FTISLAND & MBLAQ I News Update I Twitter Update I Pictures Update

[FANFIC] “My Beautiful Journey” part 2 of 2 (end)

Part 2

Ssinz tampak bersemangat keluar dari mobil dan meninggalkan Hongki didalam mobil tanpa membukakan seatbelt dan pintu mobilnya. Ssinz menghampiri namjah itu.

“kakak…apa kau sudah lama disini?” Ssinz menyapa namjah itu.

“ah lumayan, Ssinz apa dia temanmu?” namjah itu menunjuk Hongki.

“ah ya aku lupa, Hongki-shii perkenalkan ini namchingku Aldo, Hongki adalah klienku dia berasal dari Korea”

“Halo..Hongki-imnida” Hongki membungkuk kepada Aldo.

“Ah ya halo saya Aldo” Aldo menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan dan Hongki meraihnya. Hongki membiarkan Shin Hye mengobrol lama dengan namjah itu.

Setelah  Ssinz asyik mengobrol Aldo pun berpamitan pulang dengan Hongki dan Shin Hye.

“Ssinz mana kuncinya palii aku sudah gerah mau mandi” Hongki merengek kepada Ssinz yang sibuk mengeluarkan barang-barang Hongki.

“ini..” Shin Hye melempar kunci rumahnya, dan Hongki langsung berlalu masuk kerumah itu tanpa membantu Shin Hye yang sedang mengangkut barang miliknya.

“huh..dia ini sebenarnya namjah atau yeojah sih!! Mana ada namjah yang membiarkan seorang yeojah membawa barang-barang berat seperti ini” aku mengangkat koper paling besar yang entah diisi apa oleh Hongki, mungkin seisi rumahnya dibawanya semua kemari. Dan langsung masuk kedalam rumahnya dan meletakan barang Hongki dikamarnya Shin Hye merapikan tempat tidurnya. Hongki keluar dari kamar mandi dengan rambut blondenya yang masih basah.

“kau tidur disini saja, biar aku tidur dibawah” Shin Hye menyilahkan Hongki.

“ahh anii…kau saja yang tidur disana biar aku dibawah saja” Hongki memilih tidur dilantai dibawah tempat tidur Shin Hye dimana sudah dilapisi Shin Hye dengan kasur tipis.

“tapi kau kan…” belum sempat Shin Hye selesai berbicara.

“ahh tenang saja aku sudah biasa tidur dilantai…lagipula aku kan namjah mana mungkin membiarkan seorang yeojah tidur dilantai” Hongki langsung mengambil salah satu bantal ditempat tidur Shin Hye dan berbaring membelakangi Shin Hye.

#apa aku tidak salah dengar? Hongki bilang ia seorang namjah!! Tapi kenapa tadi dia membiarkan aku sendirian mengangkat tasnya yang super berat? Benar-benar susah ditebak!!!” ucap Shin Hye dalam hati.

Shin Hye menatap Hongki yang sedang berbaring dibawahnya. Shin Hye  terus menatapi Hongki yang membelakanginya. Hongki mengenakan kaus putih tipis tanpa lengan yang menunjukan otot lengannya yang putih mengkilap terkena sinar lampu tidur, dan ia mengenakan celana panjang berwarna putih juga yang membuat kakinya tambah terlihat panjang. “benar-benar tampan” Ucapan tersebut terbesit dipikiran Shin Hye. Shin Hye langsung mengalihkan pandangannya dan membelakangi Hongki berusaha membuang pikirannnya yang aneh itu.

“Shin Hye shii.. apa kau sudah tidur” Hongki mengeluarkan suara tapi masih dengan posisi tubuhnya yang membelakangi Shin Hye.

“ahh belum…kenapa?” Shin Hye melirik Hongki yang masih membelakanginya.

“apa namjah tadi itu pacarmu?” tanya Hongki.

Hening……

“ne.. maksudmu Aldo” jawab Shin Hye.

“apa kalian sudah lama berpacaran?”

“anii kami baru sebulan berpacaran, whae Hongki shii?” Shin Hye balik bertanya.

“anieo… lupakanlah!! Selamat tidur…” Hongki tiba-tiba menghentikan obrolannya.

Shin Hye menatap Hongki bingung.

Keesokan paginya……

Sedang asyik merapikan kamarnya tiba-tiba Shin Hye menemukan sesuatu yang bentuknya seperti ID card berwarna kuning tergeletak didekat tas koper Hongki.

“Lee Hongki, Actor and Singer, FNC Entertainment. Upzzz apakah Hongki shii seorang artis di Korea? Ini benar-benar foto Hongki-shii” Shin Hye terkejut ketika membaca itu, ia lalu memasukan ID card itu kedalam sakunya dan akan menanyakan langsung kepada Hongki.

Shin Hye berjalan masuk menuju kamar mandi untuk  membasuh muka. Dan saat ia membuka pintu kamar mandi…

“aaaaahhhhhhh” Shin Hye berteriak melihat Hongki yang sedang asyik mandi dengan tanpa busana.

“Hyaaa….. kau mau ngintip ya!!” Hongki berteriak dengan nada tinggi. Dan menutupi senjatanya dengan ember kecil

“enak saja……kenapa tidak kau kunci pintunya!!!” Shin Hye masih terpaku didepan pintu kamar mandi yang terbuka itu.

“KELUAAARRRRRRR” jerit Hongki membuat Shin Hye langsung menutup pintu itu dan kabur menuju ruang tengah. Jantungnya berdegup kencang, ia masih terbayang-bayang dengan apa yang dilihatnya barusan. “Ssinzz itu bukanlah pemandagan indah yang patut untuk diingat terus” Shin Hye memukul kepalanya.

Setelah berapa lama duduk diruang tengah, Shin Hye memutuskan kedapur untuk menyiapkan sarapan. Tiba-tiba ia terhenti melihat Hongki yang baru keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk putih yang hanya mentupi bagian bawah perutnya saja. Tampak Hongki menatap Shin Hye dengan canggung begitupula Shin Hye yang menunduk dengan wajah yang merah semerah tomat.

Setelah selesai memasak nasi goreng untuk sarapan, Shin Hye pergi keluar sebentar untuk membeli mie instan yang sudah habis dimini market tidak jauh dari rumahnya

“Hongki shii aku keluar sebentar ada yang harus kubeli. Sarapanmu sudah kusiapkan dimeja makan” Hongki masih mengurung diri dikamar, Shin Hye tidak berani membuka pintu tersebut takut wajahnya memerah kembali.

“ne…” jawab Hongki dari dalam kamar.

Shin Hye langsung berlalu meninggalkan rumah. “seharusnya aku yang harus malu!!” gumam Shin Hye.

Beberapa menit kemudian Hongki memberanikan diri keluar dari kamar Shin Hye, ia mengintip terlebih dahulu dari balik pintu apakah Shin hye sudah benar-benar pergi.

“syukurlah…” desahnya sambil berjalan menuju meja makan.

“ehmm enak….” Ketika sesendok nasi goreng masuk kemulutnya. “kenapa tadi wajahnya merah ya? Seharusnya aku yang malu” Hongki masih kepikiran kejadian tadi.

“blaaaamm” terdengar suara pintu depan dibanting dengan keras. Hongki reflex berdiri menuju keruang depan. Shin Hye menatap Hongki dengan wajahnya yang sudah basah oleh airmata. Shin Hye langsung berlari menuju kamarnya tanpa menyapa Hongki.

“Kau kenapa?” gumam Hongki.

Setelah setengah hari  Shin Hye mengurung diri dikamar, Hongki memberanikan diri untuk masuk kamar tersebut. Hongki berharap pintu ini tidak terkunci dan ternyata benar pintu itu tidak dikunci, Hongki melangkah masuk dengan hati-hati. Seluruh isi kamar berantakan dan terdapat robekan foto-foto berserakan dilantai. Hongki mendekati Shin Hye. Shin Hye ternyata masih menangis disudut tempat tidurnya.

“Shin Hye-shi kau kenapa? Kalau ada masalah kau bisa membaginya bersamaku” Hongki duduk disebelah Shin Hye langsung.

Shin Hye menatap mata Hongki lekat-lekat, matanya menggambarkan bahwa sekarang dirinya memang membutuhkan seorang teman untuk berbagi.

“Hongki-shii apa aku ini begitu bodoh sehingga mudah sekali untuk dibohongi?” Shin Hye bertanya kepada Hongki.

“anieo… kau tidak bodoh Shin Hye-shii, memangnya ada masalah apa?cerita saja mungkin aku bisa membantumu”

“dia membohongiku Hongki, dia tega sekali mempermainkan perasaan orang lain. Dia berciuman dengan gadis SMA dibelakang sekolah” tangis Shin Hye bertambah jadi.

“sudah kuduga, dari awal aku sudah curiga dengan gelagatnya”  gumam Hongki. Shin Hye mendongak bingung dan menangis dengan kuat. Hongki mencoba merangkul Shin Hye walaupun tangannya sedikit gemetar takut Shin Hye akan marah padanya, tapi tidak Shin Hye malah mendekat dan membenamkan wajahnya didada Hongki sambil menangis sekeras-kerasnya. Hongki langsung mendekap Shin Hye sekuat mungkin.

Hongki yang memang sudah ada perasaan sejak awal mereka bertemu dibandara sangat kesal dengan namjah yang bernama Aldo itu.

Aku sangat menyukai pribadi Shin Hye yang baik, pengertian, manis dan bertanggung jawab serta sabar. Aku tidak habis pikir kenapa Aldo begitu tega menyakiti Ssinz, padahal Ssinz tampak begitu sayang padanya.

“Hongki-shii cheongmal miane aku tidak bisa menemanimu untuk jalan-jalan hari ini, nanti bayarannya akan aku potong jadi setengah harga. Moodku sedang tidak enak” ucap Shin Hye dengan wajahnya masih didalam pelukan Hongki.

“kwenchana..aku mengerti perasaanmu sekarang, apa Aldo tadi tahu kalau kau melihatnya” Hongki bertanya dengan sedikit ragu.

“ani.. nanti aku akan menemuinya, aku tidak mau dibodohi seperti ini lagi. aku sadar kenapa aku dulu menerima dirinya begitu mudah, aku benar-benar tertipu dengan kata-katanya” Shin Hye melepaskan pelukan Hongki dan duduk menghadap Hongki, matanya yang sembab mencoba tersenyum tegar dihadapan Hongki, Hongki menaruh tangannya dikedua pipi Shin Hye dan mencubit pipi Shin Hye. Shin Hye juga menaruh tangannya dikedua pipi Hongki dan mereka pun saling mencubit pipi mereka. Shin Hye akhirnya bisa tertawa kembali walaupun masih ada sinar sedih dimatanya.

“oh ya ada sesuatu yang ingin kutunjukan padamu” Shin Hye mengambil sesuatu dari saku bajunya. Shin Hye menyerahkan ID card yang ia temukan tadi pagi. Mata Hongki langsung melebar dan mulutnya menganga melihat kartu itu.

“darimana kau mendapatkannya?” Hongki  merebut ID card itu.

“dilantai… mungkin terjatuh saat kau membongkar tasmu. Kau ini kenapa tidak jujur kepadaku bahwa kau ini seorang artis?” Shin Hye memukul dada Hongki sambil bibirnya maju kedepan.

“untuk apa aku cerita kepadamu?? Nanti aku cerita kau malah tidak percaya” Hongki memasukan ID Cardnya kedalam saku celananya.

“hyaaa kau ini actor atau penyanyi sih?” tanya Shin Hye dengan ekspresi bingungnya.

“kedua-duanya…” jawab Hongki.

“mwo?? Wah daebak!!! Aku sepertinya sudah ketinggalan jauh perkembangan di Korea. Sudah tiga tahun lebih aku tidak pulang ke Korea. Kau penyanyi solo atau boyband kah?” tanya Shin Hye.

“BAND!!! Aku vocalis sebuah band. Nama BANDku FT ISLAND, Kalau kau ada waktu kuharap kau bisa menontonku saat konser” ucap Hongki. Hongki lega Shin Hye sudah agak melupakan kesedihannya dengan membahas tentang dirinya.

“wahhh aku tidak sangka kau adalah seorang vocalis. Maukah kau menyanyi sedikit lagu dari BANDmu? Aku mau dengar…” Shin Hye merengek. Akhirnya Hongki mau bernyanyi, namun Shin Hye tidak puas kalau Hongki bernyanyi dengan tidak berdiri.

“aku mau lihat kau bernyanyi seperti kau bernyanyi dihadapan fansmu” ucap Shin Hye.

Hongki pun berdiri dihadapan Shin Hye, ia heran biasanya ia tidak pernah segugup ini saat bernyanyi. Ia merasa berbeda menyanyi untuk Shin Hye dengan nyanyi untuk fansnya. Hongki memilih lagu “It’s Love/ Saranghiya” ia mulai bernyanyi dari awal sampai akhir dengan gaya yang seperti biasanya diatas panggung. Shin Hye terpesona mendengar dan melihat Hongki yang sekarang ada dihadapannya beda sekali dengan Hongkinya yang kekanak-kanakan.

“ Bagaimana Shin Hye-shii apa kau terhibur dengan penampilanku? Kau adalah penonton yang ekslusif dapat menontonku bernyanyi langsung tanpa diiringi music, tanpa sorot lampu dan tanpa kostum dan make-up yang biasanya mendukung penampilanku” Hongki menunduk malu didepan Shin Hye, menunggu respon Shin Hye.

#plok..plok..plokkk# Shin Hye memberi applause sambil berdiri kepada Hongki.

“mulai hari ini aku akan menjadi “PRIMADONNA” dan biasku adalah LEE HONGKI” Shin Hye menjabat tangan hongki dan memeluknya. “gumawo Hongki-shii kau mau menghiburku, kalau tidak ada kau mungkin aku masih terpuruk menangisi namjah itu” Hongki membalas pelukan Shin Hye dengan mendekap tubuh mungil Shin Hye sekuat mungkin tidak peduli apakah tulang Shin Hye akan remuk karena kuatnya dekapannya.

“ Hya… Shin Hye-shii untuk menjadi fansku tidak lah mudah!!!” Hongki mengangkat wajah Shin Hye agar mendongak kepadanya. Sedangkan tangan Shin Hye masih melingkar dipinggang Hongki.

“mwo??” Shin Hye bingung dengan ucapan Hongki.

“ada beberapa syarat untuk menjadi fans LEE HONGKI, pertama kau harus benar-benar menyukai diriku baik sifatku, penampilanku dan kekurangan-kekuranganku yang kedua kau harus benar-benar mencintaiku setulusnya dan sebesar-besarnya”Shin Hye mengangguk tersenyum tanda setuju dengan syarat itu. 

Hongki menatap mata Shin Hye lekat, mendekatkan wajahnya kewajah Shin Hye dan mendaratkan sebuah kecupan di bibir merah Shin Hye. Ia tidak bisa menahan godaan tersebut, ia tidak peduli apakah setelah ini Shin Hye akan menamparnya karena telah kurang ajar. Ternyata tidak Shin Hye membalas kecupan Hongki dan melingkarkan tangannya dileher Hongki. Hongki pun melepaskan kecupannya dan menarik Shin Hye kedekapannya lagi hingga membuat tubuh Shin Hye terangkat tidak menyentuh lantai.

“saranghaeo Shin Hye-shii..saranghaeo” Hongki membisikan kalimat yang sudah dari kemarin dipendamnya. Ini pertama kalinya Hongki jatuh cinta pada pandangan pertama dengan seorang gadis. Hongki tidak peduli dengan apa yang jawaban yang dipilih Shin Hye yang terpenting baginya Ia sudah berani mengungkapkan perasaannya langsung kegadis yang disukainya.

“maukah kau menjadi yeojah-chingu ku?” Hongki menatap mata Shin Hye lekat-lekat.

“ na doo coahyo… tapi mianeo Hongki-shii aku tidak bisa menjawabnya sekarang. Aku masih harus lebih mengenalmu aku masih ingin lebih mengenal sosok Lee Hongki lebih dalam lagi” Shin Hye menggenggam tangan Hongki. Hongki tersenyum menatap Shin Hye sambil mengangguk setuju.

 

Shin Hye POV

“Hongkiaaa ayo bangun sudah siang…palii..kita hari ini akan jalan-jalan” Hongki masih tidak mau bangun juga #keterlaluan#. Kemudian mataku tergoda melihat bokong Hongki yang bohay. “PLAAAKKKK!!!”…”Auwwwwww..whae?” Hongki menjerit dan langsung terbangun, aku langsung menyudut dan tertawa terpingkal-pingkal.

“hyaaa Park Shin Hye!!! Kalau kau mengagumi bokongku tidak perlu sampai menamparnya segala”  Hongki pun beranjak bangun dan langsung membuka handphonenya.

“miane…tapi aku sudah mencoba dengan segala cara untuk membangunkanmu! Aku tidak tahan ingin memukul bokongmu” ucapku sambil menahan tawaku. Hongki menatapnya tajam sambil berjalan menuju kamar mandi. Aku langsung mengakak terpingkal-pingkal ketika ia sudah tidak ada.

“sepertinya aku akan mengajak Hongki jalan-jalan kepasar dan mencicipi makanan khas daerah ini. Dia pasti suka” aku beranjak dari kamarku dan menyiapkan sarapan pagi untuk Hongki. Setelah selesai aku langsung memeriksa mobilku yang terparkir didepan pagar.

 

HONGKI POV

“segar sekali rasanya.. Shin Hye-shii….” Aku memanggil Shin Hye tapi tidak ada jawaban, ternyata dia diluar sedang mencuci mobil. Aku tersenyum melihatnya.

“annyeong ne sarang sarang sarang” Handphoneku berdering, tumben sekali. Nomor yang tidak dikenal.

‘yeobseo…nugu ne?” sapaku.

“ne yeobseo…Hongkia bagaimana kabarmu disana? Ini aku manajer Ma” aku tersenyum senang mendengar suara manajerku.

“aku baik-baik saja hyungnim…bagaimana yang lainnya? Disini asyik sekali tampaknya aku akan lama disini”

“mereka baik-baik juga, tapi kau tahu sendiri Jonghun selalu merengek padaku menanyakan kapan kau pulang, membuat Jaejin selalu bertengkar dengannya begitupula Minhwan yang selalu murung dikamarmu dan Seunghyun sekarang menempati kamarmu, ia memakai semua pakaianmu. Tidak masalah bagiku berapa lama kau disana tapi aku harap kau bisa menjaga kesehatanmu terutama vokalmu” aku rasanya ingin berada disana mendengar kabar dongsaeng-dongsaengku. manajer Ma, dia sangat baik dan sangat pengertian dengan FT Island.

“ne hyungnim aku mengerti…. Nanti aku akan bawakan jajanan khas Palembang oke..” aku menutup Handphoneku dan ternyata Shin Hye sedang berdiri didepan kamar.

“ nugu? Apa tadi yang menelponmu itu teman-temanmu?” Shin Hye mendekatiku.

“anio..manajerku yang telpon, dia menanyakan kabarku dan kapan aku akan pulang” Aku menatap wajah Shin Hye. Ekspresi Shin Hye langsung berubah mendengarnya.

“ kapan kau akan ke Korea?” Shin Hye bertanya.

“aku tidak tahu yang jelas aku masih betah disini dan aku masih harus memperkenalkan diriku lebih jauh lagi kepadamu” aku mencubit pipi Shin Hye sambil tersenyum kepadanya.

“ah kau ini….Hongki-shii mengenai pertanyaanmu semalam aku sudah mendapat jawabannya” Shin Hye menatapku. Jantungku berdegup kencang menanti jawaban apa yang akan dipilihnya.

“aku mau menerimamu, aku sudah tertarik padamu sejak awal kita bertemu. Tapi ada satu hal yang membuatku takut” hatiku rasanya ingin melompat keluar mendengar Shin Hye menerima perasaanku.

“kau takut apa Shin Hye –shii? Apa kau masih meragukanku?” tanyaku.

“aku takut kau akan meninggalkanku apalagi kau seorang artis pasti akan banyak yang menentang hubungan kita” Aku mengangkat dagunya dan menaruh kedua tanganku dikedua pipinya.

“apa kau benar-benar menerimaku?” tanyaku dan Shin Hye menggangguk kepadaku. “maukah kau ikut aku pulang ke Korea? Aku akan mengadakan konferensi pers dan memperkenalkan kau dihadapan media. Ssinznaa aku serius menjalin hubungan denganmu dan aku tentunya sudah siap dengan segala resikonya” ucapku meyakinkannya untuk tetap tenang.

“miane..Hongkia, aku sebenarnya ingin ikut pulang bersamamu. Aku juga sudah rindu dengan kampung halamanku tapi aku masih harus menyelesaikan kuliahku disini. Aku harap kau mau menungguku sampai kuliahku selesai” Shin Hye menunduk tidak enak dihadapanku.

“kwenchana…aku akan menuggumu sampai kuliahmu selesai, kau boleh pegang kata-kataku” aku mengangkat jari telunjuk dan tengahku pertanda aku berjanji kepadanya.

“Cheongmal? Aku akan segera menemuimu setelah kuliahku selesai, aku janji” Shin Hye memelukku.

“kita akan kemana?” aku bertanya dengan Shin Hye yang asyik menyetir.

“kepasar… hari ini jadwal kita adalah..mengunjungi pasar tradisional kota ini, mencicipi makanan khas daerah ini dan aku akan mengajakmu kesebuah pulau” Shin Hye melirikku sambil menyunggingkan senyumnya.

“pulau?” tanyaku. “ne… untuk menempuh pulau itu kita harus menyusuri sungai Musi ini, kau pasti tertarik mendengar kisah tentang pulau itu. Tenang saja Hongkia kau percayakan saja padaku”

“awas kalau kau mengajakku ketempat yang aneh-aneh!!! Aku tidak akan membayarmu!!” aku menyipitkan mataku kearahnya, ia hanya senyum-senyum saja menanggapinya.

Aku tertarik ingin memotret pemandangan kota ini ketika mobil kami menyeberangi Jembatan Ampera yang berwarna merah ini. aku mengeluarkan kamera yang tersimpan didalam tas tanganku.

“ckrett!!!” aku mengarahkan kameraku dan memotret Shin Hye yang sedang menyetir.

“Hyaa…..kau ini!! Pasti wajahku jelek sekali” Shin Hye memukul tanganku.

“ahh anieo..neomu yeppeutaa^^ , aku ingin menunjukan fotomu kepada member—memberku” ucapku sambil tertawa memandangi wajah Shin Hye difoto itu.

“mwo? Yang benar saja!! Kalau mau menunjukan keorang lain itu yang bagus dong!! Oh ya kenapa tidak kau ajak saja member-membermu berlibur kemari”

“aku memang sengaja tidak mengajak mereka. Kalau aku mengajak mereka pasti mereka akan menyusahkanmu saja” aku meyakinkannya, aku langsung terbayang wajah Seunghyun, dongsaengku yang paling jahil diantara member lainnya.

“memangnya kenapa? Apa mereka lebih parah dibandingkan kau?”

“maksudmu? Apa aku menyusahkan?” aku kesal mendengar pertanyaannya.

“hyaaaaa!!!!! Sudahlah lupakan” Shin Hye malah tertawa tanpa henti sepanjang perjalanan. Memang aku sedikit membuatnya kesal diawal pertemuan kami.

Kami pun tiba dipasar yang paling besar dikota ini. Pasar yang sangat ramai dan terletak ditepi sungai Musi.

“aku akan membelikanmu ikan yang besar” ucap Shin Hye tertawa sambil mencubit pipiku. Aku tertunduk malu mengingat aku pernah mengatakan “aku akan memancing ikan yang besar untuknya” tapi sialnya tak satupun ikan nyangkut dipancinganku malah umpanku saja yang habis.

Shin Hye menggandeng tanganku menyusuri lorong-lorong disepanjang pasar yang padat dengan manusia itu. Aku mencoba mengeluarkan kameraku untuk memotret pemandangan pasar ini.

“hya…Hongkiaa sebaiknya kau jangan keluarkan kameramu disini, percuma disini sesak sekali. Bagaimana kalau kita langsung kepasar burung saja? Disana ada banyak ikan hias loh” belum sempat ku iyakan Shin Hye menggandengku berjalan dengan semangatnya.

Kami pun sampai dipasar burung itu, dimana banyak sekali hewan hias seperti hamster, kelinci, ikan hias dan burung-burung hias lainnya. Shin Hye mengajakku kesalah satu pedagang ikan yang menjual ikan Koi.

“Hongkia yang ini lucu tidak?” Shin Hye menunjuk salah satu ikan Koi bercorak oranye, hitam , merah dan putih, ikan Koi itu memang paling mencolok diantara Koi lainnya.

“ ya ini lucu, kau ingin membelinya?” aku bertanya padanya.

“ne… aku mau yang satu ini” Shin Hye berbicara dengan Bahasa Indonesia dengan pedagang itu dan aku tidak mengerti.

“apa kalian berdua pasangan? Kalian terlihat sangat cocok” pedagang itu mengatakan sesuatu kepada Shin hye yang aku sama sekali tidak mengerti dan Shin hye mengangguk sambil tersenyum senang kepada pedagang itu.

Kami berjalan kembali menyusuri pasar. Aku menggenggam tangan Shin Hye erat.

“apa yang tadi dibicarakannya? Aku tidak mengerti” tanyaku.

“dia mengatakan “kau memilih Koi yang mirip dengan kekasihmu” Shin Hye menjawab sambil tertawa. Kami menyeberang jalan dan kali ini kami menuju kepasar sayur-sayuran.

“mana mungkin!!! Tentu saja masih tampan aku dong!!” aku melihat ikan itu yang memang warna sisiknya hampir mirip dengan warna rambutku. Dari tadi sepanjang jalan orang-orang menatap kami berdua. Aku mengerti inilah salah satu menariknya berjalan-jalan kenegara lain dimana kita menjadi asing dimata orang-orang.

“aku mau masak ikan emas malam  ini” Shin Hye mengajakku memasuki pasar ikan , semua pedagang disini bertampang sangar termasuk juga pedagang ikan emas yang dihampiri Shin Hye ini, aku berdegup kencang melihat pisau yang dipegangnya,ikan-ikan itu dipotong dengan pisau yang sangat tajam itu. Shin Hye ternyata menangkap ekspresiku dan lagi-lagi ia menertawakanku.

“apa kau takut” Shin Hye mengelus pipiku.

“ani!!! Aku Cuma sedikit shock melihat ahjussi itu” Aku pura-pura berani padahal rasanya ingin berlari dari tempat ini. Ahjussi itu tersenyum padaku, dan aku pun membungkuk tersenyum padanya.

“dia suamimu? Kalian pasti pengantin baru” pedagang itu bertanya sesuatu pada Shin Hye dan Shin Hye menggelengkan kepalanya dengan wajah tersipu. Aku penasaran apa yang sedang mereka bicarakan.

“apa belanjanya sudah selesai” aku menguap ngantuk, Shin Hye cemberut mendengar perkataanku barusan.

“mianeo kwenchana…kau masih ingin belanjakan?” aku merangkulnya sebelum ia bertambah marah.

Akhirnya kami keluar juga dari pasar yang sesak itu. Shin Hye mengajakku naik sebuah kapal yang lumayan besar.

“kita mau kemana?” tanyaku, Shin Hye mengajakku duduk dikursi teras kapal.

“aku mau mengajakmu kepulau yang kubicarakan tadi, nah sekarang kau boleh mengeluarkan kameramu” Shin Hye memainkan air sungai Musi karena kapalnya yang pendek sehingga kami bisa bermain air dengan leluasa. Aku memotreti Shin Hye yang sedang asyik bermain air.

“Hongkia ayo kemari…ikut main denganku” Shin Hye menarik tanganku dan mengajakku duduk disebelahnya. Aku lumayan phobia dengan air karena aku tidak bisa berenang tapi ini demi Shin Hye. Kami pun berfoto-foto berdua disepanjang perjalanan. Aku sengaja mengambil banyak-banyak foto berdua bersamanya karena aku pasti akan lama tidak melihatnya aku pasti sangat merindukannya.

“hana.deul..sik..kimchi” aku mendaratkan ciumanku dipipi sebelah kiri Shin Hye.

“hyaa…neo!!! Kau ini malu tidak sih dilihat orang” Shin hye mendorong wajahku jauh-jauh.

“whaee? Kau kan pacarku. Lagipula siapa yang mau lihat? Kita ini sedang ditengah sungai” ocehku, ia hanya menjawabku dengan tatapan kesal.

Kami pun tiba disebuah pulau yang lumayan besar, dimana dipulau itu banyak vihara milik orang Cina. Shin Hye menggandeng tanganku masuk kedalam pulau itu. Suasana panas tapi teduh itu  menyerubungi kami membuat keringat menetes sampai kepelipis mataku. Pemandangan merah bercampur kuning dari kuil itu mempercantik pulau ini.

“Hongkia.. tempat ini dinamakan “Pulau Kemaro” dimana pulau ini terletak didaerah perindustrian seperti pabrik pupuk dan PERTAMINA. Kau lihat sendirikan disini banyak vihara-vihara Cina tempat umat Budha berziarah dan berdoa” Shin Hye mengantarkanku kesebuah vihara yang paling besar, aku memotret setiap sudut Vihara yang cantik itu, tidak lupa Shin Hye pun ikut ku potret dan lalu kami berfoto berdua dengan minta bantuan penduduk sekitar untuk memotret kami.

Shin Hye mengajakku duduk disalah satu warung milik penduduk pulau itu namun kaki dan mataku masih ingin berkeliling memotret pemandangan yang menarik ini.

“Hongkiaa istirahatlah dulu, kau pasti sudah lapar” Shin Hye meneriakiku, benar memang rasanya cacing dalam perutku meraung-raung minta diberi makan.

“Ssinz kita makan apa?” aku melihat Shin Hye mengeluarkan box makanan dari tasnya.

“pagi-pagi sekali aku sempat masak dulu. dddaaraaaa” Shin Hye mengeluarkan seperti bulatan yang mirip bakso tapi berwarna putih dan bentuknya sangat mungil. Dari baunya sepertinya terbuat dari ikan.

“bola-bola putih ini apa?” aku memotret makanan itu.

“andwae!!! Ini ekslusif buatanku!! Untuk apa kau memotretnya? Hya ini namanya “Pempek berisi telur” ucap Shin Hye dengan bahasa yang tidak kumengerti.

“hah aku mau memamerkannya pada dongsaengku nanti” ucapku.

“ini kau cicipi dulu” Shin hye mengambil salah satu bola ikan itu lalu dicelupkannya kesaus berwarna hitam yang agak encer dan berbau bawang putih dan cabe rawit. Shin Hye menyuapkannya langsung kemulutku.

“ah ajipta!!!” ucapan itu spontan keluar dari mulutku, masakannya enak sekali.

“jhinja? Kau suka?” tanya Shin Hye.

“ne cheongmalyo, aku suka. Aku suka bola ikan ini” aku mengambil satu lagi dan lagi.

“namanya pempek!!!!! Bukan bola ikan” Shin Hye mencubit pipiku.

“terserah apa saja namanya, aku suka makanan ini. Apa benar kau yang memasaknya? Berapa lama kau belajar masak bola ikan ini?”

“memasak pempek dengan rasa yang enak itu sulit, aku belajar dari ommanya Aldo. Ommanya adalah pedagang pempek rumahan, waktu itu aku sering main kerumahnya dan melihat bagaimana proses pembuatannya dan ternyata lumayan sulit. Perhitungannya harus tepat supaya pempeknya lembut dan bau ikannya tidak menyengat, ayo palliii aku masih mau mengajakmu berkeliling” Shin Hye merapikan peralatan makannya.

“Ssinznaa… apa kau masih mencintai Aldo?” aku bertanya padanya. Shin Hye menatapku lama.

“aniiaa… tapi aku masih sering teringat padanya, tapi tenang saja aku sudah terlalu kecewa padanya sehingga aku tidak lagi menyimpan perasaan padanya. Apa kau percaya padaku?” Shin Hye menarik tanganku.

“ne aku percaya padamu. Aku mengerti melupakan seseorang yang pernah dekat dengan kita adalah hal yang sulit. Aku percaya padamu” aku tidak mau melanjutkan pembicaraan ini dan langsung berlalu meninggalkan Shin Hye dan langsung melanjutkan kegiatan memotretku.

“apa kau marah?” Shin Hye menghalangi pandanganku.

“anieo… kau ini!!” aku mencubit pipinya sampai memerah.

“ah appah!!!” Shin Hye meremas tanganku.

“sudahlah ayo kita lanjutkan lagi, lupakanlah!!, oh ya kau tadi janji untuk bercerita mengenai kisah pulau ini” aku mengalihkan pokok pembicaraan. Mata Shin Hye langsung berbinar melihatku.

Shin Hye dengan semangatnya bercerita tentang sebuah kisah cinta yang pernah terjadi dipulau ini. Jujur buku kudukku sempat berdiri saat Shin Hye menceritakannya.

Tidak terasa kami hampir satu jam berkeliling pulau ini, pulau yang teduh tapi berhawa pengap. Kami kembali menaiki kapal kami tadi. Sinar matahari sore yang hangat menyelimuti kami berdua, dan lagi-lagi aku mengambil kesempatan untuk berfoto berdua.

Setibanya dirumah hari sudah gelap dan hanya rumah Shin Hye yang paling gelap dilorong itu.

“tunggu sebentar, aku seperti mendengar ada suara gitar” aku terhenti mendengar suara petikan gitar.

“ah paling itu cucunya Halmeoni depan ini” Shin Hye menunjuk rumah diseberang kami, dan memang benar ada seorang namjah yang mungkin baru meranjak remaja sedang asyik memainkan gitarnya. Aku jadi teringat Jonghun.

“Kak Ssinz tunggu dulu” namjah itu berlari dan berhenti didepan pagar rumahnya.

“ada apa  Ris? “ Shin Hye pun keluar dari pagar rumahnya dan mendekati namjah itu. Tampak namjah itu membisikan sesuatu ketelinga Shin Hye dan langsung meninggalkan Shin Hye dan kembali bermain gitar.

“whaeo? Apa ada masalah?” tanyaku.

“Ris tadi bilang kalau Aldo mencariku, Hongkia aku mau pergi sebentar untuk menemuinya, banyak yang ingin kubicarakan dengannya. Tidak apa-apakan?” Shin Hye tersenyum masam padaku.

“ne kwenchana.. apa perlu kutemani?” tawarku.

“anieo…rumahnya tidak terlalu jauh dari dan juga ada banyak sekali yang ingin kubicarakan padanya” ucap Shin Hye sambil tertunduk.

Shin Hye pun pamit meninggalkanku, ia pergi dengan mengendarai mobilnya. Aku masih terpaku didepan pekarangan rumahnya. Lalu aku tertarik melihat tetangga Shin hye yang bernama Ris sedang bernyanyi dengan bahasa yang ku tak mengerti dengan diiringi kuncangan gitarnya.

“hello Mister” namjah itu menyapaku yang sedang berjalan mendekati tempat duduknya.

“ahh hello, bolehkah aku bergabung disini #dalam bahasa Inggris yang pas-pasan# ?” pintaku.

“of course, kau pacar barunya kak Ssinz ya ?” aku Cuma mengangguk, dan matanya langsung berbinar melihatku.

“benarkah? Wah kak Ssinz benar-benar beruntung punya pacar setampan kau, tapi bagaimana dengan kak Aldo” namjah itu menaruh gitarnya dimeja depan kami.

“mereka sudah berakhir, oh ya bolehkan kupinjam gitarmu?” aku menunjuk gitar berwarna coklat maroon tersebut.

“ah tentu saja, apa kau orang barat?” tanyanya.

“tidak, aku sama seperti Ssinz dari Korea. Aku boleh minta bantuanmu? Aku mau menyanyikan sebuah lagu tentunya lagu Korea, bisakah kau membantuku untuk merekamnya?” pintaku. Aku menyerahkan handycamku. Senyum mengembang diwajah namjah itu, tampaknya ia tidak keberatan.

“ one..two…three, action” lagaknya seperti seorang sutradara saja. Aku mulai memainkan gitarnya dan menyanyikan salah satu lagu FT Island yang berjudul (I Hope).

Selesai bernyanyi aku masih melanjutkan dengan meninggalkan sebuah pesan. aku memberi kode selesai kepada namjah yang dari tadi merekamku.

“suaramu bagus sekali, apa kau seorang penyanyi? Oh ya kau tadi bicara menggunakan bahasa apa? Aku tidak mengerti” namjah itu menyerahkan handycam kepadaku.

“terimakasih atas pujiannya dan terimakasih juga kau mau membantuku, ah itu tadi bahasa Korea, oh ya suaramu juga keren” ujarku sambil tersenyum padanya.

“ah masa sih :’)” namjah itu tersenyum malu padaku. Aku pun pamit pulang kepada namjah itu.

Aku menunggu Ssinz  sambil bermain komputer yang berada diruang tengah sambil mengedit video tadi, Ssinz belum juga pulang. Aku memutuskan untuk tidur karena mataku sudah tidak mentolerirku lagi. aku benar-benar ngantuk.

 

Shin Hye POV

“Annyeonghaseo aku pulang” aku melangkah masuk kedalam rumah, semua lampu mati.

“Hongkiaa” aku memanggil Hongki tapi tidak ada jawaban, aku membuka pintu kamar dan ternyata namjah itu sudah tertidur pulas ditempat tidurku. Aku mengeluarkan selimut tebal yang kusimpan dilemari yang langsung menempel didinding sisi kanan kamarku dan langsung menyelimutinya.

“ahh kau imut juga ya saat tidur, aku tidak menyangka aku akan berpacaran dengan seorang artis sepertimu” aku mengusap kepalanya layaknya sedang menidurkan anak-anak. “ aku harap kita bisa terus bersama seperti ini, aku juga berharap kau dapat berbeda dari namjah lainnya” ucapku sambil menatap wajah Hongki yang tampaknya sudah mimpi sangat jauh.

Aku menuju ruang tengah dan memutuskan untuk bermain internet sebentar sampai mataku benar-benar ngantuk. Tapi mataku masih sangat terang dan tidak mau terpejam. Aku mencari-cari informasi tentang FT Island dan membuka youtube melihat bagaimana sosok Lee Hongki yang menjadi vocalis disuatu band terkenal itu. Aku melihat-lihat foto-foto Hongki dengan FT Island, sangat berbeda, dia sangat seperti seorang hyung dan sangat berkarisma. Dari sekian banyak foto yang kulihat mataku seolah sudah tidak asing lagi melihat salah satu asesoris yang dikenakan Hongki, lalu aku memperhatikan satu persatu dari foto-foto itu asesoris yang dikenakannya. “aku tahu!!!! Kalung!!!!! Kalung ini tidak pernah dilepasnya dari sejak awal dia debut, ya ampun tampaknya kau memang sangat menyukai tengkorak”, aku menzoom salah satu foto yang memperlihatkan jelas bagian leher hingga kepala Hongki “benar sekali itu kalung yang sama” aku tersenyum melihat pose-pose Hongki saat konser benar-benar berbeda dari aslinya yang kekanak-kanakan.

Lalu aku beralih ke youtube dan menonton salah satu variety show yang bintang tamunya adalah FT ISLAND. “oh ini member-member yang dimaksudnya” gumamku. Hongki pernah mengatakan bahwa aku pasti kualahan menghadapi member-member FTI lainnya dan ternyata benar semua member termasuk Hongki tampak benar-benar jahil apalagi salah satu yang sering bikin ulah adalah member yang bernama Seunghyun, setiap Hongki berbicara pasti yang ada diacara itu akan tertawa terbahak-bahak termasuk juga aku.

Mataku sudah tidak kuat lagi dan aku pun memutuskan kekamar untuk mengambil bantal dan selimut, aku menatap Hongki yang terlelap, mataku tertuju pada lehernya, kalung itu, “kalung ini pasti sangat berharga bagimu, kau selalu memakainya. Cute” aku mengecup dahi Hongki yang tertutup oleh poni tebalnya.

 

Keesokan harinya……

“annyeongne sarang..sarang..sarang..” handphone Hongki berdering keras memenuhi ruang kamar kecil itu. Hongki langsung beranjak bangun dan langsung membuka handphonenya dan mendekatkannya ketelinganya.

“yeobseo….” Sapa Hongki dengan suaranya yang berat.

“hyungnim….ah ye aku baru bangun tidur….mwo??” mata Hongki melebar. “whaeo? Kenapa itu bisa terjadi?.. ah ye aku akan segera pulang,..apa kalian sudah menghubungi ommanya?…kalau begitu tidak perlu, karena ommanya tinggal sangat jauh dari Seoul, hyungnim mintalah perawatan terbaik dari dokter…ah ye aku yang akan mengurusnya, dia tanggung jawabku…ah ye annyeong” aku menutup handphoneku.

“Ssinznaa…” Shin Hye ternyata duduk ditempat tidurku dari tadi. sepertinya ia mendengar semua pembicaraanku tadi.

“apa kau akan segera pulang ke Korea?” tanyanya.

“ah..ye… Ssinzna..dongsaengku, maksudku member FT Island Seunghyun, sedang dirawat dirumahsakit sekarang, ia harus melakukan operasi pada ususnya. Sebenarnya aku bisa saja memberinya dukungan melalui telpon tapi Seunghyun itu adalah tanggung jawabku, ommanya menitipkannya padaku. Aku kasihan padanya karena tinggal sangat jauh dari keluarganya, aku harus kesana sekarang kau mengerti maksudku kan?” aku duduk disamping Shin Hye.

“aku mengerti, aku bukannya egois, tapi….kau cepat sekali sudah mau meninggalkanku. ah mianeo…tidak apa-apa..Seunghyun mungkin sekarang sangat membutuhkanmu” Shin Hye menggenggam tanganku dan tersenyum pahit padaku.

“mianeo…Ssinznaa” aku memeluknya, tangis Shin hye langsung meledak dipelukanku.

“mianeo Ssinznaa…aku janji akan terus menunggumu di Korea” ucapku dan Shin Hye menatap wajahku. mata bulatnya mengisyaratkan bahwa ia sangat mengharapkan itu.

“aku juga janji akan kuliah dengan rajin agar kuliahku cepat selesai dan aku akan langsung menemuimu, Hongkiaa…aku pasti akan sangat merindukanmu, terutama suaramu yang kekanak-kanakan” Shin Hye tersenyum nyaris tertawa kepadaku.

“ah jhinjaeo? Kuliahlah dengan baik dan segeralah pulang ke korea” aku memeluknya.

“bagaimana pembicaraanmu semalam dengan Aldo, apa ia berbuat kasar padamu?” aku teringat tentang masalah Aldo.

“anieo..dia tidak mungkin menyakitiku, aku memintanya untuk mengakhiri hubungan kami, awalnya dia sempat mengelak tapi akhirnya ia menerima keputusanku. Aku juga jujur mengatakan kalau kau adalah pacarku yang baru” aku lega mendengar jawaban Ssinz.

Aku langsung membereskan semua barang-barangku, aku mendapatkan penerbangan pukul satu siang nanti. Dan mungkin besok sudah sampai ke Korea, Shin hye membantuku membereskan barang-barangku. Semuanya sudah beres, jam sudah menunjukan pukul dua belas siang. Kami pun langsung melesat menuju bandara, sepanjang jalan aku menatap wajah Shin Hye yang tatapannya selalu lurus kedepan.

Kami pun tiba dibandara, Shin Hye ikut mengantarku sampai kedalam. Sebelum aku menaiki pesawat, aku sempat bercanda dengannya.

“Ssinzna aku…hyaaaaa cepat-cepat lah selesaikan kuliahmu!!!!! Rajin-rajinlah kau belajar dan lekas pulang ke Korea!!!! Arasooo?”

“NEOO!!!! Arayo!!! Kau juga awas kalau kau melirik yeojah lain di Korea!!” Shin Hye mengembungkan pipinya.

“araso!!!! Hyaaaa aku sudah harus pergi sekarang, Ssinzna kau jaga kesehatanmu, jangan lupa untuk mengunci pintu rumahmu karna jujur aku cemas membayangkan kau tinggal seorang diri tanpa seorang chingu, oh ya aku juga titip salam untuk Ris ya, aku belum sempat pamit kepadanya dan bilang aku berterimakasih atas pinjaman gitarnya” ucapku.

“Ris? Ah ye ye…kau tidak perlu mencemaskanku, kau juga jangan sampai telat makan walaupun sesibuk apapun jadwalmu, kau tetap harus jaga kesehatanmu. Aku tidak mau saat aku melihatmu lagi kau sudah kurus dan tidak segar” Shin Hye menaruh tangannya dipipiku.

Penerbangan menuju Jakarta pun sudah dibuka, aku langsung memeluk Shin Hye untuk terakhir kalinya. Dan langsung pergi meninggalkannya. Shin Hye melambaikan tangan kearahku, aku pun membalasnya.

 

Shin Hye POV

“Annyeonghaseo” aku memasuki rumahku, kosong, luas, dan sepi. Benar-benar berbeda dari suasana tadi pagi saat masih ada Hongki. Aku merebahkan tubuhku ditempat tidur, mataku menerawang seisi kamar. Tiba-tiba tanganku seperti menyentuh sesuatu dibalik bantal.

Aku langsung mengangkat bantal itu, dan terduduk sebuah kotak berwarna pink dengan atasnya bergambar Tengkorak, aku langsung membukanya.

Mataku terbelalak melihat isinya.

“ini kan kalung Hongki!! Pasti dia tidak sengaja meninggalkannya. Aku mengangkat kalung itu dan ternyata ada selembar kertas didalam bantalan kecil kotak itu. Aku membukanya.

Dear Ssinznaa
 
Aku mau menitipkan kalung ini padamu. Aku mohon kau menjaganya, jangan sampai hilang karena kalung ini sangat berharga bagiku. Sebenarnya aku ingin memberimu cincin sebagai tanda jadi kau itu milikku, tapi aku tidak tahu dimana toko perhiasan dan aku juga tidak tahu jalan. Aku mohon kau menjaga kalung ini, ini sangat berarti bagiku mungkin kelihatannya seperti tidak berharga tapi kalung ini sudah menggantung dileherku sejak aku berumur 10 tahun. Aku harap kau memakainya ARASO!!!!! Saranghaeo Ssinznaa… cepatlah kau pulang!!! Aku menunggumu…saranghaeo..saranghaeo…

Oh ya kalau kau sudah membacanya cepat kemeja komputer ada sesuatu untukmu.

Aku tersenyum membaca surat itu, aku langsung memakai kalung itu. Kalung ini sangat lucu, sama seperti pemiliknya. Aku langsung menuju meja komputer dan mencari ada apa dimeja itu, aku menemukan sebuah memori card kecil terselip diantara tumpukan-tumpukan kertas dimejaku. Aku langsung membukanya dikomputerku melihat apa isinya.

Ternyata memori itu berisi foto-foto kami berdua, ada juga foto-fotoku yang sedang bengong. Aku membuka file video yang terselip diantara foto-foto itu dan ternyata itu slide foto-foto kami berdua, slide itu diiringi dengan lagu yang pernah dinyanyikan Hongki saat menghiburku yang sedang patah hati. Lalu tiba-tiba muncul Hongki yang sedang bermain gitar sambil menyanyikan sebuah lagu yang liriknya sangat menyentuhku, “ inikan gitarnya Ris, kapan dia membuat video ini?”  selesai menyanyi ternyata Hongki meninggalkan pesan untuknya.

“Ssinznaa mungkin ketika kau melihat video ini aku sudah di Korea, lagu ini mewakili isi perasaanku padamu. Aku akan selalu menunggumu di Korea, tidak tahu berapa lama kau akan menyelesaikan kuliahmu tapi kuharap kalau sudah selesai cepatlah kau ke Korea. Jangan buat aku menunggumu lama. Aku mohon. Aku juga mau mengatakan gamsahamnida kau sudah mau menemaniku berjalan-jalan dikota ini, lain kali kalau kau sudah pulang ke Korea aku akan mengajakmu jalan-jalan ke Jepang. Aku janji, untuk itu cepatlah kau selesaikan kuliahmu dan kembali ke Korea karena aku pasti sangat merindukanmu” tanpa sadar airmata menetes diwajahku.

Aku benar-benar tidak menyangka Hongki akan membuat sebuah video seperti ini padanya. aku langsung mengirimi Hongki sebuah pesan di e-mailnya. Aku mengirimkan sebuah foto dimana foto itu diambil saat kami jalan-jalan di Pulau Kemaro.

“jangan lupakan moment ini ya Hongkiku” send. aku mengirimi pesan ke e-mailnya.

 

2 tahun kemudian….

Hongki POV

“Saengil chukahamnida Hongkia” ucap make-up artisku yang sudah bekerja dengan kami sejak awal debut kami. Dia tersenyum menatapku dari cermin sambil menata rambutku.

“Gumawoyo nuna…”aku tersenyum menatapnya dari cermin.

“hari ini merupakan konser tunggal yang sangat kalian tunggu-tunggu bukan? Konser ini berbeda dari konser-konser  kalian sebelumnya, aku benar-benar tidak menyangka tiket konser ini segera habis hanya dengan hitungan menit, kau tahu 10000 orang itu bukan jumlah yang sedikit. Aku turut merasakan bahagia yang kalian rasakan, ini pasti kado yang manis dihari ulangtahunmu kan?” nuna tersenyum kepadaku.

“ah ye..tentu nuna, aku akan melakukan performa terbaikku, maksudku kami. Gumawoyo nuna kau sudah lima tahun bersama kami, kau benar-benar sabar menghadapi kami yang badung-badung ini, kau juga tidak pernah mengeluh kepada kami” ucapku.

“ne cheonmaneo..semoga konser emas kalian kali ini sukses. Sudah selesai, sekarang kau sudah sangat tampan” nuna menggodaku dan langsung meninggalkanku. Semua member pasti sedang berada diruang ganti, aku langsung menuju keruangan mereka.

“hyung…..cepat kemari!!” Seunghyun menarik tanganku dengan cepat.

“hari ini merupakan hari jadi FT Island yang kelima tahun, untuk itu kita harus memberikan yang terbaik untuk Primadonna. FT ISLAND fighting!!!!” kami berlima menyatukan tangan kami dan berseru semangat.

“apa mereka sudah lupa kalau hari ini juga ulangtahunku” gerutuku.

“Hongki-kun…ada paket untukmu” seorang crew masuk keruangan kami dan memberikan sebuah kotak yang ukurannya sebesar kotak makanan. Mungkin ini dari fansku.

“ah arigato gozaimasu, sepertinya ini dari fansku” lelaki itu menunduk kearahku dan tersenyum meninggalkanku. Semua member saling menatap satu sama lain lalu menatapku penasaran.

Aku langsung membukanya, dan benar itu adalah kotak makan. Apa isinya. Aku membuka kotak makan cantik itu dan mataku langsung terbelalak menatap isinya. “Bola ikan!!!” aku langsung teringat akan Shin Hye aku melihat ada selembar kertas didalam sampul kotak makan itu.

“apa itu?” Minhwan mendekatiku dan tangannya langsung menjulur berniat ingin mengambilnya, spontan tanganku menampar tangannya.

“andwae!!!” bentakku.

“Hya hyung…kau ini pelit sekali!! Kau ini biasanya tidak seperti ini, kau aneh” Minhwan meneriakiku. Jaejin langsung mendekatiku.

“whaeo hyung?” tanya Jaejin. Aku langsung sadar bahwa aku tadi membentak Minhwan, Minhwan cemberut menatapku. Jonghun mencoba menenanginya.

“anieo… Minanii mianeoo hyung tidak bermaksud untuk membentakmu, tapi nanti aku akan ceritakan alasanku membentakmu” aku langsung menutup kotak makan itu dan langsung duduk disofa putih disudut ruangan ganti itu dan membaca suaratnya.

Dear Hongki
 
Hyaaaa,,,, apa kau masih ingat makanan ini? Ahh aku yakin kau pasti lupa :p , Hyaaa aku sekarang ada disalah satu diantara lautan Primadonna, kau harus melakukan yang terbaik, kalau kau sudah selesai temui aku di TOKYO TOWER, araso!!! FT ISLAND fighting!! Lee Hongki fighting!!! Saranghaeooooo

“Ssinznaa..kapan kau tiba disini?” gumamku.

“Hongki hyung..ayo sudah saatnya kita kepanggung” Seunghyun memanggilku, aku tidak tahu jantungku rasanya berdegup kencang. Aku menyimpan kertas itu disaku celanaku. Aku sempat mengambil salah satu bola ikan itu dan memakannya ternyata rasanya tidak berubah masih sama seperti yang pertama kali kumakan.

Sepanjang konser berlangsung mataku menyapu seisi lautan primadonna itu mencari sosok yang sedang kucari. Namun tidak kutemukan juga, rasanya aku ingin cepat-cepat ke Tokyo Tower.

“ahh akhirnya acara berlangsung dengan lancar, kalian memang professional” Manajer hyungnim merangkulku.

“wah….aku juga tidak menyangka penontonnya akan sebanyak itu, Hongkiaa kau benar-benar keren tadi” Jonghun merangkulku juga.

“ah ye..kalian juga keren. Ah hyungnim apa aku boleh pergi sekarang?” aku menatap manajer kami.

“kau mau kemana? Hyaa tidakkah kau merasa lelah setelah seharian ini kau berlatih dan langsung tampil diatas panggung, sebaiknya kau istirahat dan makan-makan bersama kami” Ma-hyungnim membujukku. Semua member juga menatap bingung kearahku.

“tidak apa-apa aku menyusul saja nanti. Aku ada urusan penting sekarang” aku langsung berlari meninggalkan mereka.

“Hya Hongki hyung” Minhwan berteriak memanggilku, aku Cuma menoleh dan tersenyum kearahnya dengan kakiku yang masih tetap berlari.

Aku langsung naik sebuah taksi dan minta diantarkan langsung ke Tokyo tower. Akhirnya kami pun sampai, aku tepat berada dilantai dasar menara itu, aku menyusuri sekelilingnya tapi tidak melihat seorang yeojah yang kukenal. Aku langsung masuk dan langsung menuju kelantai atas menara itu. Angin berhembus cukup keras sedangkan aku masih mengenakan pakaian konserku yang hanya kaus putih tanpa lengan dengan motif tengkorak, rambutku pun masih tertata. Cuaca dingin itu tidak menyurutkanku untuk naik kelantai yang paling tinggi. Aku melihat seorang yeojah yang sedang berdiri mengenakan jaket jeans dengan mengenakan topi hitam, rambutnya lurus sebahu dan dilehernya berlilit syal berwarna biru. “apa dia Ssinz, tapi rambutnya panjang!!” aku melangkah ragu. Yeojah itu berbalik kearahku.

“kau sudah datang” aku terkejut, mataku nyaris meloncat keluar. Memang benar itu Shin Hye, aku nyaris tidak mengenalinya, rambutnya panjang.

“apa kau Ssinz?” tanyaku dengan ragu.

Yeojah itu mendekatiku dan langsung memelukku.

“ne…Hongkia aku sangat merindukanmu” aku langsung memeluknya hingga tubuhnya terangkat.

“hyaaa kenapa kau tidak bilang padaku kau sudah pulang!!! Aku kan bisa menjemputmu!! Apa kau langsung kemari?” tanyaku sambil memegang pipi Shin Hye yang pucat karena cuaca dingin, tapi bibirnya yang merah itu tiada hentinya tersenyum kepadaku.

“aku seminggu yang lalu sudah pulang ke Korea, aku sengaja tidak memberitahumu, kalau kuberitahu nanti sudah bukan kejutan lagi dong!!! Kau tadi sangat keren, aku benar-benar bangga punya pacar sepertimu” aku memeluknya lagi, aku tidak tahu mau mengatakan apa, aku Cuma ingin mendekapnya saja dan melepaskan perasaan rinduku yang sudah lama tertimbun. Aku menatap matanya lekat-lekat, aku benar-benar senang dapat melihat mata bulat indah itu. Aku langsung mendekatkan wajahku dan mendaratkan bibirku dibibir merahnya, tangannya langsung melingkar dileherku. Ciuman yang lama dan hangat itu menghangatkan suasana dingin diatas menara ini. Aku seolah tidak mau lagi melepaskan ciumanku dari bibirnya.

“Hyaaaa Hongkiaaa…ternyata kau disini. Nugu ne?” kami berdua spontan melepaskan ciuman kami ketika mendengar suara seseorang memanggil namaku, dan ternyata itu Ma-hyungnim dan member FT Island yang menyusulku kemari, tapi aku tidak lihat Minhwan, mungkin ia masih marah padaku.

“oppa….” Shin Hye langsung berlari memeluk Ma-hyungnim.

“apa kalian saling kenal?” aku mendekati mereka.

“hyaaa aku tidak menyangka ternyata yeojah yang sering kau bicarakan itu adalah adikku, pantas saja kau tampak tergesa-gesa ingin kemari, ternyata kau ingin bertemu pacarmu” Ma-hyungnim menggodaku.

“mwo? Adikmu? Maksudmu…”aku terbata-bata. aku masih bingung dengan yang mereka katakan.

“ne… Shin Hye merupakan adik perempuan hyungnim” Jonghun merangkulku.

“hya…Jonghun kau kenapa bisa tahu?” aku meliriknya dengan wajah penasaran.

Belum sempat Jonghun menjawab tiba-tiba…

“saengil chukahamnida…saengil chukahamnida..saranghaneun uri Hongki..saengil chukahamnida….” Aku terkejut melihat Minhwan datang dengan menyanyikan lagu selamat ulangtahun dan membawa kue ulangtahun berwarna pink hitam dengan ada ornamen tengkoraknya yang terbuat dari coklat putih, ia mendekatiku.

“ayo tiup lilinnya” Shin Hye berdiri disampingku.

Aku langsung meniup lilinnya dan menutup mataku untuk make a wish.

aku berniat memotong kueku “tunggu dulu….Jonghun kau belum menjawab pertanyaanku!!!” aku menatap Jonghun dengan bingung.

“Hongkia…sebenarnya kami sudah satu minggu merencakan ini. Shin Hye datang ke Korea seminggu yang lalu dan Hyungnim mengenalkannnya ke kami, Shin Hye mengatakan kalau dia juga seorang Primadonna dan ia ingin bertemu denganmu, dia juga mengatakan kalau dia adalah pacarmu tapi karena ide dari si jahil Seunghyun untuk menahannya sampai tepat dihari ulangtahunmu, akhirnya terjadilah hari ini. Saengil chukahamnida Hongkiaa” Jonghun memelukku. Dan langsung disusul Minhwan, kemudian Jaejin.

Aku langsung menyipitkan mataku kearah Seunghyun, ia tersenyum nakal padaku dan langsung memelukku.

“Mianeo hyung….saengil chukae hyung. Kuharap kau senang dengan surprise kecil ini” Seunghyun memelukku erat.

“Ah gumawoyo kalian semua sudah menyiapkan surprise yang luar biasa ini, oh ya hari ini aku mau kenalkan secara pribadi sosok yeojah yang selama ini membuatku uring-uringan dan rindu setengah mati, kenalkan ini yeojahchingu yang selama ini kuceritakan, Park Shin Hye, jagia gumawo atas surprisenya” aku merangkulnya. “kau juga tampak cantik dengan rambut panjangmu” aku membuka topi Ssinz dan mencium dahi Ssinz.

“Hyaaaaa….kalian ini!!!” Ma-hyungnim meneriaki kami berdua.

“Hongkia masih ada satu lagi kado untukmu!!!” Jonghun menarik Shin Hye dan merangkulnya.

“mulai besok yang mengurus kita selama satu bulan kedepan adalah Ssinz-shii” Jonghun merangkul Ssinz dan membuatku kesal.

“Hyungnim..kau mau berhenti jadi manajer kami?” aku sontak terkejut mendengarnya.

“anieooo,, aku Cuma pergi sebentar ke China, aku ingin melamar calon istriku dan menyiapkan perlengkapan pernikahan kami” Ma-hyungnim tersipu malu.

“ahhh…kau kenapa tidak bilang kau mau menikah!!!!” aku merangkul Ma-hyungnim.

“oh Ssinz…mana kalungku?” aku menarik Ssinz dari rangkulan Jonghun.

“ah..kau ini berlebihan sekali, ini aku masih memakainya” Ssinz melepaskan kalung tengkorakku dari lehernya. Dan memasangkannya padaku.

“aku membuat kembarannya Hongkiaaa” Ssinz mengeluarkan seuntai kalung yang sangat mirip dengan kalungku, tapi ada sesuatu yang beda. Ternyata yang beda adalah dikepala tengkoraknya terdapat pita. “hyaa….kenapa tidak sekalian kau beri rambut saja tengkoraknya, atau lebih cantik kau pakaikan hanbok saja” aku mencubit pipi Ssinz.

Hari ini merupakan ulangtahun yang paling berkesan dan bahagia sepanjang ulangtahunku sebelumnya. Aku senang dapat melihat Shin Hye lagi, bahkan ia akan selalu berada didekatku dan bekerja dengan kami. Tidak sia-sia aku menunggunya selama dua tahun dan ternyata dia benar-benar menemuiku. Saranghaeo Ssinznaa….

The end…….

 Author : IntanOngkia
Please leave comment and give ur advise, we always need it!! ^_^

gamsahamnida

Your appreciation please....

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s