FTISLAND & MBLAQ I News Update I Twitter Update I Pictures Update

[HongYe’s Fanfic] “Bonjour! Madame Croissant” (Pt.1-2)

Part.1

When I first saw you, I saw love.
And the first time you touched me, I felt love.
And after all this time, you're still the one I love (Shania Twain - U're still The One) .

“Please leave your comment and I recommanded you to hear a song by “Shania Twain – You’re still The One” because thic story insprired by this song. Thanks for read and see the next chapter^^”

“Hah berisik!!!!” Shinhye melempar apapun yang ada didekatnya dan menimbulkan bunyi yang cukup keras, itu jam wakernya yang membentur pintu kamarnya “aku mau tidur pak Polisi!!” Ia membenamkan kepalanya kedalam bantal sambil menarik selimut lebih tinggi lagi karena udara pagi ini begitu menusuk.

Sepertinya sudah tidak bisa ditolerir lagi, Dia pun bangun dan duduk diranjang yang bersprei putih itu, sambil mengucek mata dan merasakan kepalanya sangat berat seperti dibebani semangka yang besar, “ini pasti karena semalam aku mabuk, dasar lelaki sialan, gara-gara dia aku jadi seperti orang gila seperti ini” ia menggerutu sambil membayangi wajah lelaki yang sudah memutusi hubungan dengannya semalam, setelah satu bulan mereka pacaran.

Tiba-tiba terdengar alunan lagu dari T-ara “Why Are You Being Like This?” mengagetkannya yang sedang tertunduk lemas, ia meraih ponselnya yang terletak disaku jaketnya yang tergantung disandaran ranjangnya. Ia mengangkat telpon itu “yeobseo… ia bos, apa? Tit…..” tiba-tiba telponnya terputus, ia mengutuk dirinya sendiri yang semalam tidak sempat untuk mencharge ponselnya saking sibuknya ia menangis meraung di apartmen kecil ini.

Ia bergegas berlari kekamar mandi dengan satu langkah panjang seperti sedang dikejar hantu.

“Ssinz!!! Kau lagi-lagi…ih!!!!” ia tidak sengaja membuat temannya Eunjung kaget dan menumpahkan susu kepakaian gadis itu. “maaf Eunjungah…aku terlambat lagi!!!” teriaknya dari kamar mandi, Eunjung hanya bisa menggertakan giginya dengan geram, “selalu!!” gerutunya panjang.

***

“yeoboseo… uhm, bisa antar satu lusin donat dan 5 kopi latte ke apartmenku? Baiklah… aku tunggu 30 menit sudah harus sampai, baiklah..” Hongki menutup telponnya, ia menatap Jaejin yang menatapnya juga dengan ekspresi heran. “kenapa? Apa penampilanku aneh hari ini?” ia berdiri menghadap Jaejin yang masih duduk disofa sambil melipat tangan.

“tidak, yang aneh malah sikapmu hyung, tumben sekali kau mau sarapan pagi dengan donat, biasanya juga kau makan angin” ejek Jaejin sambil tersenyum nakal.

“hya Jaejinah… apa maksudmu? Makan angin, aku bukannya makan angin tapi aku kemarin sedang berlatih yoga, karena aku ingin diet, kau mana tahu soal yoga, kau tahunya Cuma buku dan game saja” ia menatap tajam Jaejin yang malah mengangkat bahu tidak peduli.

“yoga? Kok malah seperti ibu-ibu yang sedang berlatih melahirkan ya?” candanya sambil berlalu masuk kekamarnya.

“hya kau!” teriaknya.

“Hongki, kau ini bisa tidak untuk tidak berteriak satu hari saja, suaramu itu polusi tahu” Jonghun keluar dari kamarnya sambil membawa gitar dan duduk disamping Hongki yang cemberut karena ulah dongsaengnya, Jaejin.

“kau sudah sarapan?” tanya Hongki pada Jonghun yang sedang asyik memetik-metik senar gitarnya. Lelaki itu hanya menggelengkan kepalanya.  “aku tadi sudah pesan donat satu lusin dan kopi pahit panas, hah…akhirnya malam ini aku bisa bertemu dengan sayang-sayangku” gumamnya panjang sambil menyandarkan kepalanya disofa.

Jonghun serentak menurunkan gitarnya dan menatap Hongki heran, “siapa? Pacarmu? Pacar baru ya?” tanyanya.

“dasar babo!!! Tentu saja sayangku itu adalah penggemar-penggemaku, pacar darimana? Keluar untuk jalan sendirian saja tidak punya waktu bagaimana mau mendekati seorang gadis” ia geram mendengar pertanyaan bodoh Jonghun.

“aku kan tidak tahu SKULLHONG! Lagipula kau itu dekat dengan siapa pun, wajar saja kalau aku bertanya” jelasnya didepan wajah Hongki, membuat Hongki menjauhkan wajahnya.

“Jonghunah…kau tidak perlu menjelaskan sebegitunya, kau ini seperti menganggapku benar-benar orang babo” gerutu Hongki sambil berdiri dan berjalan masuk kekamarnya. Jonghun hanya tertawa melihat sahabatnya itu.

Hongki membuka tas koper berwarna hijau lime nya yang masih terduduk rapi disamping tempat tidurnya, mereka baru tiba di Korea kemarin sore dan mereka juga belum sempat mengeluarkan barang-barang mereka yang dibawa dari Jepang. Ia mengeluarkan sebuah kotak berwarna hitam, dan membukanya, dan isinya adalah sebuah jas tanpa lengan berwarna merah tua dengan ornamen tengkorak yang sedang tersenyum yang tersusun dari payet mengkilap pada bagian belakangnya. Ia mengeluarkannya dan berlari menuju cermin sambil mengenakannya “Hongkia..kau memang benar-benar tampan, baju ini benar-benar bagus” ia melepaskan kembali dan memeluk pakaiannya lalu berjalan keluar.

“Jonghunah…bagaimana menurutmu” ia melayang-layangkan jasnya di hadapan Jonghun.

Jonghun mendongak sekilas dan menunduk lagi kegitarnya, “biasa saja, kenapa? Kau mau memakainya untuk bertemu sayangmu?” lalu bertanya tanpa menatap Hongki sedikit pun.

“kau bilang biasa saja! Hei…. ini desainku sendiri, kau lihat betapa kreatifnya aku bisa membuat jas seindah ini” ujarnya sambil memeluk bangga jasnya itu. Ia memakai kembali jasnya dan berjalan melenggak-lenggok dihadapan Jonghun, tapi lelaki itu malah mengacuhkannya dengan sibuk membersihkan gagang gitarnya.

“hyung kau kenapa? Apa kau masih jetlag setelah penerbangan kemarin“ ucap Seunghyun yang juga menatapnya heran dengan ekspresi yang berlebihan.

“Aish!!! bagaimana menurutmu? Keren bukan?” tanyanya sambil bergaya menaruh tangan dipinggang.

“biasa saja” jawab Seunghyun datar sambil berlalu mendekati Jonghun dan duduk disamping lelaki itu. “ahhh lapar… apa tidak ada makanan?” gumam Seunghyun dengan nada malas.

“iya ya, kenapa donatnya belum sampai? Ini sudah lebih dari tiga puluh menit” Hongki mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan menghubungi toko donat itu lagi “hya mana donatnya? Ini sudah hampir satu jam, kau mau pelangganmu ini mati kelaparan duluan karena menunggu kurirmu mengantarkan donatnya” teriaknya.

“kau berlebihan Hong..” sela Jonghun.

Hongki menatapnya tajam, mengisyaratkan “kau diam saja”.  “baiklah, kutunggu sepuluh menit lagi, kalau lebih dari itu aku tidak mau bayar!” gertaknya sambil menutup flap ponselnya dengan keras. “keburu pingsan kalau seperti ini” kutuknya.

Tiba-tiba terdengar suara bel berdering keras, dengan langkah cepat Hongki berjalan menuju pintu depan dengan mulutnya siap memarahi kurir donat itu.

***

Shinhye memencet bel ruang apartment itu berkali-kali. “iya tunggu sebentar” teriak penunggu ruangan itu dari dalam membuat jantung Shinhye rasanya ingin lepas. Tiba-tiba tangannya gemetar, ini kesalahannya yang datang terlambat ke café dan akhirnya ia terpaksa harus mengantar donat dan kopi ini yang sebenarnya bukan tugasnya, sebagai hukuman dari bosnya. Tiba-tiba pintu terbuka dengan ayunan cepat dan berdiri seorang namjah berwajah tampan yang mengenakan jas tanpa lengan berwarna merah dengan dalaman kaus berwarna abu-abu gelap, benar-benar tampan umpatnya dalam hati.

“silahkan masuk” namjah itu memberinya jalan untuk masuk dan menutup pintu, namjah itu berjalan mendahuluinya, apartmentnya luas dan sangat rapi, ia terus menatap berkeliling apartment mewah itu, beda sekali dengan apartmentku, ucapnya dalam hati.

Tiba-tiba Shinhye merasakan kakinya menginjak sesuatu yang lembek dan sedikit licin yang kemudian  membuatnya tergelincir jatuh dengan hebat. “OMO…Brukk!”

“Aw!!!!!! Bwoe???” terdengar teriakan namjah itu keras.

Shinhye merasakan bokongnya menghantam lantai dengan sangat keras dan  ia terkejut saat segerombolan namjah datang menghampiri mereka dengan ekspresi kaget. Ia menatap namjah tampan tadi terpaku dihadapannya sambil tertunduk menatap lantai ,jas merahnya basah berlumuran kopi dan wajahnya dipenuhi dengan krim donat yang menempel disekujur tubuhnya.

“Hyung kwenchana?” tanya salah satu namjah berkacamata dengan rambut dicat kuning dengan di kuncir kebelakang.

“Hongkia… bukankah kau akan memakai jas ini nanti malam, aigu…sekarang kau benar-benar tampak lezat seperti donat Hong, aku jadi lapar” canda salah satu namjah berhidung mancung dan bermata sendu itu.

“Kau benar-benar keterlaluan!!! Aku sudah mentolerirmu karena terlambat mengantarkan pesananku, dan sekarang kau malah membuatku menjadi seperti donat!!!!! Kau tahu jas ini sangat berharga bagiku dan ini akan kupakai nanti malam” teriak namjah itu keras dihadapan kurir donat itu membuat keempat temannya serempak menutup telinga.

“maaf… aku benar-benar minta maaf, aku akan mencucinya” Shinhye mendekati namjah itu sambil membersihkan krim donat yang menempel diwajah dan rambut namjah itu.

“lepaskan! Hya memangnya kau memakai sepatu roda ya? sampai tergelincir seperti itu, atau jangan-jangan kau memang tidak biasa berjalan dilantai seperti ini!” lelaki itu memelototi matanya dan tampak jelas kemarahan lelaki itu walaupun Shinhye masih mengenakan helmnya yang tertutup.

“Hya apa kau tadi menginjak ini?” lelaki berhidung mancung,  menunjuk sebuah kotoran berwarna kuning yang terpenyet gara-gara pijakan kakinya, ia hanya bisa mengangguk. “Hya Hongkia…ini salahmu sendiri, ini namanya senjata makan tuan! Ini kulit pisang yang semalam kau makan, sudah kubilang buang sampah itu ditong sampah BABO!” lelaki itu berjalan mendekati Shinhye. “ini bukan salahmu, ini salahnya sendiri” ucapnya.

Shinhye membuka helmnya dan menatap wajah namjah yang belepotan itu. “maaf, aku benar-benar minta maaf. Kalau kau tidak keberatan aku akan mencucinya, aku minta maaf atas kecerobohanku” ucapnya dengan wajah tidak enak dan membungkuk beberapa kali. Lelaki itu hanya terdiam dan matanya menatap wajah ShinHye lama.

“ini!” ia menyerahkan jasnya sambil memalingkan matanya “Aku tidak mau tahu hari ini sudah harus kering, ini mau kupakai nanti malam, Oh ya apa kau tidak kenal aku?” tanya namjah itu sambil menunjuk wajahnya yang belepotan itu mendekatkan wajahnya kewajah Shinhye. Shinhye hanya bisa menggelengkan kepala, dia baru sekali ini melihat wajah namjah itu.

“Mwo? Kau tidak mengenalku, kalau mereka berempat?” namjah belepotan bernama Hongki itu menunjuk keempat temannya, keempat namjah itu mengangguk-angguk juga.

Shinhye tetap tidak mengenalnya, ini pertama kalinya ia bertemu orang lima ini. Mungkin mereka yang pernah melihatnya sebelumnya, pikirnya. “aku benar-benar tidak tahu, maaf jasmu kubawa pulang dulu ya, em nanti sore aku antarkan lagi” Shinhye merasa hanya dirinya sendiri yang normal diruangan ini dan dia harus segera kabur dari ruangan ini, sebelum bosnya mencetuskan kutukannya ditelpon.

“keterlaluan, sudah berapa lama sih kau tinggal di Korea, masa tidak mengenal kami” gerutu namjah bertubuh tinggi jangkung dengan senyum lebar yang manis.

“aku pergi dulu, nanti sore pakaianmu akan kuantarkan, sekali lagi aku minta maaf atas kekacauan ini” Shinhye membungkukan badan berapa kali. Ia menatap mata Hongki yang sekelilingnya ditutupi oleh krim donat “maaf Hongki-shi” ucapnya.

Hongki hanya mengangguk singkat sambil menatap Shinhye “Oh ya ada nomor yang bisa kuhubungi? Kalau-kalau kau tidak mengantarnya nanti sore” liriknya sambil mengangkat sebelah alisnya. Shinhye merobek secarik kertas dari notebook kecil yang terdapat disaku jaketnya dan menuliskan nomor terlponnya “ini” Ia langsung berlalu meninggalkan ruangan itu dengan langkah cepat.

Ia terus berjalan keluar apartment mewah itu dengan cepat dan menggumamkan serentetan kata-kata marah dalam bahasa Thailand, tiba-tiba ponselnya kembali berdering dengan cepat ia masuk kedalam lift dan melihat layar ponselnya, “ya Eunjung ada apa? Oh tentu saja jadi, sebentar lagi aku pulang, baiklah aku tutup duluan”.

***

“kau sedang apa Ssinz?” tanya Eunjung dari balik punggungnya.

“ah ini, aku tidak sengaja menumpahkan kopi di jas pelanggan kami, wajahnya tampan loh tapi mulutnya, aigu…benar-benar seperti seorang ahjumah, dan gara-gara dia juga aku dipecat Eunjung” rengeknya sambil membanting-banting cuciannya.

“wah kalau aku sih mau melakukannya sepenuh hati kalau orangnya tampan, benarkah? Bos mu ini sungguh keterlaluan! Untung saja kau cepat keluar dari sana, aku sering prihatin melihat kau dimarahinya, Oh ya kau bawa atribut apa untuk nanti malam? Ini pertama kalinya kau nonton konser musik di Korea bukan? Tidak perlu kau pikirkan, kau bisa cari pekerja lain” Ucapnya sambil menepuk bahu Shinhye.

“lagipula ibumu mengirimmu ke Korea kan untuk kuliah bukan untuk jadi kurir seperti ini, kalau ibumu tahu dia bisa terkena serangan jantung olehmu, Uang jajanmu kan sudah cukup untuk ngebiayai kuliah dan kontrakan kita. Kau focus saja pada kuliahmu! Masuk universitas negri itu sangat sulit dan kita ini termasuk orang yang beruntung bisa mendapatkannya” ucap Eunjung dengan nada bijak.

Shinhye mendongak menatap temannya yang berambut hitam seleher itu dan berpikir sejenak “aku punya kipas dengan gambar wajah Mir oppa dan juga bertuliskan hangul namanya, kau tahu aku suka sekali sama Mir dan juga MBLAQ, aku juga punya lightstick. Kau jangan cemas, sewaktu aku di Thailand aku sudah pernah nonton konser mereka jadi atributnya masih tersimpan, aku jadi tidak sabar Eunjung” ucapnya bangga tanpa memperdulikan ucapan Eunjung sebelumnya.

Eunjung terduduk lemas melihat temannya ini. Ia memang tinggal bersamanya baru satu bulan lebih tapi mereka sudah saling kenal sebelumnya lewat jejaring sosial, mereka bisa saling kenal karena mereka berdua merupakan penggemar MBLAQ dan obrolan mereka sangat nyambung kalau sudah ngebahas artis idola mereka. Ia terkejut ketika mendengar Shinhye akan kuliah disini, ternyata Kuliah di Korea memang cita-cita Shinhye, ia ingin setelah lulus nanti bisa bekerja disini dan menikah dengan Idolanya, Mir, walaupun itu Cuma khayalannya.

“Oh ya sepertinya sudah bersih, Eunjungah bagaimana caranya ini bisa cepat kering?” tanyanya dengan wajah pasrah.

“sini, biar ku anginkan saja di Kipas Angin kamarku, kau bersiap-siap saja dan berdandanlah secantik mungkin, kau kan mau ketemu biasmu” Eunjung menyikut sikunya sambil tertawa nakal. “araso” gumam Shin Hye panjang.

###

“Hya Ssinz.., kau dimana?” teriak Hongki ketika telponnya diangkat, sudah dari sejam yang lalu ia tidak bisa duduk tenang. Ia tahu nama kurir itu dari tulisan nomor telpon yang ditulis gadis itu sendiri. Ia sempat tidak yakin kalau gadis itu orang Korea.

“aku sedang dijalan, sebentar lagi aku sampai. Aku matikan ya” jawab Shinhye singkat. Hongki memasukan ponselnya kesaku celananya. Ia juga  sudah berdandan dengan rapi.

“bagaimana?” tanya Minhwan dengan mulut penuh dengan ayam goreng.

“dia sedang dijalan, aku masih heran yeojah secantik itu kenapa bisa jadi kurir ya? Kenapa tidak jadi artis saja”.

“MWO?” tanya keempat member yang lain serempak dengan wajah penuh heran.

“ah tidak, aku hanya ngawur” cetusnya dengan wajah angkuh, tiba-tiba terdengar bunyi bel berdering keras. Hongki berjalan dengan semangat menuju pintu depan disusul oleh keempat temannya.

“Akhirnya kau datang ju-..” Hongki tiba-tiba terdiam menatap gadis yang ada dihadapannya, disamping gadis itu berdiri gadis lain, yang sepertinya adalah temannya.

“ini” Shin Hye menyodorkan jas warna merah itu didepan dada Hongki.

Hongki masih diam saja, ia menatap Shin Hye dari atas sampai bawah tanpa berkedip sedikit pun. Gadis itu mengenakan dress berbahan kaus berwarna ungu selutut dengan dilapisi jaket kulit berwarna hitam, sepatu boot tinggi yang cantik, tas besar berwarna hitam senada dengan bootnya dan rambutnya yang ikal kecoklatan tergerai lemas dibahunya . “apa kau kurir yang tadi?” tanyanya  dengan ekspresi tidak percaya tanpa memalingkan pandangannya sedikit pun pada gadis itu.

“Apa Kau demam karena tersiram kopi tadi?, ini ambil jas mu, aku masih ada kerjaan lain setelah ini!” gerutu Shinhye didepan Hongki sambil mengerutkan dahinya.

“Ssinz na..” Eunjung menyikut siku Shinhye.

“kenapa?” ia melirik sahabatnya, mata Eunjung terpaku menatap orang-orang didepannya ini dengan mulut terbuka. “kau ini kenapa Eunjung?kau Kesambet ya?” tanya nya sambil melayangkan tangannya didepan wajah temannya.

Hongki meraih jas nya “hei kau yang salah kenapa kau juga yang harus marah-marah” teriak Hongki dengan ekspresi kesal.

“Ssinz-sii tak seharusnya kau bicara seperti itu, temanku ini sudah terkena musibah karenamu dan sekarang kau malah marah-marah padanya” sela Jonghun sambil merangkul Hongki.

“kau diam saja Jonghun, ini urusanku, benar-benar keterlaluan, sudah tidak mengenaliku, menyiramkan kopi keseluruh tubuhku dan membuat wajahku benar-benar mirip  dengan donat, tapi kau malah..” belum selesai Hongki berceloteh.

“Hei kalau bukan karena kulit pisangmu, aku tidak akan terpeleset dan pinggangku tidak akan sakit seperti ini, aku seperti orang bodoh mencucikan pakaianmu lalu mengantarkannya lagi kemari. Seharusnya kau yang minta maaf padaku, untung saja aku masih mau bertanggung jawab dan aku memang belum pernah melihatmu sebelumnya jadi…ah.. Sudahlah lupakan saja, sekali lagi aku minta maaf, Eunjung ayo kita pergi nanti kita terlambat” Shinhye mengoceh tanpa memberi Hongki kesempatan untuk menyelah, menarik tangan temannya yang bernama Eunjung itu berjalan cepat meninggalkan mereka.

Akhirnya mereka tiba di Jamsil Gymnasium dengan menggunakan taksi, sepanjang perjalanan Shinhye sibuk mengutuk namjah bernama Hongki dan keempat temannya. Membuat Eunjung terpaksa menyumpal telinga dengan headphone karena tidak tahan mendengar ocehan sahabatnya itu.

“Eunjungah disini ya tempatnya? Hua ramai sekali, biasanya aku Cuma bisa melihat suasana seperti ini lewat  DVD tapi sekarang aku bisa merasakannya sendiri” ungkapnya sambil membentangkan tangannya dan menatap takjub.

“kau berlebihan sekali Ssinz, ayo kita masuk pintunya sudah dibuka, cepat” Eunjung menarik tangan Ssinz.

“kita duduk dibagian depan kan?” bisiknya disela-sela himpitan orang yang masuk.

“iya, kau tenang saja” Eunjung menuntun tangan temannya itu. Shinhye heran melihat orang yang kebanyakan membawa poster dengan nama grup FTISLAND. “Disini, ayo duduk” Mereka berdua menempati kursi paling depan dan jaraknya sangat dekat dengan panggung.

“wah aku bisa melihat Mir-ku dengan sangat jelas dari sini, Oh ya kenapa ada orang yang membawa poster yang berbeda, ada FTIsland, memangnya ada artis lain ya selain MBLAQ?” Tanya nya dengan menyapu pandangannya.

“tentu saja Ssinz, kau akan terkejut melihat mereka” jawab Eunjung dengan ekspresi yakin.

“Oh OMO..Ssinz itu mereka. Joonie OPPA!!!” Eunjung tiba-tiba histeris, Shinhye belum sempat melihat artisnya karena tiba-tiba lampunya dimatikan.

“MBLAQ ya?” tanya nya pada Eunjung yang sudah jingkrak-jingkrak kayak cacing kepanasan.

“IYA!!!! Mereka tampan sekali Ssinz jhinja!!!” histerisnya. Shinhye ikut histeris mendengar ucapan sahabatnya dan ikut berdiri dan menjeritkan nama Mir dengan histeris.

“Hya kau berlebihan sekali! Berisik tahu!” sindir penonton yang ada disampingnya dengan wajah angkuh. Shinhye sontak memanas dan rasanya ia ingin menonjok orang itu.

“whae? Mereka saja tidak marah kenapa kau harus kesal?” jawabnya dengan nada tinggi, konsentrasinya pun teralih pada orang yang ada disampingnya itu dan moodnya berubah menjadi buruk mendengarnya.

“Kau ini dasar kampungan, kau baru pertama kali ya nonton konser? Oh biasmu Mir oppa, kasihan sekali Oppa punya penggemar aneh sepertimu!” desis gadis itu tajam.

“MWO? Hya…apa aku minta uang padamu untuk nonton konser ini? Memangnya kenapa kalau aku penggemarnya, apa Mir jadi terserang virus mematikan karena punya penggemar sepertiku? Apa dia jadi dijauhi orang-orang? Kurasa tidak, jadi lebih baik kau simpan mulutmu sebelum tanganku mampir kemulutmu!” bentak Shinhye membuat orang-orang disekitarnya bertanya-tanya.

“Ssinz kau kenapa? Kenapa kau ribut sekali? Kau lihat MBLAQ dan Mir-mu sudah tidak ada lagi dipanggung dan kau belum sempat melihat mereka bukan?” Eunjung menarik tangan Shinhye dan mendorongnya untuk duduk.

“benarkah? Sialan! Aku kesini kan untuk melihat mereka, tapi gara-gara perempuan ini aku jadi kelewatan deh! Ayo kita pulang, moodku buruk sekarang” Shinhye menarik tangan Eunjung.

“Eh tunggu dulu!! aku masih mau melihat penampilan yang lain, aku mau lihat FTIsland, aku yakin kau pasti terkejut melihat mereka” godanya dengan senyum lebar. Lampu panggung pun kembali dimatikan, dan Shinhye sudah merasa sangat bosan dengan keadaan diruangan ini. Ia mengambil topi kupluknya dan menaikan syalnya hingga menutupi sebagian wajahnya dan nyaris matanya saja yang terlihat karena udara diruangan ini cukup untuk membuatnya menggigil.

“Oh ternyata Band” ia melirik gadis yang disampingnya tadi berjingkrak-jingkrak waktu lampu panggung dinyalakan dan intro gitar masuk “kau juga berlebihan tahu” pekiknya, tapi gadis itu sepertinya tidak mendengarnya, ia mendongak menatap Eunjung yang juga berdiri sambil mengibarkan bendera berwarna kuning dan lightstick kuning juga. Ia melihat ke depan ingin lihat seperti apa band FTIsland ini.

“OMO!!! D..dia kan “si belepotan” dan itu “si mancung”? mana mungkin!” jeritnya dalam hati,  Ia memejamkan matanya mencoba memulihkan pandangannya. “benar itu Hongki, dia juga memakai jas yang tadi siang aku cuci, keterlaluan kau Eunjung tidak memberitahuku sejak awal!”

“Hya Eunjung kenapa kau tidak bilang padaku kalau Hongki itu artis? Kau benar-benar!!!” bisiknya saat Eunjung duduk kembali kekursinya. Semua orang tampak menikmati lagu yang dilantunkan oleh band ini, dan Shinhye juga sedikit menikmati suara vokal Hongki yang serak basah berbaur dengan melodi gitar dari Si Mancung, ia belum tahu nama lelaki itu.

“kalau aku kasih tahu kau pasti tidak mau ikut. Ssinzn na…sebenarnya aku tadi mau cerita tapi melihat kau sangat kesal aku mengurungkan niatku, kau nikmati saja. Ah Jonghun oppa” desahnya dengan mata berkaca-kaca penuh kekaguman.

“aku pinjam ini” Ssinz menarik bendera berwarna kuning itu dan menutupi wajahnya. “hey kira-kira dia mengenaliku tidak ya?” bisiknya pada Eunjung.

“tidak mungkin, tapi kurasa setelah pulang nanti kau akan merengek padaku dan menjadi penggemar mereka” ucapnya tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun.

Shinhye memandangi wajah Hongki tanpa henti, seandainya ia tidak menumpahkan kopi itu dan tidak membuat lelaki ini marah mungkin mereka tidak saling kesal dan seperti ucapan temannya ia mungkin bisa jadi penggemarnya karena Shinhye benar-benar merasa terhibur dengan penampilan band ini walaupun, boyband impiannya sudah terlewatkan tadi. “Hongki ssi…wajar kau bertanya padaku apa aku mengenalmu, aku memang ketinggalan jaman” gerutunya pada diri sendiri.

Minhwan menutup penampilan mereka dengan demo drum yang memukau, semua orang di aula menjadi histeris. Jonghun sebagai ketua digrup band itu mengumpulkan para anggotanya untuk ketengah-tengah panggung. “Annyeonghaseo FTISLAND-ibnida”. Kelima namjah tampan itu memancarkan senyum terbaik mereka ke semua mata yang ada dihadapan mereka.

“Primadonna senang bisa bertemu kalian lagi, hampir satu bulan kami melakukan kegiatan di Jepang dan sungguh kami merindukan kalian, apa kalian juga begitu?” Sapa Jonghun membuat suasana di aula semakin histeris.

“Ah…sayangku.. apa kabar kalian semua?” Jerit sang vokalis, Hongki, membuat suasana ruangan semakin memanas.

“hya Hyung kau benar-benar playboy” sela sang pengebuk drum, Minhwan.

“anieo…aku yakin salah satu dari mereka nantinya akan menjadi pacarku” candanya dengan yakin “tapi sebelumnya aku mau berterima kasih kepada kalian yang masih setia menunggu kami disini, sungguh untuk comeback ini kami benar-benar mempersiapkannya dengan baik dan kuharap kalian bisa melihat kerja keras kami itu dan jangan lupa membeli CD original kami ya, Oh kami juga menyiapkan kejutan untuk kalian, Jonghun ssi silahkan”Hongki mempersilahkan Jonghun untuk memberikan petunjuknya.

“Baiklah…ehm kami akan mengadakan sebuah game singkat dimana nanti lima orang yang beruntung akan mendapatkan merchandise dari kami, kesempatan berfoto bersama kami dan kalian bebas mengutarakan permintaan kalian pada kami, satu persatu dari kami akan menerbangkan pesawat dari kertas ini ke kalian semua dan kalau pesawat itu berhenti tepat ditempat kalian maka kami akan memilih kalian, oke, kalian siap?”

“aku yang duluan ya” Hongki mengangkat tangannya dan dengan semangat mengambil pesawat dari kertas itu, membalikan tubuhnya kebelakang lalu melemparnya.

“Ah..itu dia” teriak keempat member lainnya.

“bagaimana?” Hongki menoleh kebelakang dan melihat pesawatnya mendarat dipangkuan seorang gadis dibarisan depan yang mengenakan topi kupluk. Hongki berjalan mendekati gadis itu dan mengulurkan telapak tangan kanannya “sayangku, maukah kau bermain denganku?” ucapnya, membuat suasana menjadi sangat riuh, gadis itu masih belum menerima tangan Hongki. Gadis itu menutupi sebagian wajahnya dengan pentastick dan mata bulatnya terpaku menatap Hongki. Hongki menjauhkan mikrofon dari mulutnya “Hya apa kau benar-benar gugup, apa kau menolak permintaan oppa?” godanya,tapi  gadis itu hanya mengerjapkan matanya beberapa kali.

Gadis itu menurunkan pentastick dari wajahnya begitupula syal yang dari tadi menutupi hingga puncak hidungnya, dan sekarang wajahnya terlihat jelas.

“kau!! …. Si gadis pengantar donat” bisiknya dengan tatapan terkejut.

“Iya, hey kenapa aku bisa bertemu kau lagi, aku ini bukan penggemarmu, aku penggemar nya Mir oppa” ucap gadis itu pelan tapi tegas dan menatap lurus juga kemata Hongki.

Semua penonton masih sibuk dengan keriuhannya, mereka semua iri melihat gadis itu.

“Baiklah, setidaknya kau membantuku untuk kali ini saja, kau tidak mungkin membuatku terlihat bodoh dihadapan penggemarku bukan? ayo terima tanganku dan ikuti saja game ini, aku mohon” gumamnya dengan nada sangat rendah agar orang disekitarnya tidak mendengar obrolan mereka.

Shin Hye memandang tangan itu cukup lama, lalu menghela napas, “baiklah”  Gadis itu menerima tangan Hongki dan berjalan menuju panggung sambil dituntun oleh Hongki.

***

Pagi-pagi sekali semua orang diapartment itu sudah bangun dan disibukan dengan aktivitas masing-masing, Minhwan yang sibuk dengan PSP barunya, Jonghun yang sedang berdiskusi bersama Jaejin untuk lagu baru yang sedang mereka tulis, Seunghyun yang sedang asyik menonton drama pagi favoritnya, dan tidak ketinggalan Hongki sang vokalis ini yang sedang disibukan dengan hobi barunya yakni olahraga yoga, ia beranggapan bahwa berat tubuhnya bisa turun kalau ia melakukannya dengan rutin.

“ah tumben sekali kalian semua sudah bangun” Yoonho, manajer setia mereka datang dengan membawa bungkusan yang isinya sekotak donat dengan 6 cangkir kopi yang harumnya mengundang semua orang untuk mendekatinya. “Hongkia, kau sedang berlatih bersalin ya?” tanya nya.

“MWO? Hyung kau ini!!! aku ini sedang Yoga, kau dan Jaejin ternyata sama saja” Hongki menghentikan aktivitasnya dan duduk bergabung dengan mereka yang sedang menikmati donat dan kopi yang lezat itu.

“kau tidak makan? Hey tidak perlu kau paksakan dietmu itu, pepatah bilang, makanlah seperti raja saat pagi dan jadilah seperti pengemis saat malam” ucapnya dengan ekspresi yakin.

“itu artinya apa?” tanya Hongki dengan wajah bingung dan otaknya masih mencerna kata-kata hyung nya itu, “aku ini kan ARTIS bukan raja apalagi PENGEMIS HYUNG!!!” jeritnya kesal. Ternyata  ia salah mencerna kata-kata hyungnya itu.

“aigoo..itu pepatah SKULLHONG!!” jelas Jonghun geram, “maksudnya makanlah dengan banyak disaat pagi dan makan dengan porsi sedikit disaat malam, kau ini benar-benar babo” gerutunya panjang.

“mana aku tahu, sok pepatah kalian ini” gumam Hongki.

“lagipula, kau juga tidak gemuk kok, ayo makanlah sedikit nanti kau sakit” Yoonho menyodorkannya secangkir kopi.

Pikiran Hongki langsung melayang ke kejadian kemarin, rasanya ia sudah muak dengan kopi dan donat-donat itu. Dan hebatnya  ia harus bertemu kembali dengan kurir itu diacara spesial mereka tadi malam. “aku tidak mau untuk kalian saja” tolaknya sambil menaruh kopi itu diatas meja.

“wah..wah Hyung kau trauma dengan kejadian kemarin ya?” tanya Seunghyun dengan mulut penuh dengan donat.

“apa katamu? Enak saja! Aku Cuma lagi diet” bantahnya cepat.

“memangnya kemarin ada kejadian apa?” tanya Yoonho bingung.

“kemarin… Hongki hyung bermandikan kopi dan wajahnya juga tidak kalah menggiurkan dengan donat-donat ini” ucap Minhwan, ia benar-benar tidak bisa menahannya kali ini dan tertawa dengan terbahak-bahaknya puas mengejek hyungnya itu.

Hongki menatap dongsaengnya itu tajam “Minan! Aku tidak akan membelikanmu ayam goreng lagi, aku janji” desisnya tajam.

“aku kan Cuma bercanda hyung, miane” Minhwan masih belum bisa menahan tawanya.

“Oh ya aku membawa hasil foto kalian bersama primadonna semalam, ehm… ini” Yoonho mengeluarkan amplop besar berwarna coklat dari dalam jaketnya.

“wah aku terlihat tampan disini” Seunghyun memandangi wajahnya dengan ekspresi penuh kekaguman pada foto itu.

Hongki masih belum mengalihkan pandangannya, matanya terus menerawang jauh dan pikiranya masih dipenuhi oleh gadis pengantar donat itu.

“Oh OMO!!!! Hongki hyung kenapa dengan ekspresi gadis ini? Kau apakan dia hyung?” tanya Jaejin dengan hebohnya.

Hongki sontak kaget dan merampas foto itu, tidak ada masalah dengan wajahnya difoto itu, lalu ia mengalihkan pandangannya kegadis disebelahnya yang dirangkulnya itu. Ekspresi gadis itu seperti tidak ikhlas dan cemberut. “Hey seharusnya kau beruntung bisa berfoto denganku, walaupun aku bukan Mir setidaknya wajah kami agak mirip sedikit, tidak…lebih tampan aku banyak dibandingkan dia” ocehnya pada foto itu, semua orang menatapnya bingung.

Jonghun meraih foto itu dan memandangi wajah gadis itu dengan seksama lalu tertawa terbahak-bahak “jadi gadis ini penggemar Mir? Tunggu dulu sepertinya aku mengenal wajahnya” Jonghun memandangi kembali foto itu dan otaknya terus mengingat wajah orang itu. “OMO… ini kan si kurir donat kemarin, benar tidak Hong?” tanya nya.

Hongki hanya mengangguk singkat dengan wajah berubah masam “kau tahu dia bilang apa saat aku mengajaknya naik keatas panggung?” Jonghun semakin penasaran dan semangat dengan cerita Hongki ini. “Aku ini bukan penggemarmu, aku penggemarnya Mir” ucap Hongki sambil meniru gaya gadis itu.

“benarkah?” tanya Jaejin dengan wajah terkejut.

“yang kalian bicarakan ini siapa sih? Ah aku mau keluar dulu, jadwal kalian hari ini kosong jadi selamat beristirahat”. Yoonho beranjak dari sofa dan berjalan menuju pintu depan.

“dia sepertinya ingin melihatku terlihat bodoh semalam, dia begitu lama menerima tanganku, baru sekali itu aku ditolak orang dengan mengatakan AKU BUKAN PENGGEMARMU!” lanjut Hongki geram.

“aku benar-benar tidak mengenalinya semalam, tapi dia memegang bendera pentastick kan? benar-benar gadis yang membingungkan” sela Jonghun.

Ah aku juga tidak tahu, PUSING!!!!!!” pekiknya, membuat keeempat member menutup telinga secara serempak. “Aku mau tidur” Hongki berjalan menuju kamarnya.

Ia menatap wajahnya dihadapan cermin dengan wajah penuh kasihan, “apa kau begitu membuat kurir itu kesal?  Kenapa dia tega sekali menolakku” rengeknya pada diri sendiri.

Tiba-tiba ponselnya berdering keras membuatnya kaget dan menyumpahi ponselnya itu “yeobseo” ucapnya dengan ketus.

“Hey!! Ini ibumu bodoh!” jawab orang yang ditelpon itu, Hongki dengan cepat melihat layar ponselnya.

“Oh..Omma miane…aku lagi kesal sama seseorang, ngomong-ngomong kenapa omma menelpon pagi-pagi seperti ini?” tanya nya, ia duduk di tepi spring bednya.

“Oh ya kau masih di Jepang?” tanya ibunya.

“aku baru tiba 2 hari yang lalu omma,ketahuan sekali omma tidak pernah melihatku di TV, ada apa?” gumamnya.

“aku ..ehm.. apa aku bisa minta tolong padamu?”

Aneh sekali, pikir Hongki “minta tolong apa? Kalau aku bisa bantu, apa sih yang tidak untuk wanita cantik ini” goda nya.

“Ah kau ini, ehm…ibu punya sahabat di Thailand, dia punya anak gadis yang sedang kuliah di Korea”

“lalu Omma mau menjodohkannya padaku? Begitu?” tanya nya tidak sabar.

“Bukan bodoh! Kau kira aku ini seperti omma-omma yang ada didrama-drama itu hah, ibunya memintaku untuk mengawasi putrinya karena ia mendapat telpon kalau putrinya sudah sering sekali bolos kuliah” ibunya berhenti sejenak, mencoba menarik napas.

“lalu apa urusannya denganku?”

“kau bisa tidak mengawasinya? Kau tahu kan aku tinggal cukup jauh dari Seoul, aku juga bukannya memaksamu menjadi pengawalnya tapi bisakah kau menjadikan dia teman atau adikmu bila perlu, dan membujuknya untuk rajin kuliah, kau bisa melakukannya kan?” tanya ibunya.

“Omma…”

“ya?”

“Kau tahu kan kalau pekerjaanku ini artis, aku mana ada jadwal untuk mengawasinya tiap waktu, Omma jangan menyuruh yang tidak-tidak dong” ungkapnya kesal.

“Iya aku tahu, dia itu bolos kuliah karena sibuk bekerja menjadi pelayan disebuah toko kopi, padahal dia selalu mendapat kiriman uang yang cukup untuk biaya kuliah dan hidupnya dari ibunya. Aku minta tolong kau bujuk dia untuk meninggalkan pekerjaannya, aku percaya kau pasti bisa, Oh ya nanti aku kirim melalui pesan teks alamat tempat ia bekerja beserta nama lengkapnya, sudah dulu ya Appa-mu memanggilku” Tiba-tiba sambungan terputus, Hongki hanya bisa terdiam terpaku dengan ponsel masih menempel ditelinganya.

Argghhh!!!!!” jeritnya sambil menghempas tubuhnya ke springbed dan menatap langit-langit kamarnya “Heiii kenapa selalu ada kata KOPI!!!!!!” Hongki menjerit hingga membuat semua teman-temannya menyerbunya ke kamar.

“hyeong kau kenapa? Kau mau secangkir kopi? ” tanya Minhwan dengan ekspresi serius.

“bukan!!!, hya siapa sih pencipta yang namanya KOPI? Apa kalian mengenalnya?” Ucapnya kesal.

“whae Hongkia? Ada masalah dengan gadis itu lagi?” tanya Jonghun.

“tidak, bukan dengan gadis itu tapi ini dengan Ommaku” desahnya.

“Omma hyeong membuka toko kopi juga ya?” tanya Seunghyun polos.

“Seunghyunah..jangan mengatakan hal yang bodoh!” protes Jaejin.

Hongki memandangi ponselnya dan lampu ponselnya berkedip beberapa kali yang menandakan ada pesan yang masuk. Ia menghela napas panjang sebelum membuka pesan tersebut.

“baiklah Omma kali ini omma yang menang!” desahnya sambil membaca isi pesan tersebut. Semua orang dikamar itu saling bertukar pandang dan kepala mereka dipenuhi pertanyaan tentang hyeong mereka itu. “kenapa kalian masih disini? Aku tidak apa-apa kok, ini Cuma masalahku dengan Ommaku” ujarnya lalu berdiri dan mengambil kunci mobil yang tergeletak dimeja samping springbednya.

“kau mau kemana?” tanya Jonghun.

“hanya mau keluar saja, pikiranku sedang kacau, aku pergi dulu” jawabnya dengan nada malas. Ia melangkah keluar dengan pikirannya yang kacau. Mau tidak mau ia harus melakukan hal yang tidak diinginkannya karena perintah ibunya. Hal pertama yang harus ia lakukan adalah pergi ke tempat gadis yang bernama Park Shin Hye –seperti yang Ibunya sebutkan- bekerja, lalu memikirkan kata-kata yang tepat untuk menyapa gadis itu.

***

Akhirnya ia tiba didepan sebuah kafe yang terletak di komplek ruko dipasar Namdaemun. Ia mengerutkan seperti sedang mengingat sesuatu “ah…bukankah si kurir donat itu juga bekerja disini, baiklah..sambil menyelam minum air, tamatlah riwayatmu hari ini karena berani sekali kau menolakku semalam” Hongki membuka sabuk pengamannya dan keluar dari van miliknya yang berwarna putih menkilap itu dan berjalan masuk kedalam kafe itu.

“selamat datang” sapa pelayan yang membukakan pintu untuknya.

Seragam yang dipakai gadis itu mirip dengan yang dipakai si Kurir itu. Hongki menoleh pada pelayan itu beberapa kali dan membuat gadis itu tertunduk malu.

“eh..bukankah itu Hongki, vokalis band terkenal itu lho!!!” bisik pelayan itu kepada pelayan lain yang sedang mengantar makanan. Hongki hanya menarik lebih dalam topi Roxy hitamnya dan mengenakan kacamata hitam yang tersimpan disaku jaket kulit coklat mahogani miliknya.

“seharusnya dari rumah saja aku seperti ini, ha beruntung sekali sih gadis yang ingin kutemui ini” decaknya, memang penampilannya tadi begitu mencolok mata orang yang melihatnya. Ia berjalan menuju tempat barista, dimana barista ini adalah pemilik kafe dan sekaligus teman dekatnya juga. Ia langsung duduk dikursi tinggi yang terjajar dimeja barista itu. Lelaki itu hanya tersenyum padanya tapi dimata orang itu seperti menyimpan pertanyaan untuknya.

“kenapa? Tumben sekali kau datang langsung kemari, suatu kebanggan bisa didatangi artis sesibuk kau ini Hong” oceh barista itu sambil menuangkan latte diatas kopi panas dihadapannya lalu melukisnya menjadi bentuk kupu-kupu.

“wah hyeong berbakat sekali bisa melukis diatas kopi, kapan-kapan hyeong lukis wajahku ya dikopi” ungkap Hongki yang memang terpesona melihat temannya itu.

Samdi, seorang barista, merupakan teman karibnya. Diwaktu senggang mereka biasa menghabiskan waktu bersama teman lainnya yang mereka namai Chocoball Grup, mereka biasa berkumpul ditempat karaoke langganan mereka hanya untuk berkumpul, makan, nyanyi, dan minum-minum tentunya. Hongki juga anggota termuda di grup itu yang membuatnya disayang oleh hyeong-hyeongnya (para anggota) grup itu.

“katakan saja langsung maksud kedatanganmu kemari, kau itu jarang sekali mau datang langsung” lelaki itu meletakan secangkir kopi diatas meja dan tidak lama kemudian ada seorang pelayan yang mengambilnya. Hongki menatap sekeliling dan memasati wajah pelayan disana satu persatu membuat temannya itu menatap heran padanya.

“WOY!!!!” kejut temannya itu.

“Ah,oh Hyeong apa disini ada pelayan yang bernama Park Shin Hye?” bisiknya pada Samdi.

“untuk apa kau mencarinya? Dia sudah tidak bekerja lagi disini, ia baru saja dipecat kemarin” ucap lelaki itu santai.

“kenapa hyeong memecatnya? Hyeong ini!” Gerutunya dengan nada kecewa sekaligus kesal.

“Hey aku juga tidak tahu kenapa dia bisa dipecat, kakakku yang menggantikanku jadi bos kemarin jadi aku benar-benar tidak tahu masalah apa yang dibuat gadis itu  sehingga kakakku sekesal itu, apa kau kenal dia?” tanya lelaki itu dengan alisnya terangkat tinggi sebelah.

“Oh begitu…ah, apa Hyeong tahu dimana tempat tinggalnya, ehm, nomor telponnya mungkin?” tanyanya dengan wajah penuh antusias, membuat Samdi semakin bertanya-tanya.

“ini… ini kopian identitas miliknya, kalau tidak salah dia tinggal dibelakang Hongdae, apa dia gadis yang sedang kau dekati?” tanyanya.

“Mwo?? Mana mungkin aku berkencan dengan pelayan, Hei hyeong aku ini artis, apa kau sudah lupa?” ketus Hongki.

baiklah..baiklah.. sepertinya kau belum melihat wajah gadis itu, aku yakin bukan Cuma artis yang bisa-bisa menoleh dua kali padanya, dia juga bukan sepenuhnya pelayan kok, dia itu Mahasiswi universitas negri Korea dan dia dari Thailand” jelas temannya itu panjang lebar.

“kalau itu aku juga sudah tahu!” ungkapnya sambil melayangkan kertas kecil itu didepan wajah Samdi, “Oh ya..nanti malam kita kumpul ya ditempat biasa, aku sudah lama tidak berkumpul bersama kalian, aku rindu kalian” ungkapnya sambil ingin memeluk Samdi tapi hanya bisa membentangkan kedua tangannya lebar-lebar dengan wajah manja yang biasa ditunjukkannya kalau Hyeongnya sedang kesal  “kita karaokean sepuasnya aku yang traktir, hyeong telpon semuanya ya, aku pergi dulu” ocehnya sambil berjalan keluar. Pelayan yang tadi berbisik-bisik terpaku menatapnya yang sedang berjalan menuju pintu keluar, ia mencoba memberika Fan Service pada pelayan itu berupa senyum terindah yang dimilikinya, yang membuat pelayan itu terlemas melihatnya.

Ia masuk kedalam van putihnya itu dan menatap keatas banner nama kafe itu “kau beruntung hari ini Ssinzna… oh mungkin dia sedang mengantar donat kali ya” ucapnya sambil mengangkat bahunya tanda tidak peduli. Lalu mulai menjalankan vannya menuju Hongdae.

***

‘Ah disini tempatnya, kecil sekali apartmentnya” ia menatap gedung apartment yang tepatnya lebih pantas disebut sebagai bangunan ruko yang agak lebih besar dari ruko pada biasanya, gedung itu dipenuhi tanaman menjalar yang menutupi sebagian dindingnya membuat apartment itu cukup mencekam. Ia keluar dari mobilnya dan kembali memasang kacamata hitamnya tapi tidak lagi mengenakan jaket kulitnya hanya kaus hitam berleher V dan celana hitam tiga perempat dengan sneaker besar berwarna hitam. “permisi Ahjumma” ia menyapa seorang Ahjumma yang tampak sudah sangat tua sedang menyapu lantai teras apartmentnya.

Ahjumma itu tampak terkejut lebih tepatnya panic melihat kedatangan Hongki “kau teroris ya?” tanyanya dengan nada sedikit berlebihan. Hongki sadar penampilannya memang terlalu menakutkan untuk kalangan manula.

“bukan” ucap Hongki cepat sambil membuka kacamata hitamnya “aku kemari mau bertemu dengan Shin Hye, apa kau tahu dimana ruang apartmentnya? Aku temannya” ungkapnya. Ahjumma itu hanya menunjukan telunjuknya keatas dengan tatapan sedikit curiga, “Oh baiklah, terimakasih” ucapnya sambil berjalan cepat menaiki tangga. Ia tidak mau berdebat terlalu panjang dengan seorang berumur setengah abad.

Hongki tiba dilantai dua itu dengan napas terengah-engah, walaupun gedung ini hanya bertingkat dua tapi anak tangganya begitu banyak. Sekarang ia dibingungkan lagi karena ada dua pintu yang berhadapan dihadapannya ini. “yang mana ya?” ia memejamkan matanya dan mencoba menggunakan instingnya-yang biasanya selalu tepat-dan telunjuknya menunjukan kesebelah kanan. Ia berjalan dengan sedikit ragu lalu mengetuk pintu tersebut, “lama sekali” ia mengetuk-etukan pintu itu kembali dan berkali-kali.

“IYA TUNGGU SEBENTAR!!!!!” Pekik orang didalam rumah itu yang tampaknya seorang gadis, nada suaranya jelas seperti sedang jengkel, mungkin karena Hongki mengetuk pintu rumah berkali-kali. Lalu pintu terbuka dengan ayunan yang cepat. Muncul seorang gadis dengan masih mengenakan jubah tidur yang lusuh dan kacamata tidur yang masih tersangkut dikepalanya.

“K..kau..” “si…kurir… donat” ucapnya terbata-bata. Ia tidak salah lagi, mata gadis itu yang membuatnya tidak bisa melupakan wajah gadis itu, “benar ini Ssinz” ucapnya dalam hati. Mata bulat Ssinz mengerjap beberapa kali mencoba menatap Hongki dengan seksama.

“kau siapa?” tanyanya sambil menggaruk kepalanya, rambutnya ternyata dipotong pendek menjadi seleher.

“Ah..ini… aku” jawab Hongki terbata sambil melepas kacamata hitamnya. Tiba-tiba mata gadis itu terbelalak seperti ingin keluar sewaktu ia melepas kacamatanya.

“si belepotan!!!” teriaknya histeris.

Tiba-tiba muncul temannya yang juga tidak asing lagi dimata Hongki, itu gadis yang menemani Ssinz waktu mengantar jasnya. “apakah yang dimaksud Omma, si Park Shin Hye itu adalah Ssinz?” tanyanya dalam hati. Ia hanya bisa mengutuk dirinya sendiri kenapa bisa menerima permintaan ibunya itu, ia sudah cukup stress karena bayangan Ssinz, gadis yang paling menyebalkan menurutnya itu, kini akan menjadi temannya “apa benar namamu Park Shin Hye? Hei apa aku boleh masuk dulu kedalam?” pintanya.

“benar! Tahu darimana kau alamatku? Kau ini jangan-jangan penguntit ya, kau tidak boleh masuk! Cepat katakan saja maksud dan tujuanmu datang kemari?” ucap Ssinz dengan nada sedikit cemas.

“apa? PENGUNTIT!!!!!!” teriak Hongki.

“Hey ini bukan rumahmu, berteriak seenakmu saja” Ssinz menutup mulut Hongki dengan telapak tangannya dengan cepat karena tetangga depannya itu punya anak bayi dan takut akan membangunkan bayinya.

Hongki melepas tangan Ssinz lalu berjalan masuk kedalam tanpa memperdulikan Ssinz yang ada dihadapannya. Gadis yang satu lagi itu tersenyum ramah padanya  “Hongki oppa” sapanya dengan nada manja dan senyum yang berbinar-binar, Hongki hanya membalasnya dengan senyum ramah pula. Ia duduk disofa kecil yang berhadapan dengan TV. Ia tahu kalau sekarang si Kurir itu sedang menatapnya dengan mata berapi-api.

“Hey siapa yang menyuruhmu masuk dan langsung duduk seperti itu, apa ibumu tidak mengajarimu sopan santun? Ada masalah apa kau mencariku seperti ini? Apa karena masalah aku menolakmu semalam?” tanya Ssinz.

Hongki seketika berubah jengkel mengingat apa yang dilakukan gadis yang sedang berdiri dihadapannya ini semalam, ia melirik ke meja yang ada disebelah kiri yang berdempet dengan jendela apartment itu, bergeletak Merchandise serta CD FTIsland dan tidak lupa pentastick “Ah…kau bohong semalam, katamu kau bukan penggemarku tapi kenapa kau memegang pentastick?, kau ini ternyata gengsian ya, sudahlah aku akan melupakan semua kesalahanmu asal kau bilang kau itu penggemar kami, karena penggemarku adalah sayangku” ucapnya dengan percaya diri sambil tersenyum kearah gadis yang wajahnya sudah bertekuk-tekuk sekusut jubah tidur yang dikenakannya.

“itu milikku oppa…” ucap seorang gadis berambut seleher dan bertubuh tinggi , teman Ssinz itu datang sambil membawa secangkir teh hangat.

“terimakasih” balasnya. “benarkah? Wah kalau begitu kau beruntung bisa bertatap muka langsung bersamaku bukan?” tanyanya sambil menyesap teh tersebut. Gadis itu mengangguk dan tersipu malu.

“Hya Eunjungah!!!! Kau ini sok baik sekali sih, untuk apa kau menyajikan minuman untuk namjah aneh seperti dia ini. Hey aku tanya sekali lagi apa maksud dan tujuanmu kemari????” tanyanya dengan wajah kesal.

Hya Ssinzna…Oppa kan tamu kita, lagipula apa kau tidak malu dengan penampilanmu sekarang?” ucap temannya itu sambil menatap Ssinz dari atas sampai kebawah.

“Oh namamu Eunjung” ucap Hongki dengan senyum ramahnya, lalu ia menatap Ssinz kembali “cepat mandi dan bersiap-siap, aku mau memberitahu alasan aku kemari diluar saja” ucapnya santai.

“KAU!!!” Jerit Ssinz sambil berjalan kesal menuju kamar yang pintunya ditempeli dengan sticker MBLAQ dan yang paling banyak adalah Mir. Hongki yakin itu adalah kamar gadis itu.

“kalian hanya tinggal berdua disini?” tanya nya pada Eunjung yang sedari tadi menatapnya tanpa berkedip.

“Ah…iya oppa” jawab Eunjung sambil mengangguk beberapa kali. Hongki kembali tersenyum pada gadis itu.

“Oppa…apa benar isu-isu yang ada di Internet itu kalau kau dan Jonghun oppa itu gay?” tanya nya dengan nada hati-hati.

“Ah tidak…kau tidak boleh percaya dengan isu seperti itu, aku dan Jonghun itu memang dekat karena umur kami itu sepantar. Kau tidak boleh percaya isu seperti itu Eunjungah, kau kan penggemar kami jadi percaya saja pada kami” ungkapnya penuh keyakinan. Ia sedikit jengkel dengan isu-isu belakangan ini yang mengatakan kalau dia dan Jonghun adalah gay padahal jelas sekali Jonghun itu sudah punya pacar tapi belum mau dipublikasikan, dan dirinya sendiri banyak dekat dengan para gadis.

Setelah hampir tiga puluh menit ia duduk disofa itu sambil mengotak-atik IPhone 5 miliknya, muncul Ssinz yang hanya mengenakan kemeja blue jeans yang besar dengan kancing dibiarkan terbuka dan kaus didalamnya berwarna putih, ia juga hanya mengenakan jeans ketat berwarna biru pias dan boot coklatnya yang selutut. Rambutnya dibiarkan tergerai.

“ayo kita pergi” ajak Hongki sambil beranjak dari sofanya.

“kau mau mengajakku kemana?” tanya Ssinz dengan tatapan curiga.

“ikut saja, kau tenang saja aku tidak berminat dengan gadis sepertimu” ungkapnya dengan nada datar. Ssinz hanya bisa mengerutkan dahinya karena jengkel dengan namjah judes yang sedang membelakanginya itu.

“kalian mau kemana?” tanya Eunjung.

“kami mau keluar sebentar Eunjungah…aku pergi dulu ya, jangan lupa kunci pintunya ya” Ssinz berjalan keluar sambil memasang topi baret kulit miliknya. Ia memandang Hongki dari belakang, penampilan sehari-hari namjah itu sangat santai dan keren, beda sekali dengan yang ada dipanggung semalam,pikir Ssinz, dan juga namjah ini lebih terlihat karismatik daripada dipanggung. “OMO!!!kau ini kenapa Ssinz??” kutuknya dalam hati.

“naiklah” Hongki membukakan pintu van nya untuk Ssinz, tapi gadis ini belum mau masuk dan menatap Hongki dengan tatapan curiga “ah kau berlebihan sekali, aku tidak bakal menculikmu, ayo masuk cepat!!!! Panas nih!!” ucap Hongki dengan wajahnya yang meringis kepanasan. Akhirnya gadis itu mau masuk ke vannya walaupun wajah curiga masih belum hilang diwajah gadis itu.

“kenapa tidak bisa kau bicarakan disini saja? Kau ini kenapa selalu muncul didepan mataku sih!! Padahal aku sudah buang sial” Gerutu Shin Hye dengan menghela napas panjang.

“kau ini keterlaluan sekali sih, beruntung kau bisa diajak makan siang bersama artis seterkenal aku ini! Yang mau aku bicarakan ini lumayan penting dan juga bersifat pribadi jadi tidak bisa aku mengatakannya di sembarang tempat” oceh Hongki tanpa memalingkan pandangannya, “Oh ya rambutmu kenapa kau potong?” tanya nya sambil melihat sekilas pada gadis yang duduk disampingnya itu.

“Oh ini, sudah kubilang aku melakukan ini untuk buang sial!” jawab Shin Hye ketus, Hongki hanya mengangguk saja mendengar jawaban gadis itu tanpa mau tahu alasan apa yang membuat gadis itu sial.

“Ah kita sudah sampai” Hongki menghentikan mobilnya didepan sebuah kedai kecil yang terletak dipinggiran kota Seoul. Ia membukakan sabuk pengaman Shin Hye lalu berjalan keluar mobil.

“ayo kau duluan yang masuk” Hongki mempersilahkan Shin Hye untuk mendahuluinya masuk kekedai itu. Aroma harum dari bumbu Mie membuat perut gadis itu mengeluarkan suara yang lumayan keras, Hongki hanya tersenyum geli tanpa melirik kearah gadis itu takut akan menyinggung perasaannya. Untungnya kedai saat itu sedang sepi jadi dirinya leluasa untuk membuka topi dan kacamata yang sedari tadi dipakainya yang membuatnya dicurigai seperti teroris oleh seorang ahjumma berumur setengah abad. Ia mengambil tempat dibagian paling dalam kedai itu karena tempat duduk disana berupa lesehan dan juga tempatnya sangat tenang.

“kau mau pesan apa Shinhye-ssi? Kau bebas memesan apapun kesukaan mu, aku yang bayar” ucap Hongki sambil menyodorkan daftar menu dengan senyum yang sangat ramah.

Tidak tampak lagi raut kesal diwajah lelaki itu yang membuat perasaan Shin Hye sedikit lebih tenang. Perasaan bersalah kemarin seketika hilang saat Hongki tersenyum ramah seperti itu padanya dan berganti menjadi perasaan kagum pada lelaki itu. “benarkah? Kalau begitu aku mau pesan yang banyak, boleh tidak?” candanya sambil tersenyum ramah juga.

“wah tidak kusangka kau ternyata kuat makan juga ya, baiklah kau bebas memesan sepuasmu, Oh ya ngomong-ngomong sejak awal ketemu kita berdua tidak pernah saling memperkenalkan diri secara resmi, Shin Hye sii perkenalkan namaku Lee Hongki dan aku adalah seorang vokalis band terkenal di negeri ini” ucapnya dengan menjulurkan tangannya mengajak Shin Hye untuk berjabat tangan.

***

Part.2

“wah tidak kusangka kau ternyata kuat makan juga ya, baiklah kau bebas memesan sepuasmu, Oh ya ngomong-ngomong sejak awal ketemu kita berdua tidak pernah saling memperkenalkan diri secara resmi, Shin Hye sii perkenalkan namaku Lee Hongki dan aku adalah seorang vokalis band terkenal di negeri ini” Hongki menjulurkan tangannya padanya.

Shin Hye menatap tangan itu lama, ia heran untuk apa lelaki ini memperkenalkan dirinya lagi karena semua orang di Korea ini pasti mengenalnya tanpa harus ia memperkenalkan diri seperti ini. Ia juga merasa seperti keterlaluan kalau ia masih bersifat sinis pada namjah yang sangat ramah ini. Akhirnya ia menjabat tangan Hongki dan benar saja lagi-lagi senyum yang sangat ramah itu mengembang diwajahnya. Mata, bibir, pipi dan semua anggota diwajah Hongki juga ikut membentuk senyuman manakala ia sedang tersenyum dan itu juga yang membuat Shin Hye betah menatap wajah Hongki mulai dari saat ini.

“naneun Park Shin Hye ibnida, seorang kurir disebuah kafe dan baru saja dipecat karena membuat masalah yang serius pada pelanggannya dan sekarang statusku adalah pengangguran yang tidak berguna” candanya dengan tawa yang sedikit ditahan.

“ Pengangguran Tidak Berguna? Apa maksudmu? Kudengar dari bosmu kau itu kan mahasiswi di Universitas Negri mana boleh kau mencap dirimu seperti itu, itu tandanya kau tidak mensyukuri apa yang diberikan selama ini” ungkap Hongki dengan ekspresi yang sangat serius dan nada bicara layaknya seorang yang sudah memiliki pengalaman hidup yang cukup lama. Shin Hye tertawa lepas menatap ekspresi Hongki yang serius itu karena menurutnya bukan terlihat serius melainkan lucu dan juga imut.

“Kenapa kau tertawa? Sangat tidak jelas, oh ya pesanan mu apa?” tanya Hongki. “aku mau pesan Jjolmyeon, mie ini sangat terkenal pedasnya di kedai ini, kau mau coba?” tanya nya lagi sambil mendongak dari daftar menunya.

“ehm…baiklah aku pesan yang sama denganmu” jawabnya.

“lalu apa lagi?” tanya Hongki lagi.

“itu saja!”

“katanya mau pesan yang banyak” Desis Hongki, “jadi Jjolmyeon nya dua porsi saja ehm minumnya…Shikhye saja, terima kasih Ahjumma” ucapnya sambil tersenyum pada Ahjumma itu.

“Hongki-ssi… ehm..miane” gumam Shin Hye.

“Ah kau panggil saja aku Hongki jangan tambahi ‘ssi’ , lagipula minta maaf untuk apa?”

untuk semua ulah-ulahku kemarin yang marah-marah padamu padahal itu semua kesalahanku, dan juga tolong sampaikan maafku juga untuk teman-temanmu ya” Ucapnya sambil tertunduk memainkan sumpitnya.

“ah lupakan saja, mereka semua juga tidak mengambil hati ucapanmu kemarin, sekarang kita adalah teman, kau setuju?” ungkap Hongki sambil mendekatkan wajahnya kepada Shin Hye “kau itu teman ekslusifku”.

“tentu saja, kita teman sekarang” jawabnya dengan senyum yang mengembang. “Oh ya, hal apa yang mau kau ceritakan padaku?” tanya nya teringat ada hal penting yang ingin dikatakan Hongki padanya tadi.

“Ah aku jadi lupa … apa benar kau putrinya bibi Park Shin Yun? Dan keluargamu semua tinggal di Thailand?” tanya Hongki. Shin Hye tiba-tiba terenyuk dari tempat duduknya lalu berdiri menatap Hongki dengan tatapan tajam, “tunggu dulu…” Hongki mencoba menenangkan Ssinz.

“kau penguntit ya?” tanya Ssinz pada Hongki, namun Hongki hanya tertawa terbahak-bahak dan membuatnya seperti orang bodoh, ia pun duduk kembali dan menatap heran namjah itu.

“anieo… ibumu dan ibuku itu sahabatan jadi..” belum selesai Hongki menjelaskan Ssinz sudah tidak sabar memotongnya.

“lalu kau mau dijodohkan denganku?” tanya nya dengan ekspresi cemas.

“apa? Kau ini berharap sekali sih, bukan itu dengarkan dulu penjelasanku sampai selesai, jangan potong dulu dan kalau kau melakukannya aku tidak akan melanjutkan penjelasannya” Hongki melipat tangan didepan dada dan tersenyum angkuh.

“baiklah, lanjutkan!”

“Aku juga sebenarnya tidak mau melakukan hal bodoh ini, terus terang saja jadwalku ini sangat padat dan sekarang ini aku sedang disibukan dengan jadwal manggung untuk comeback kami..”

“Hey kenapa jadi cerita tentang riwayat hidupmu! Aku tidak butuh penjelasan tentang keseharianmu! Cepat langsung saja kepokok masalah!” ungkap Ssinz dengan wajah yang sangat kesal dan tidak sabar.

“Ibumu memintaku untuk mengawasimu” jawab Hongki singkat.

“APA? Mereka kira aku ini bayi perlu diawasi terus menerus” gerutu Ssinz sambil mengetukan sumpit cukup keras dimeja kayu itu.

“pihak Universitas terus menghubungi keluargamu karena kau sering bolos, ibumu juga memintaku untuk membujukmu untuk berhenti bekerja karena uang yang dikirimkan oleh mereka sudah lebih dari cukup untuk membiayai semua keperluanmu di Korea, lagipula untuk apa sih kau bekerja padahal uang sakumu yang dikirim ibumu sudah sangat berlebih?” tanya Hongki heran.

Ssinz menghela napasnya dan mengucapkan serentetan kata-kata dengan bahasa yang berbeda membuat Hongki tidak mengerti satupun yang diocehinya. “itu rahasia, lagipula aku sudah dipecat dari pekerjaanku dan kau tidak perlu repot-repot lagi”

Hongki menyunggingkan senyum pahit dan raut wajahnya tampak merasa bersalah. Ia terdiam sejenak seperti sedang memikirkan sesuatu dan tidak lama kemudian pesanan mereka pun datang.  “terima kasih”.

Kepulan asap dari Mie yang dihidangkan seorang Ahjumma itu menari-nari didepan hidung mereka berdua dan mencairkan suasana yang sempat mendingin sejenak. “Ah..ehm..sudah lama aku tidak kemari, Shin Hye ssi silahkan menikmati Mie nya” ujar Hongki dengan nada bersemangat.

Shin Hye mulai menikmati Mie yang dipesannya dan benar saja, aroma yang sedari tadi berputar-putar didepan hidungnya itu sesuai dengan kelezatannya, ini pertama kalinya ia menikmati  mie selezat ini selama ia tinggal di Korea. Ia diam-diam melirik Hongki yang tampak berkeringat dan kepedasan, wajahnya memerah dan matanya ikut berkaca-kaca. Kelihatannya ia tidak tahan pedas tapi masih saja nekad memesan mie sepedas ini, bisik Shin Hye dalam hati. Ia mengambil gelas kecil yang masih terduduk rapi dimeja dan menuangkan Shikhye untuknya “ini, kau tidak tahan pedas ya?”

“ah terima kasih” ia menyambut gelas itu dengan cepat dan menghabiskannya dengan cepat pula, Hongki melap bibirnya dengan kertas tisu yang terlipat disamping mangkuknya “Siapa bilang aku tidak tahan pedas, apa kau tidak merasa pedas sama sekali?” tanya nya dengan wajah heran.

Shin Hye hanya tertawa melihat namjah ini, sungguh level pedas seperti ini masih dianggap rendah oleh Shin Hye karena ia memang penyuka makanan pedas, “tidak, ini sih biasa saja, em..tapi mie nya enak sekali dan aku juga suka suasana disini”

“Oh ya apa rencana kita selanjutnya? Aku benar-benar bingung harus melakukan apa untuk ibumu, sebenarnya aku mau kita berdua dapat saling bekerja sama dan diantara kita tidak ada yang merasa dirugikan, kau mengerti maksudku kan?” tanya Hongki sambil menaikan sebelah alisnya.

“Hongkia aku sangat membutuhkan pekerjaan sekarang dan aku juga sedang mencari pekerjaan baru yang ringan dan tidak terlalu menyita waktuku, aku juga tahu selama ini aku sudah terlalu banyak rugi, mulai dari biaya kuliah, waktu dan belajarku juga tersita” desahnya.

“hya aku masih bingung kenapa kau sangat bersikeras untuk bekerja? Padahal keluargamu termasuk orang dari golongan atas, ibumu bilang uang saku mu sudah lebih dari cukup, Shin Hye ssi kalau boleh tahu alasanmu lebih mementingkan bekerja itu apa? Jangan ada rahasia diantara kita berdua, sekarang kau adalah temanku dan aku tidak akan menceritakannya pada orang lain dan tentu saja orang tuamu juga, kau bisa pegang kata-kataku” Hongki meraih tangan Shin Hye dan mengangguk-angguk dengan wajah penuh keyakinan.

“sebenarnya bukan alasan yang besar sih..” Shin Hye berhenti sejenak, lalu “aku mau mengumpulkan uang untuk jalan-jalan” jawabnya cepat.

“hanya itu?”

Shin Hye hanya mengangguk-anggukkan kepalanya dan menatap Hongki yang memasang ekspresi tidak percaya. “Wah memangnya kau mau jalan-jalan kemana sih? Kenapa tidak kau ajak keluargamu saja untuk jalan-jalan dan kau tidak perlu bersusah payah mengumpulkan uang hingga harus menelantarkan kuliahmu”

“tidak bisa seperti itu” Shin Hye bingung bagaimana harus menjelaskannya.

“kenapa?”

“aku mau jalan-jalan keliling kota Paris, sebenarnya kau benar mengenai keluargaku mampu untuk mengajakku kesana, tapi aku maunya kesana dengan uang dari hasil kerja kerasku sendiri” jelasnya.

“Oh kau kan bisa kesana setelah kau lulus kuliah atau saat kau mulai bekerja dan mendapatkan penghasilan”

“tidak bisa seperti itu Hongki!” gerutunya. “aku maunya aku sudah kesana sebelum aku lulus kuliah, Hua aku sudah mulai terbayang suasana Saturday Night di menara Eiffel, berjalan-jalan dengan ditemani seorang namjah tampan, mengenakan pakaian-pakaian yang ada dimajalah-majalah fashion terkenal disana, menyewa kamar dihotel bintang lima..” Shin Hye mulai berangan-angan lagi, wajahnya menatap langit-langit dengan merapatkan kedua tangannya didepan dada.

“kau ini gila khayal ya! Kenapa tidak minta bayari sama namjah tampan itu saja?”

“masalahnya itu tidak mungkin”

“kenapa?”

“dia itu seorang artis terkenal, wajahnya tampan dan tubuhnya seksi, Hua!!!!” Shin Hye tiba-tiba menjerit sendiri dan membuat pelayan dikedai itu serempak menoleh kearah meja mereka.

“Hey kalau mau mengkhayal jangan disini! Artis? Siapa?”

“Mireu op..pa~~~” gumam Shin Hye panjang dengan ekspresi cute.

“sepertinya kau sudah mulai gila karena orang itu” gerutu Hongki, “bagaimana kalau kau bekerja denganku saja?”.

“apa?”

“iya, kau jadi asisten pribadiku, kau mau?”

“asisten? Maksudmu pembantumu ya?”

“bukan, tugasmu nanti tidak akan menyita waktu kuliahmu, tugasmu hanya mengantar–jemputku , membawa pakaian kotorku ke binatu dan juga menemaniku jalan-jalan kemanapun aku pergi, kau bisa mulai bekerja setiap kau pulang kuliah, bagaimana menurutmu?”

“itu sama saja aku itu sopir sekaligus pembantumu!”

“Hya, kalau kau mau gajinya ini lumayan besar, dan juga kerjanya tidak terlalu berat dan santai”

“benarkah? Kau berani membayarku berapa?”

“kau tidak perlu khawatir soal gaji, yang jelas kau mau atau tidak?”

Shin Hye mengerutkan bibirnya dan memutar bola mata hitam bulatnya sedang berpikir apakah ia harus menerimanya atau tidak, ia tahu namjah ini tidak bakal menyelakainya tapi mungkin tidak ada salahnya ia mencoba tawaran ini, “baiklah” jawabnya.

“bagus, kau juga kupercayai untuk membawa mobilku kemanapun kau mau, seperti berangkat kuliah tapi, ingat kau harus siap setiap kali aku menelponmu untuk dijemput, deal?” Hongki menjulurkan tangan kanannya mengajak Shin Hye untuk berjabat.

“deal” Shin Hye menerima tangan itu sambil tersenyum senang.

***

“besok aku akan menjemputmu disini pagi-pagi dan kau sudah harus siap ya?” ucap Hongki dari balik kaca mobilnya yang setengah tertutup.

“baiklah, Oh ya kau mau mengantarku kuliah ya? Memangnya jadwalmu tidak padat?”

“kalau besok pagi sih aktivitasku belum dimulai, tapi untuk lusa dan seterusnya gantian kau yang mengantar jemputku”

Shin Hye memasang raut cemas, apakah pekerjaannya ini malah akan membebaninya.

“tenang saja, tugasmu kan Cuma mengantar jemputku saja, aku pulang dulu, annyeong!!!” Hongki mendadahinya sambil tersenyum manis dan mulai melajukan mobilnya.

Shin Hye masih menunggui hingga mobil Hongki menghilang diujung jalan sambil melambaikan tangannya, tidak terasa hari sudah malam dan ia benar-benar merasa senang hari ini. Ia tidak menyangka seseorang yang dari awal sudah diberi kesan buruk olehnya begitu baik padanya, ia terus tersenyum sambil berjalan menuju ruang apartmentnya.

“Hey kau kenapa Ssinz senyum sendiri?” tanya Eunjung yang menyambutnya heran didepan pintu.

“Ah tidak apa-apa, Eunjungah aku dapat pekerjaan baru” ujarnya dengan penuh semangat dan mata yang berbinar.

“benarkah? Lalu bagaimana urusanmu dengan Hongki oppa tadi?” Eunjung duduk disofa sambil meneruskan pekerjaannya membuat miniatur menara Tokyo, itu tugas kuliahnya karena jurusannya adalah arsitektur berbeda dengan Ssinz yang mengambil jurusan Desainer.

“ehm baik dan sangat menguntungkan, coba kau tebak apa pekerjaan baruku?” Shin Hye mencondongkan wajahnya didepan wajah temannya itu.

Eunjung mengangkat sebelah alisnya dan seperti mencoba berpikir “kau terpilih menjadi Fashion Desainer di salah satu majalah fashion terkenal di Korea? Atau kau berhasil menghajar Hongki oppa hingga babak belur dan jera setengah mati?” candanya.

“Hey!!!!! Aku sedang tidak bercanda Eunjung, kau juga tidak boleh menjelek-jelekan bos baruku, kau mengerti!” gerutunya dengan mata yang tajam.

“bos barumu?” Eunjung berdiri dari sofanya dan menunjuk Shin Hye dengan mulut terbata-bata “apa yang kau maksud bos barumu itu H..Hong..ki?” tanyanya. Dan Shin Hye hanya mengangguk sambil tersenyum bangga. “kenapa bisa?”

“dia memintaku untuk menjadi asisten pribadinya dan hebatnya aku diberi kepercayaan untuk membawa mobilnya!! Wah aku senang sekali Eunjungah” jeritnya sambil memeluk Eunjung yang masih tidak percaya.

“ya sudah aku mau masuk kekamar dan istirahat dulu karena besok bosku akan menjemputku, jalja!!!” Shin Hye melambaikan tangannya dan langsung masuk kekamarnya meninggalkan Eunjung yang masih berdiri dengan wajah penuh tanda tanya.

Shin Hye merogoh isi tasnya untuk menemukan ponselnya karena sudah seharian ini ia tidak memperdulikan aktivitas ponselnya itu dan benar saja ada beberapa pesan dan panggilan tak terjawab tertera dilayar ponselnya. “Omo…omma tiga kali menelponku, ah mianhada (trs : maaf) Oemma” ia mencoba menghubungi kembali nomor ibunya, ia mondar-mandir berjalan didepan ranjang kecilnya itu dengan tangan kanannya menempelkan ponsel ketelinganya.

“Oh Oemma yeoboseo” sapanya dengan nada manja seperti ia biasanya. “Ne kwenchanta… Oemma benar-benar ingin membuatku malu ya?” gerutunya.

“kenapa? Apa kau sudah bertemu dengan seorang namjah yang bernama Lee Hongki? Dia itu putranya sahabatku, apa dia sudah menemuimu?” tanya Oemma nya bersemangat.

“sudah”

“lalu?”

“iya kami berteman”

“hanya itu? Oh ya sekali lagi Oemma tegaskan, kau kuizinkan ke Korea itu untuk menuntut ilmu bukan untuk melakukan hal yang hanya membuang-buang waktumu, kau mau jadi mahasiswa abadi ha?”

“iya..iya.. Hongki juga sudah mengatakannya padaku, besok ia akan menjemputku untuk pergi kuliah”

“benarkah? Tapi dia itu kan artis mana mungkin punya waktu untuk mengantarmu, Ssinz ingat ya jangan menyusahkan orang lain disana dan jangan selalu membuat Oemma malu karena pihak universitas terus menghubungi oemma dan pertanyaan mereka selalu sama, kau mengerti?”

“ne araso… dia bilang besok jadwalnya kosong dan mulai lusa giliran aku yang mengantar jemputnya…”

“APA??” teriak Oemmanya dengan nada sangat syok. “apa maksudmu dengan mengantar jemput?” tanyanya.

“maksudku, aku bekerja dengannya Oemma”

“bekerja…sudah kubilang tugasmu disana hanya kuliah bukan mencari uang, apa uang yang kami kirim untukmu kurang?”

“tidak kok Oemma, Hongki juga mengerti soal itu, dia bilang aku bekerja dengannya agar lebih mudah ia mengontrolku apakah aku kuliah dengan rajin atau tidak” Shin Hye memindahkan ponselnya ketelinga sebelah kiri dan duduk diranjangnya, “dia juga memintaku untuk bekerja dengannya setelah pulang kuliah dan pekerjaanku ini tidak akan mengganggu waktu kuliahku, dia juga membebaskanku menggunakan mobilnya untuk keperluan kuliahku tapi sebagai gantinya aku diminta untuk menjadi asisten pribadinya, Oemma tidak perlu khawatir percaya saja padaku, aku juga tidak mau lama-lama dibangku kuliah”

“Ah terserah kau saja…kau jangan menyusahkan Hongki ya Ssinz, Oemma memberikanmu kepercayaan sekali lagi dan tolong jangan kau kecewakan Oemma, ya sudah kau tidurlah, selamat malam..mimpi yang indah Ssinzna”

“malam Oemmaku tersayang…chu” Ssinz mencium ponselnya seperti benar-benar mencium Oemmanya.

to be Continue….”Jangan lupa komentarnya.. dan disaranin kalau mau baca cerita ini bagusnya sambil dengar lagu milik Shania Twain “You’re still The One” karena Fanfic ini terinsprirasi dari liriknya.Makasih udah baca dan tunggu kelanjutannya..^^”

Your appreciation please....

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s