu belum tiba juga dan ia mencoba menghubungi gadis itu. Namun tiba-tiba suara klakson mengejutkannya dan benar saja Shin Hye melambaikan tangannya pada Hongki dan membukakan pintu untuknya. “kau kemana saja sih?” tanya Hongki saat didalam mobil.

“maaf aku tadi masih dikampus, aku sudah menggambar pakaian seperti apa yang akan aku buat jadi aku tinggal mengukur tubuhmu. Kita langsung ke apartmentmu?” tanya gadis itu tanpa mengetahui bahwa Hongki sedang melengos kearah luar dan seperti tidak memperdulikannya. Shin Hye jadi merasa bersalah karena mungkin Hongki sedang marah padanya karena terlambat menjemputnya. “kau marah ya? Maaf aku benar-benar mengerjakan tugasku, sungguh…” ungkapnya.

Hongki menoleh padanya dan memandang mata Shin Hye langsung dan cukup lama mata mereka saling bertemu, “kita langsung saja ketoko kue bulan yang kuceritakan kemarin, aku sudah janji untuk mengajakmu kesana kan, jadi ayo jalan” ucap Hongki dengan beralih memandang lurus kedepan kearah jalan. Namun Shin Hye masih belum menjalankan mobilnya dan hanya terdiam memandang wajah Hongki dengan wajah menyesal, “aku tidak marah, sudahlah lupakan, aku lapar sekali” perintah Hongki dengan sedikit menyunggingkan senyum supaya gadis itu sedikit bersemangat dan tidak merasa bersalah lagi.

Hongki memerintahkannya untuk berhenti didepan sebuah toko kue dan roti yang lebih mirip seperti kafe. “disini?” tanya Shin Hye dengan mendongak melihat nama toko tersebut.

***

“ayo kita masuk” Hongki membukakan sabuk pengaman Shin Hye, gadis itu heran ini benar-benar terbalik bahwa harusnya dirinya lah yang melakukan itu karena dia adalah asisten namjah itu. Ia berjalan keluar dan ia memandang Hongki yang sudah kembali mengenakan setelan topi yang dipakainya hampir menutupi setengah wajahnya dan memakai kacamata hitam andalannya kembali, dandanannya itu benar-benar menutupinya.

“Annyeonghaseo Sir…Madame..” sapa seorang bertubuh jangkung bermata biru laut yang membukakan pintu untuk mereka.  Mereka langsung disambut begitu pintu dibuka dan tampaknya pelayan itu sudah mengenal Hongki karena terlihat mereka berdua saling melempar senyum.

“apa ada tempat yang tidak mudah terlihat oleh orang banyak?” Tanya Hongki pada pelayan itu.

“tunggu, aku tahu kau adalah artis terkenal disini, ya ampun apa gadis cantik  bermata bulat ini pacarmu? Aku mengerti alasanmu mencari tempat yang jauh dari keramaian, pasti karena si cantik ini kan?” canda pelayan itu “ayo ikut aku”.

Hongki tampak tersenyum saja pada pelayan itu tanpa membantah ataupun menjawab pertanyaan konyol pelayan itu. Jujur saja Shin Hye merasa sesuatu yang hangat menjalari tubuhnya saat mendengar ocehan pelayan tadi, entah sudah seberapa merah pipinya tadi, pikirnya. Mereka mengambil tempat duduk dilantai dua dan ternyata memang sangat sepi dan hanya ada mereka bertiga -plus pelayan itu tentunya.

“aku mau pesan kue seperti kemarin”

“Oh croissant, tepat sekali!” pelayan itu mengacungkan telunjuknya keatas “Sir sepertinya kau benar-benar menuruti saranku kemarin, kau membawa pacarmu kemari untuk merasakan bersama perasaan serasa dibawah menara Eiffel di sabtu malam yang terang benderang dan romantis” ucap pelayan itu takjub.

“Shin Hye kau mau pesan yang lain mungkin?” tanya Hongki yang pipinya tampak agak sedikit memerah dan suaranya agak terdengar kering.

“ah tidak aku Cuma mau pesan Croissant tadi” jawabnya, “tuan kau berapa lama tinggal di Korea, aku salut pada bahasa Korea mu” ujarnya pada pelayan itu.

Pelayan itu mengangguk-angguk sejenak sambil memainkan jarinya seperti anak kecil yang sedang berhitung. “aku lupa tapi aku cukup lama disini maaf, Oh ya kalian mau minum apa?”

“Ah aku mau pesan… Milkshake, kau?” Hongki mendongak pada Shin Hye.

“sama” jawabnya. Pelayan itu berlalu meninggalkan mereka berdua dan sekarang lengkap sudah hanya mereka berdua diruangan seluas itu. Suasana hening menyelimuti mereka, Samar-samar terdengar suara alunan musik dari gitar Spanyol, ia sesekali membasahi bibirnya mencoba untuk tetap tenang karena jujur ia merasa detak jantungnya semakin meningkat, sebelumnya ia tidak pernah merasakan hal ini saat didekat Hongki. Ia memandang Hongki yang sedang asyik memainkan ponselnya.

“ini” Hongki menyodorkan ponselnya pada Shin Hye membuat yeojah yang sedang melamun itu terkejut minta ampun, Hongki selalu melakukan hal-hal yang tiba-tiba dan tidak hanya itu terkadang suaranya juga sering membuat Shin Hye jantungan minta ampun.

“ini avatarmu? Lalu apa urusannya denganku?” Ia bingung kenapa Hongki menunjukan avatar twitternya padanya.

“itu yang harus kau buat, aku  mau gambar yang ada di avatarku itu ada dibajuku nanti, kau bisa kan?” tanyanya sambil meletakan ponselnya kembali kesaku celananya.

“tapi apa kau serius mau memakai gambar itu? Masih ada banyak ornament tengkorak lain yang lebih menarik Hongkia” gumam Shin Hye. Ia merasa gambar itu terlalu sederhana dan tidak terkesan mahal apalagi elegan.

“kalau begitu, bagaimana kalau kau saja yang memilihnya dan aku terima jadi saja, berarti kau sudah harus menyiapkan bahan untuk membuatnya kan?” tanya nya.

‘besok aku akan mencari bahannya” jawabnya.

Seorang pelayan perempuan berambut merah dan bertubuh gempal datang dengan senyum yang mengembang, “ini pesanan kalian bukan, kalian tampak serasi sekali” ucapnya dengan pandangan takjub pada mereka berdua, “Oh ya semoga kalian dapatkan sensasi saat memakan kue ini, suasana sabtu malam dibawah menara Eiffel yang romantis, selamat menikmati” pelayan itu berlalu meninggalkan mereka.

“Hongkia kau ini kenapa tidak membantah sama sekali sih ucapan para pelayan disini yang mengatakan kita ini sepasang kekasih?” gerutu Shin Hye. Hongki malah menghiraukannya dan menyedot milkshakenya.

“diamkan sajalah! Apa kau terganggu dengan ucapan mereka?” tanya Hongki kembali.

Shin Hye bingung apa yang ada dipikiran namjah itu, ia mengkhawatirkan namjah itu tapi sepertinya namjah itu tidak mengkhawatirkan dirinya sendiri. “kau itu artis! Apa kau tidak takut sama sekali?”

“Tidak! Artis juga manusia kan, mentang-mentang aku artis jadi aku tidak boleh jalan-jalan dengan orang yang aku suka?” Ungkapan spontan itu terlepas dari mulut Hongki.

Shin Hye terkesiap mendengar kata terakhir tadi “orang yang aku suka?” pikirnya, lagi-lagi tubuhnya memanas dan jantungnya berdegup dengan kencang kembali. “apa  maksudmu  tentang orang yang aku suka?”

tidak ada lupakan saja” Hongki tertunduk dan wajahnya menjadi agak merah, sesekali ia membasahi bibirnya entah karena gugup atau karena pengaruh cuaca yang tiba-tiba menjadi panas setelah musim dingin.

***

“ayo masuk” Hongki mempersilahkannya masuk kedalam apartment yang pasti sudah tidak asing lagi dimata yeojah itu. Mata Shin Hye tampak menerawang dan ia berjalan lambat seperti siput seperti sedang mencari sesuatu.

“kau sudah pulang Hyeong” sapa Minhwan yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan  hanya mengenakan handuk untuk menutupi bagian bawah tubuhnya saja. Minhwan berjalan dengan wajah penasaran menghampiri Shin Hye yang sedang tertunduk malu “dia siapa?” tanyanya.

Shin Hye terperanjak dan langsung menutup matanya, Hongki langsung menarik tubuh Shin Hye kebelakangnya. Ia tahu pasti yeojah ini cemas bukan main melihat namjah yang nyaris telanjang ini. “dia asisten pribadiku, hey cepat kekamarmu lalu berpakaian kau tidak malu tampil seperti ini didepan seorang yeojah?” gertaknya. Untungnya Minhwan dengan cepat menurut dan langsung berlalu kekamarnya. “dia sudah pergi, kau tidak perlu cemas. Oh ya kita keruanganku saja untuk mengukur tubuhku, ayo” ia menuntunnya kekamarnya dan melewati ruangan tengah tempat biasa anggota yang lain bersantai.

Jonghun yang sedang asyik mendengarkan lagu dari Ipodnya menatap Hongki dengan heran dan penuh tanya, Hongki tahu pasti yang dipertanyakannya adalah gadis disampingnya ini. Tidak lama dari situ munculah juga kedua anggota lainnya Jaejin dan Seunghyun yang sepertinya habis dari luar. Ia melirik sekilas wajah Shin Hye dan pipi gadis itu nyaris putih dan tampak tatapan gugup dimata bulatnya.

“gadis ini siapa?” tanya Jonghun yang beranjak dari kursinya dan menghampiri mereka berdua.

“Annyeonghaseo naneun Park Shin Hye ibnida, bangapseumnida” sapa Shin Hye dengan senyum mengembang dan membungkuk beberapa kali. Jonghun dan dua anggota lainnya ikut membungkuk dan tersenyum padanya.

“ehm… perkenalkan…Shin Hye ini adalah ..asisten pribadiku” ucap Hongki dengan sedikit terbata.

Jonghun menatap wajah Shin Hye cukup lama, Hongki tahu kalau Jonghun bersikap seperti itu pada orang baru itu tandanya ia sudah mengenalnya sebelumnya. “dia si kurir donat waktu itu, kau ini Jonghun menatapnya berlebihan sekali!”  gerutu Hongki.

“Ahh…pantas saja aku seperti mengenalinya, kenapa bisa kalian berdua??” tanya nya dengan mata membesar, alis terangkat sebelah dan kedua tangannya bermain menunjuk mereka berdua.

“dia dipecat dari pekerjaannya dan aku memperkerjakannya sekarang, ya sudah aku mau  keruanganku dulu” Hongki menyuruh Shin Hye untuk berjalan mendahuluinya dan meninggalkan suasana yang masih bingung diruang tengah itu.

Hongki membuka pintu kamarnya dan melepas semua asesoris penutup identitasnya. Ia berbalik menatap Shin Hye yang sedang melihat-lihat koleksi foto Hongki sewaktu masih menjadi artis cilik hingga yang sekarang. “foto itu waktu aku main didrama cilik Kids Madsuri, apa kau tahu drama ini?” tanya nya.

Shin Hye hanya menggeleng dan meletakan kembali foto itu diatas meja dan menatap Hongki kembali dengan menyunggingkan senyum “aku dari lahir sudah tinggal di Thailand

“benarkah? Apa kau belum pernah ke Korea waktu kau kecil mungkin? Kulihat namamu nama Korea kan?”

“pernah sewaktu masih kecil, iya aku memang orang Korea, seluruh anggota keluargaku asli Korea, kami hanya tinggal menetap di Thailand karena urusan keluargaku”

oh begitu, pantas wajahmu saja jelas Korea sekali” candanya membuat Shin Hye ikut tertawa. “Ah..ayo kau mulai mengukur tubuhku” pintanya. Hongki berjalan menuju lemari besar dikamarnya mengambil salah satu pakaian yang terbungkus dengan bungkus jas berwarna hitam dari kamarnya.

Shin Hye mendekati Hongki yang sedang membuka resleting bungkusan hitam itu dan ikut membantunya, ia terkejut bukan main saat tahu isinya adalah baju yang pernah dicucinya baru-baru ini. Hongki mengeluarkannya dan menyodorkannya ke Shin Hye. “ini, ukurannya samakan saja dengan yang ini. Kau tahu ini karyaku yang pertama, aku baru pertama kali mendesain sendiri bajuku dan ini kau lihat gambar yang diavatarku itu ada dibelakangnya” ungkapnya sambil sedikit tertawa.

kau mendesainnya sendiri, wah kau kreatif juga ya… apa kau yakin ukurannya sama seperti ini?
“baju ini baru loh, dan ini masih sangat muat padaku. Memangnya kau mau buat apa?” tanyanya.

“Jas” jawab Shin Hye cepat.

“Jas? Ehm bagus juga idemu karena kebetulan dalam bulan ini akan ada acara penghargaan besar di Korea dan aku mau memakainya nanti disana”

“aku tidak bisa menyamakan ukurannya aku harus mengukur sendiri biar akurat” protes Shin Hye.

“baiklah kalau itu maumu” Hongki berdiri dengan tegap dan Shin Hye mengeluarkan gulungan meteran dan mulai mendekati Hongki. Gadis itu mulai mengukur dibagian lengannya, lalu lingkar tangan dan bahu. Hongki merasa degub jantungnya semakin kencang saat tangan gadis itu melingkar dilehernya untuk mengukur lehernya. “Hongkia kenapa kau jadi gugup seperti ini, sadarlah hey!!” ocehnya dalam hati.

“bisa kau rentangkan tanganmu?” tanya Shin Hye dengan menatap lurus kemata Hongki membuat dirinya bertambah gugup.

“tentu saja” jawabnya gugup. Ia membentangkan tangannya dan tangan Shin Hye melingkar kepinggangnya. Sekarang Hongki merasa seperti ada sengatan listrik ditubuhnya saat Shin Hye hanya berjarak beberapa senti darinya tapi Hongki heran gadis itu tampak sangat tenang dan berkonsentrasi,ia heran apa gadis itu tidak bisa merasakan degub jantungnya yang keras ini.

“selesai” ucap Shin Hye dengan senyum mengembang dan mencatat keseluruhannya kedalam notebook kecil. “kalau begitu aku bisa pulang sekarang, ah sudah malam sekali” ucapnya sambil menatap jam tangannya.

“tenang saja, kau kan pulang dengan mobilku, aku antar sampai depan ya, Oh Ya besok aku tunggu kau disini pukul sepuluh pagi, kuliahmu kosongkan?” tanya Hongki.

“iya, baiklah, tapi maaf kalau aku datangnya sedikit terlambat karena aku harus mulai mengerjakan tugasku ini” ujar Shin Hye sambil memainkan notebooknya itu.

Mereka keluar dari kamar itu dan ternyata keempat namjah sedang terburu-buru lari menjauhi pintu, tampak jelas mereka dari tadi ternyata menguping pembicaraan mereka berdua. Hongki memandang salah satu namjah bertubuh paling tinggi lalu mengacungkan telunjuk kanannya “Seunghyuni…ini pasti kau yang memulainya”.

“miane Hyeong…aku benar-benar penasaran apa yeojah ini pacarmu” ucap Seunghyun dengan menggaruk-garuk kepala dan tersenyum nakal.

“Jonghuni…bukankah kau tahu kalau Shin Hye ini bukan pacarku, kenapa tidak kau jelaskan pada dongsaeng-dongsaengmu?” teriak Hongki dengan wajah sangat kesal.

“Hya…mulutmu ini besar sekali! Aku tahu tapi, aku sedikit kurang percaya kalau Shin Hye itu asistenmu karena kalian lebih tampak berpacaran dibandingkan hubungan kerja…sudahlah maafkan kami, kami benar-benar penasaran” Jonghun memasang wajah tidak enak dan tersenyum kearah Shin Hye yang masih terdiam.

Hongki hanya mendesah dan menghembuskan nafasnya dari mulut hingga membuat poninya terangkat, ia memandang Shin Hye lalu mengenggam tangan gadis itu “ayo kuantar kau sampai kedepan, maafkan mereka ya” ia menuntun gadis itu dan lagi-lagi suasana dirumah itu mulai riuh dengan bisik-bisik.

Shin Hye juga merasa sikap Hongki padanya memang agak sedikit berlebihan dan tidak tampak ia menganggap dirinya asistennya, ia menarik kembali tangannya dan Hongki menoleh heran. “kau tidak perlu mengantarku dan juga tidak perlu menggandengku terus-menerus” ucap Shin Hye dengan sedikit berat mengatakan hal itu.

“kenapa?” tanya Hongki dengan wajah bingung.

Shin Hye menengadah padanya dan agak bingung alasan apa yang harus ia keluarkan, “karena aku bukan anak kecil, ya sudah aku pulang dulu, bye” Shin Hye langsung berjalan cepat meninggalkan Hongki, ia tidak mau namjah itu bertanya lebih banyak lagi. Ia benar-benar merasa kacau sekarang semua orang mengatakan mereka berpacaran dan namjah itu sedikitpun tidak membantah sama sekali. Ia tidak mau pada akhirnya ia malah menjadi penghancur karir Hongki didunia hiburan ini. Tujuannya bekerja adalah agar bisa mewujudkan mimpinya jalan-jalan ke Paris dan ia harus bekerja dengan sebaik mungkin dan tidak mau membuat masalah pada Hongki karena namjah tersebut lumayan dekat dengan keluarganya.

Part 4

“malam ini kita akan tampil di “Music Core” jadi jangan terlalu banyak aktivitas hari ini, terutama kau Hongki, kau itu adalah vokalis dan kau harus terus menjaga vokalmu” Yoonho menunjuk Hongki yang masih mengenakan piyama.

“siapa saja artis yang akan tampil?” tanyanya dengan suara yang masih berat karena baru bangun tidur.

“ah T-ara, Beast dan satu lagi MBLAQ” ucap Yoonho dengan mulut penuh dengan sandwich.

Hongki mendekati Minhwan yang sedang asyik bermain internet dengan laptop pinknya, ia heran kenapa Minhwan dari tadi tertawa sendiri menatap laptop itu. Ia mengintip dari belakang lelaki itu dan terkejut bukan main mengetahui Minhwan sedang membaca Fanfic gay antara dirinya dengan Jonghun “Hya Minari!!!!! Ternyata kau membaca ini, pantas saja kau tertawa sendiri, Hya kau itu belum cukup umur untuk membaca ini dan juga kau benar-benar tidak memikirkan perasaan hyeongmu ini” oceh Hongki yang kesal bukan main.

Minhwan dengan cepat mengeluarkan halaman tersebut dan menatap Hongki dengan wajah takut, “aku membaca ini karena ini lucu hyeong…aku minta maaf” Minhwan tertunduk dan terdengar kikikan Seunghyun dari belakang Hongki.

“Seunghyuni! Apa yang kau tertawakan ha?” Hongki menoleh pada Seunghyun dan namjah itu langsung terdiam dan duduk manis disamping Yoonho yang hanya menontoni mereka. “Minari…kalau kau berani membuka itu lagi aku berjanji tidak akan memberikanmu ayam lagi dan tidak akan mengantarmu lagi untuk ketemu Omma mu” gertak Hongki.

“jangan Hyeong…aku janji tidak akan baca itu lagi, miane” rengek Minhwan.

“kau sudah mulai terganggu ya Hong, cepatlah cari pacar” ejek Yoonho.

Hongki memandangnya dengan tatapan tajam “kau tidak membantuku sama sekali Hyeong!!!!” jeritnya. Hongki meninggalkan ruangan tengah yang mengesalkan itu dan masuk kedalam kamarnya. Ia membanting tubuhnya keranjang dan menghela napas panjang “aku benar-benar muak kalau terus seperti ini, bahkan dongsaengku sendiri menikmati issue Gay antara aku dengan Jonghun..argh…apa yang harus aku lakukan” erang Hongki. Ia memejamkan matanya lalu tiba-tiba terbayang dengan wajah Shin Hye dan kejadian-kejadian yang pernah mereka alami berdua, Shin Hye adalah gadis pertama yang membuatnya merasa gugup dan jantungnya selalu berdegup kencang didekatnya. “hya…apa aku menyukai kurir itu? Ah…Hongki kau ini kenapa bisa menyukai dia sih!!” gerutunya pada diri sendiri.

Tiba-tiba ponselnya berdering, ia langsung beranjak dari tempat tidurnya dan mengangkatnya, “yeobseo” sapanya dengan nada malas, “ah Ssinz… kau sedang apa sekarang?…kapan kau pulang? Baiklah, nanti tolong jemput aku ya..APA? kau sudah menyelesaikan setengah pekerjaanmu?…aku tidak mau bayar kalau jasnya jelek…jemput aku jam 1 siang kita makan siang bersama, oke..bye..” Hongki tersenyum sendiri setelah menutup telpon itu. “Ssinz-ah…sepertinya aku memang menyukaimu” ungkapnya dengan senyum mengembang. Ia langsung bergegas menuju kamar mandi.

 

***

kau mau menambahkan ornamen tengkorak untuk jas ini?” Eunjung membantu Shin Hye memotong kain berwarna hitam yang sudah terbentang dimeja dan digambar polanya.

“iya, pemiliknya memintaku untuk menambah ornamen tengkorak pada jasnya” jawabnya. Ia sudah memotong-motong bahannya dan tinggal menyatukan lalu menjahitnya untungnya Eunjung sedang libur kuliah dan bisa sedikit membantunya.

“Yabi yang memintanya ya?” tanyanya.

“bukan”

“lalu siapa?”

“Hong..”

“HONGKI??” potong Eunjung yang langsung beranjak dari kursinya dan mencengkeram lengan Shin Hye.

“kau ini mengejutkanku saja” protes Shin Hye. Ia tidak kuat memandang wajah Eunjung yang seperti sedang menunggu undian. “iya iya…” jawabnya dengan terpaksa.

Mulut Eunjung menganga tidak percaya dan matanya tiba-tiba menyipit memandangnya “kau punya hubungan spesial ya dengannya?” tanya Eunjung.

“tidak, dia hanya membantuku” jawabnya cepat.

Eunjung mengangguk sejenak dan seperti sedang berpikir sesuatu “sepertinya dia menyukaimu Ssinz-ah” ungkapnya.

“kau ini!! Itu sangat tidak mungkin!” tegas Shin Hye dengan menghentakan gunting kemeja.

“iya, mana mungkin apanya? Hya, apa dia pernah berlaku aneh padamu?” tanyanya.

“aneh apanya?”

“seperti kebanyakan namjah yang sedang menyukai seorang yeojah. Sifatnya berubah jadi lebih perhatian atau bersikap salah tingkah dihadapanmu mungkin?”

Shin Hye kembali terdiam sejenak, benar, semua yang dikatakan Eunjung tadi memang pernah dilakukan Hongki padanya, namjah itu sangat baik padanya dan malah bersikap berlebihan padanya. Ia mengurut pelipisnya dan menenangkan pikiran campur aduk yang sekarang melandanya. Ia benar-benar takut akan perkiraan Eunjung itu benar. Tapi ia juga tidak memungkiri kalau ia juga sering merasa salah tingkah bahkan tiba-tiba wajahnya bisa merah kalau Hongki sedang berlaku baik padanya, seperti saat Hongki menggandengnya, merangkulnya saat ia sedih, dan masih banyak lagi. Ia melirik jam dinding yang sudah menunjukan pukul setengah satu. “aku harus pergi sekarang” ucapnya.

“kau belum menjawab pertanyaanku Ssinz-ah, jangan-jangan perkiraanku benar” ungkap Eunjung.

Shin Hye menoleh pada Eunjung dan menatap lurus mata temannya itu, “iya..memang kau benar”. Mata Eunjung langsung melebar dan mulutnya menganga, wajah tidak percaya jelas terpancar diwajahnya. “Eunjung-ah… sekarang aku benar-benar sangat takut” ujarnya dengan nada sedih.

“ini benar-benar gila!” ungkap Eunjung.

Shin Hye langsung meninggalkan temannya itu bergelut dengan keterkejutannya dan bersiap-siap menjemput Hongki. Waktu untuk menyelesaikan tugasnya masih tinggal 3 hari lagi dan sepertinya besok malam jas itu sudah siap dipakai. Ia meraih kunci mobil yang tergeletak dimeja ranjangnya, ia terdiam melihat kunci mobil itu lalu tersenyum “tuanmu itu terlalu baik dan sungguh mempesonaku, lama-lama aku bisa gila dibuatnya” ucapnya pada kunci yang ada ditelapak tangannya.

Shin Hye menekan bel apartment Hongki, ia berharap yang membukakan pintu adalah Hongki bukan teman-temannya, sungguh detak jantungnya sekarang seperti bisa terdengar sampai jauh. Tiba-tiba pintu terbuka, tidak terlalu lebar, dan namjah dengan rambut dicat kuning keemasan muncul dari balik pintu. Shin Hye tersenyum padanya “apa Lee Hongki ada didalam?” tanyanya.

Namjah yang ia pernah kenal sebelumnya tapi belum tahu namanya itu membalas tersenyum ramah padanya, ia membuka pintunya lebar-lebar hingga bisa terlihat isi apartmen itu dari luar “Ah…ternyata Shin Hye nuna, silahkan masuk dulu, Hyeong ada didalam” namjah itu mempersilahkannya masuk. “Oh ya kita belum pernah berkenalan sebelumnya, ehm namaku Jaejin dan posisiku sebagai pemain bass diband ini, senang berkenalan dengan nuna” namjah bernama Jaejin itu mengajaknya untuk berjabat tangan, tentu saja dengan senang hati Shin Hye menerima tangannya dan tersenyum padanya.

“Hongki hyeong pacarmu sudah datang, ayo keluar” Jaejin berteriak didepan pintu kamar Hongki.

“Hya Jaejin-ssi..kami tidak berpacaran, kami hanya rekan kerja” ucap Shin Hye.

“panggil aku dengan Jinni saja tidak perlu tambahkan “ssi”, nuna…aku kan Cuma bercanda tapi, lagipula kalian terlihat sangat cocok, sungguh” ungkap Jaejin dengan senyumnya yang manis.

Shin Hye hanya bisa tertunduk dan memilih diam daripada melanjutkan pembicaraan yang semakin membuatnya gugup tersebut. Shin Hye mendongak dan ternyata Hongki sudah ada didepannya dengan senyum khasnya, “oh kau sudah siap?” ujarnya. “ya…kau terlambat 15 menit Ssinz-ah” gerutunya sambil melirik jam tangannya.

Shin Hye melirik sekilas kearah Jaejin yang masih berada diantara mereka berdua. Dari matanya terlihat jelas seperti sedang berpikir layaknya seorang ilmuwan yang sedang membuktikan penelitiannya. “maaf, aku tadi kekampus sebentar untuk melaporkan tugasku, memangnya kita mau kemana?” tanyanya pelan.

“tentu saja Hongki hyeong mengajak nuna kencan, ya kan hyeong?” canda Jaejin.

“jangan sembarangan bicara Jinnie-ah… oh ya bilang ke Yoonho hyeong kalau aku Cuma keluar untuk makan siang sebentar, oke?”

“baiklah, tenang saja, semoga kencan kalian romantis” ucap Jaejin yang kemudian berlalu meninggalkan mereka berdua.

“aku mau ajak kau makan siang lalu kita jalan-jalan sebentar ya?” pinta Hongki.

Shin Hye hanya bisa menyetujui permintaan namjah itu karena ia hanya asisten namjah itu. Dan selama perjalanan dimobil Hongki sibuk memainkan ponselnya entah apa yang sedang dimainkannya.

“Ssinz-ah…” panggil Hongki secara tiba-tiba membuat jantung Shin Hye nyaris melompat keluar.

“ya?”

“apa alasanmu menjadi asistenku hanya karena uang? Atau ada alasan lain?” tanya Hongki.

Shin Hye terkejut mendengar pertanyaan yang tiba-tiba seperti itu, ia menarik napas panjang sebelum menjawabnya, “tidak” jawabnya singkat.

“jadi ada alasan lain selain itu? apa?” tanyanya dengan posisi duduknya berubah menyamping kearah Shin Hye yang sedang fokus menyetir.

“Paris! Itu saja” Shin Hye sebenarnya ingin mengatakan bahwa alasannya adalah karena ia betah didekat namjah ini tapi, ia mengurungkan niatnya. Shin Hye melirik ekspresi wajah namjah itu, dan wajahnya tampak sedikit kecewa, ia jadi merasa tidak enak, “ah ada satu lagi” Shin Hye mencoba menghangatkan suasana kembali.

“APA?” tanya nya dengan sangat antusias.

“Mir… dengan bekerja bersamamu yang profesinya sama dengan Mir oppa jadi aku lebih mudah untuk bertemu dengannya suatu saat nanti” candanya.

Wajah namjah itu ternyata tambah bertekuk tidak karuan dan meringis menatap Shin Hye, “Mir oppa” Hongki meniru cara Shin Hye memanggil Mir. “apa kau benar-benar ingin bertemu dengannya?”

“sungguh itulah obsesiku datang ke Korea, karena aku penggemarnya. Dan dia juga lah yang memotivasiku untuk datang ke Paris” ucap Shin Hye dengan semangat.

“memotivasimu?”

“iya, aku pernah bermimpi sedang berada tepat dibawah menara Eiffel, sendirian ditengah gemerlapnya kota Paris lalu aku bertemu seorang pria mirip dengan Mir dan kami menghabiskan malam sabtu bersama dibawah suasana romantic menara Eiffel”

“mirip? Berarti itu bisa jadi orang lain belum tentu itu Mir” umpat Hongki. “lagipula kenapa kau dimimpimu segampang itu berdekatan dengan pria yang belum dikenal?” tanyanya.

“apa maksudmu? Yang jelas saat aku nonton TV chanel Korea aku terkejut orang yang mirip dengan dimimpiku itu ada di TV dan aku langsung mencari tahu tentang dia” jelas Shin Hye. “Oh ya kita sudah sampai” ungkapnya.

Hongki langsung keluar dari mobil, kali ini dandanannya agak sedikit berani. Shin Hye cemas semua orang akan mengenalinya dan menyerbu mereka berdua. Shin Hye berjalan cepat menyusul langkah Hongki yang cepat dan berjalan disampingnya, ia heran kenapa namjah itu mengajaknya ke pasar yang seramai ini. Ia melirik wajah namjah itu yang pandangannya sangat lurus dan raut wajahnya juga serius. “ayo masuk” tiba-tiba Hongki meraih tangan Shin Hye dan masuk kedalam sebuah kafe yang terbuka diluar ruangan.

“kenapa kau memilih tempat ini? Hya kau bisa dikenali orang, biasanya kau pakai kacamata dan topi” gerutu Shin Hye. Suasana kafe itu lumayan ramai pengunjung dan ada beberapa pengunjung seperti sedang berbisik-bisik memandang mereka, ia jadi semakin cemas. “aku jadi tidak tenang” gumamnya.

“kenapa? Kau sakit ya?” tanyanya.

“ah tidak, kita cari tempat makan lain saja. Disini terlalu ramai dan aku mencemaskanmu” bisiknya dengan mencondongkan tubuhnya ke Hongki.

Hongki tidak menghiraukan ucapan Shin Hye dan malah memberi kode kepada salah seorang pelayan. Ia menatap wajah Shin Hye cukup lama dan membuatnya sedikit risih, ia tertawa menatap wajah yeojah itu, “Hya Park Shin Hye… tidak perlu cemas, karena aku akan selalu melindungimu dan siap membantumu kapan pun” ungkapnya.

Shin Hye terpaku menatap namjah itu, ia menjadi semakin tidak karuan dan sekarang degub jantungnya semakin kuat. Apa yang membuat Hongki begitu baik padanya padahal kalau mengingat pertemuan pertama mereka begitu jauh dari kata menyenangkan. Shin Hye benar-benar takut kalau ia menyukai Hongki, karena begitu mustahil seorang artis terkenal menyukai yeojah payah seperti dirinya. Ia memutuskan menghilangkan perasaanya itu daripada ia akan menangis pada akhirnya.

Tiba-tiba datang beberapa pelayan membawakan begitu banyak makanan yang tampaknya sangat lezat. Ia bingung kapan mereka memesan makanan ini dan ia mendongak menatap Hongki yang tampaknya tenang-tenang saja. “kapan kau pesan semua ini?”

“aku tidak pernah memesan dikafe ini, karena mereka sudah hapal  makanan kesukaanku ini, kau harus mencoba yang ini” Hongki menjumput sepotong daging ayam yang sudah dipotong dadu yang ditumis dengan beberapa macam sayuran, lalu menyodorkannya pada Shin Hye.

Shin Hye tidak enak kalau menolak suapan namjah itu tapi ini sangat berlebihan. Ia mendekatkan mulutnya kesumpit Hongki dan menerima makanan itu. Benar sekali, makanan ini sungguh enak “ini enak sekali, sungguh” ungkapnya dengan mulut terus mengunyah. Ia terkejut tiba-tiba Hongki mendekatkan wajahnya padanya, wajah mereka hanya berjarak kurang dari lima senti. Shin hye hanya mengerjapkan mata beberapa kali. Tangan namjah itu mengusap sudut sebelah kanan bibir Shin Hye dengan lembut.

***

Hongki senang karena Shin Hye menyukai makanan yang juga menjadi kesukaannya, entah kenapa ia juga merasa senang kalau melihat yeojah itu tersenyum bahagia. Matanya terpaku pada bibir yeojah itu dan melihat ada seberkas saus disudut bibirnya. Ia mendekatkan wajahnya ke yeojah itu sangat dekat dan dengan lembut menghapus noda saus itu. Ia memandang bibir Shin Hye cukup lama, “Hya Hongkia, saatnya belum tepat” bisiknya dalam hati. Ia benar-benar mengagumi kecantikan Shin Hye terutama mata gadis itu. Tiba-tiba ponselnya berdering keras, ia langsung menjauhi wajahnya dari wajah Shin Hye dan kembali duduk ke kursinya.

“ya Hyeong, maaf aku keluar sebentar untuk makan siang,iya sebentar lagi aku pulang, bye” tutupnya. Ia melihat Shin Hye sedang memandangnya dengan penuh tanya. “tadi manajerku yang telpon, malam ini kami ada jadwal live di TV, Oh ya ada MBLAQ juga, kau mau ikut?” tawarnya.

Shin Hye menggigit bibir bawahnya dan mencoba berpikir terlebih dahulu, “maaf aku tidak bisa” ungkapnya. “aku harus meneruskan pekerjaanku malam ini, bukankah lebih cepat lebih baik” ucapnya sambil melempar senyum padanya.

“kau yakin? Mir ada disana loh, aku bisa membawamu bertemu langsung dengannya” Hongki mengangkat sebelah alisnya.
shin Hye bingung seharusnya ia menerima dengan senang hati ajakan namjah ini. Sudah lama ia ingin bertemu dengan Mir dan itu juga tujuannya selama ini tapi, kali ini hati kecilnya menolak untuk menerima ajakannya. “sepertinya lain kali saja, bukankah masih ada banyak waktu?” jawabnya dengan yakin lalu tersenyum kaku. Ia melihat namjah itu hanya mengangkat bahunya dan wajahnya seperti menerima alasan tersebut.

Mereka menghabiskan makan siang dengan penuh kecanggungan, entah perasaan apa yang menghampiri mereka berdua? Cinta? Mungkin saja. Perbedaan situasi yang jauh dari biasanya dirasakan mereka berdua terutama Hongki yang sudah mengakui dia jatuh cinta pada Shin Hye dan berusaha menunjukan sedikit demi sedikit perasaannya itu melalui perlakuannya pada yeojah itu.

to be continue….

“please your appreciate^^”

see —-> Part 1-2

One response

  1. Ping-balik: [HongYe's Fanfic] “Bonjour! Madame Croissant” (Pt.5-6) | Five Treasures Boys Stay in Absolute Island (Indonesia)

Your appreciation please....

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s